Assalaamualaikum
kumpulan Skripsi, Tesis, Disertasi, Penelitian Tindakan Kelas, Makalah, MP3, Perangkat Pembelajaran, serta Ebook ini Hanya sebagai Referensi, bukan untuk di Jiplak atau di Contek, Segala Akibat yang ditimbulkan dari penyalahgunaan di luar tanggung jawab Kami..
Jika anda berminat dengan referensi yang ada pada kami silahkan kirim email ke pusatilmiah@gmail.com, jika ingin lebih cepat ditanggapi silahkan hubungi 085793453975
terima kasih
wassalamualaikum
Legal Warning
DEMI KEPENTINGAN AKADEMIS, DIGITAL LIBRARY MEMPUBLISH KARYA CIVITAS AKADEMIKA. BAGI ANDA YANG MENGUTIP ISI DARI HASIL PENELUSURAN MEDIA INI, HARAP CANTUMKAN SEBAGAI SITASI PADA KARYA ANDA.
DIGITAL LIBRARY TIDAK MENANGGUNG SEGALA BENTUK TUNTUTAN HUKUM YANG TIMBUL ATAS PELANGGARAN HAK CIPTA MELALUI MEDIA INI. (KEPENTINGAN DI LUAR AKADEMIS MENJADI TANGGUNGJAWAB YANG BERSANGKUTAN)
Kamis, 20 Maret 2014
Kesaksian Jiwa [Ruh] Menurut Al- Quran ( Study Analisis Tafsir Q.s. Al-Araaf [7]: 172)
Mempercayai adanya roh adalah salah satu keyakinan yang diajarkan Qur'an dan mempercayai soal-soal gaib merupakan salah satu sendi keyakinan beragama. Semua agama ditegakkan atas dasar keyakinan itu, dan dengan keyakinan itu perasaan manusia menjadi tentram. Akan tetapi kepercayaan mengenai soal-soal gaib sebagaimana diajarkan al-Qur'an mempunyai kelebihan istimewa karena kepercayaan tersebut tidak membekukan akal orang-orang yang beriman, tidak menghilangkan kewajiban yang dipikulkan kepada manusia dan tidak melenyapkan peranan akal yang sadar akan tanggung jawabnya. Kepercayaan mengenai roh itu justru merupakan perwujudan dari keberadaan iman dan islam, yaitu: menyerahkan segala sesuatu kepada Allah. Seiring dengan hal tersebut, seakan-akan manusia harus menerima tanpa berusaha, lupa atau dilupakan menjadi tidak pernah mengingat kembali apakah kecenderungannya untuk ber-Tuhan itu memang sudah tertanam sejak zaman azali ataukah kecenderungan itu lahir dari lelehur mereka? Kebanyakan dari kita dalam menafsirkan tentang roh, hanya terjebak pada tataran bahwa roh itu urusan Tuhan bukan urusan manusia, parahnya lagi kalau roh itu dilihat dari kaca mata kaum teolog, mereka pasti disibukkan dengan perkataan apakah roh itu makhluk atau bukan dan masih banyak yang lainnya. Al-Qur'an juga menyatakan bahwa manusia telah dinobatkan menjadi kholifah dan diberi kebebasan mutlak dan tanggung jawab atas amanah yang diberikan. Itu artinya, setiap manusia harus menjaga dan memelihara apa yang diamanahkan kepadanya, sebagaimana aturan dasar amanah dalam syar'i. Jika saja dalam masa pemeliharaan terjadi kerusakan atau kemusnahan, manusia harus dan harus mempertanggungjawabkannya. Apakah dengan mengganti, merekontruksi, atau mendapat sanksi, setidaknya sanksi moral. Dalam pengertian ini, bila dikaitkan dengan pengambilan perjanjian yang dilakukan manusia dihadapan Tuhan, sebelum manusia dilahirkan, maka pertanggungjawaban menjadi hak mutlaq dan tidak bisa ditawar-tawar oleh manusia Dengan demikian karena manusia tidak bias mengelak dari tanggung jawab. Seharusnya perlu diadakan dialektika ulang dalam mencari makna roh yang ada dalam jasad manusia, bukan wujudnya melainkan peran roh dalam menentukan masa depan kita. Dalam al-Qur'an roh merupakan aura positif dan jiwa (nafs) adalah aura negatif. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia diciptakan harus memilih, memilih baik atau memilih buruk. Maka dalam skripsi ini, penulis menfokuskan pada masalah Apakah kesaksian ruh dalam kandungan merupakan fitrah bagi setiap manusia yang akan dilahirkan (analisis surah Al-'Araaf [7]: 172)?. Serta bagaimanakah penafsiran para Ulama'dan apa relevansinya kesaksian itu pada diri manusia, baik itu dari konteks masa lampau dan konteks masa sekarang?. Analisa singkat dari permasalahan di atas mengidentifikasikan adanya Perjanjian yang fitrah dilakukan semua anak cucu Adam di hadapanTuhan, sebagai jalan pembuktian bahwa Allah akan minta pertanggung jawaban mereka, baik itu yang Islam maupun bukan, dan kelak mereka tidak bisa berkata " ini kesalahan nenek moyang kami", karena menyekutukan Engkau ya Allah. Ini bukan salah kami.
Studi Kritis Terhadap Hadits Nabi Tentang Talqin Mayyit dengan Membaca Tahlil dan Yasin
Talqin adalah amalan yang biasa dilakukan oleh umat Islam kepada orang yang meninggal dunia. Bahkan ini sudah menjadi budaya. Sehingga, ketika ada orang yang meninggal dunia tidak ditalqinkan, seakan hal itu adalah sebuah pelanggaran adat. Talqin sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat Islam dalam menolong saudaranya yang meninggal dunia. Sudah menjadi tradisi yang tertutup dari kritik. Talqin biasanya dilakukan ketika orang yang ditalqin tersebut sudah meninggal dunia, ketika sudah dikebumikan. Dengan memberikan pertanyaan beserta jawaban seputar tauhid, yang dilakukan oleh tokoh agama masyarakat setempat. Itu dilakukan diatas kubur orang yang sudah meninggal. Tradisi lain yang sudah mengakar di masyarkat Islam adalah membaca Surat Yasin kepada orang yang sudah meninggal dunia, baik sebelum dikuburkan atau setelahnya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah ajaran talqin dan membaca Surat Yasin sesuai apa yang diajarkan Nabi? Itulah yang mencoba penulis telusuri dalam skripsi sederhana ini. Setelah melakukan penelitian, hadits yang menerangkan talqin secara kualitas bisa dikatakan shahih, karena tidak ada satu rawi pun, dalam dua jalur yang diteliti (Abu Said Al-Khudri dan Abu Hurairah), yang terdapat kecacatan. Sehingga, hadits tersebut secara yuridis dapat dijadikan pijakan hukum pengamalan. Adapun hadits tentang membaca Surat Yasin yang di riwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Abu Dawud dari Ma'af qil bin Yasar ternyata berstatus dlaif, karena ada dua rawi yang majhul, yaitu Abu Abdullah Al-Hafid dan Ubaid bin Abdul Wahid bin Syuraik. Dengan demikian, hadits tersebut tidak dapat dijadikan sebagai hujjah atau legitimasi pengamalan membaca Yasin kepada mayyit. Interpretasi ulama tentang kedua hadits tersebut mengatakan bahwa yang dimaksud dengan redaksi orang-orang mati (mautakum) dalam kedua hadits tersebut adalah orang yang sedang dalam keadaan menjemput ajal (sakaratul maut), bukan orang yang sudah meninggal dunia, apalagi sudah dikuburkan. Inilah pendapat yang telah mendapatkan kesepakatan ulama, disetujui.
Penafsiran Sufi Surat Al-Fatihah dalam Tafsir Tāj Al-Muslim dan Tafsir Al-Ikl Karya KH. Misbah Musthofa
Tafsir bercorak sufi sangat jarang ditemukan. Namun hal itu bukan berarti tidak ada, karena dalam tafsir Al- Muslim dan Al-Ikl karya KH. Misbah Musthofa ditemukan nuansa sufisnya dalam surat Al-Fatihah. Dan dalam penulisan skripsi ini, penulis mengkaji dimensi sufistik dalam dua tafsir karya KH. Misbah Musthofa, Al- Muslim dan Al-Ikl yang difokuskan pada satu surat yaitu al-Fatihah. Skripsi penulis yang berjudul Penafsiran Sufi surat al-Fatihah dalam tafsir Al- Muslimdan al-Ikl karya K.H. Misbah Mustofa bertujuan untuk mengetahui (1) Bagaimana dimensi sufi tafsir surat Al-Fatih dalam tafsir Taj Al- Muslimin dan al-Iklil karya K.H. Misbah Mustofa? (2) Apakah kekurangan dan kelebihan tafsir Taj Al- Muslimin dan al-Iklil karya K.H. Misbah Mustofa dalam menafsirkan surat al-Fatihah? Penulisan skripsi ini menggunakan jenis studi dengan mendasarkan diri pada penelitian pustaka (literar research) dengan metode kualitatif yang menggunakan data dari sumber-sumber primer maupun sekunder. Yang pertama tentunya karya-karya K.H. Misbah Mustofa, dan laporan-laporan penunjang baik dari media cetak maupun audio visual. Penelitian ini menghasilkan data-data deskriptif berupa rangkaian tulisan dari beberapa orang tentang K.H. Misbah Mustofa dan karyanya, terutama dalam tafsir Al- Muslim dan Al-Ikl yang penulis fokuskan pada surat al-Fatihsehingga diperoleh data dan analisa yang komprehensif. Dari hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa, Al-Fatih dalam tafsir Al- Muslim dan al-Ikldinilai penuh dengan makna spiritual. Ke-tujuh ayat Al-Fatih nuansa sufi sangat terlihat pada ayat ke lima, dimana terdapat pembagian ibadah dalam tiga tingkatan ibadah, yaitu ibadah rendah, tengah dan tinggi. Selain nuansa sufi dalam tafsir, terdapat kelebihan dan kekurangan dalam tafsir: Al- Muslimdan al-Ikl. Kelebihanya. yaitu : mudah dipahami karena uraiannya menggunakan bahasa yang sederhana. Untuk lebih mempermudah pembaca, beliau menggunakan makna gandul yang disertakan pada setiap ayatnya. Karena disamping bisa mengetahui makna kata perkata (mufrodat), juga secara langsung dapat diketahui gramatikanya (nahwu . Kekuranganya, yaitu : dari sisi redaksional dalam tafsir Al- Muslimdan Al-Ikldianggap kurang memenuhi pra-syarat karya ilmiah karena banyak sekali hadits yang diungkapkan dalam bahasa Jawa dan tanpa disertai sanad yang lengkap, dan juga klasifikasi al-Qur’an ini dinilai lemah, karena segala sesuatu dibedakan dalam dualisme dunia dan akhirat. Hal ini menjadikan ayat menjadi misteri yang sulit, yang signifikasi dan tingkatan nilainya, yang tentunya bertentangan dengan tujuan dasar wahyu, yaitu membentuk masyarakat muslim yang ideal.
Penafsiran Ayat-ayat Sumpah Allah Menurut Kitab Al-Tafsir Al- Bayani lil Quran Al-Karim Karya Aisyah Bint Al-Syathi, Tafsir Ibn Katsir Karya Ibn Katsir dan Jamiul Bayan 'an Tawili lil Quran Karya At-Thabari
Dalam Tafsir Aisyah bint al-Syathi, tafsir Ibn Katsir dan at-Thabari dapat di temui beberapa ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang makna ayat sumpah Allah yang terdapat pada surah-surah pendek dalam al-Quran seperti surah adh-Dhuha, surah al-Balad, an-Naziat, al-Ashr, asy-Syams, al-Adiyat, at-Tin dan sebagainya. Al-Quran adalah sebagai kitab suci yang berkarakteristiknya mengandung beberapa uraian yang sangat singkat dalam menunjukkan sesuatu, akan tetapi juga mengandung prinsip-prinsip dasar sebagai petunjuk agar manusia dapat mengambil sebuah perkataan yang mereka ucapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Seperti mengucapkan Demi Allah, Billahi, Taallahi itu semua hanya menunjukkan rasa kemantapan hati agar ucapannya itu tidak melanggar kata sumpah, oleh karena itu Allah juga melarang manusia untuk mengucapkan nama selain Allah dan oleh sebab itu orang yang salah mengucapkan sumpah termasuk orang syirik. Dalam al-Quran sendiri Allah juga memberikan penjelasan adanya kata sumpah yang meliputi sumpah terhadap nama-nama makhluk-Nya, seperti demi waktu malam, demi waktu siang dan waktu pagi, demi malaikat-malaikat, demi binatang-binatang, demi matahari, demi fajar dan lain sebagainya. Metode penelitian skripsi ini bercorak Library Research yaitu dengan mengupas secara konseptual dengan cara menulis, mengedit dan menyajikan data serta menganalisisnya. Dalam arti di semua sumber datanya berasal dari bahan-bahan tertulis yang telah berkaitan dengan topik yang telah dibahas dan adanya pengumpulan data ini bersumber dari data primer yaitu al-Quran. Dalam analisis ini penulis menggunakan Analisis Content yaitu berdasarkan data-data penulis mengungkapkan penafsiran dari kitab Tafsir Ibn Katsir, Kitab al-Tafsir al-Bayan lil Quran al-Karim karya Aisyah bint al-Syathi dan kitab Jamiul Bayan an Tawili yil Quran karya at-Thabari, yang berjudul Penafsiran Ayat-ayat Sumpah Allah dalam al-Quran{Studi komparatif antara Kitab al-Tafsir al-Bayan lil Quran al-Karim Aisyah bint al-Syathi) dengan kitab Tafsir ibn Katsir dan kitab Jamiul Bayan an Tawili yil Quran (at-Thabari ). Oleh karena itu masing telah mempunyai konteks pembicaraan yang berbeda-beda, sehingga ada perbedaan dalam metode dan persamaan dalam menafsirkan terhadap surah-surah pendek yang diawal ayat yang mempunyai arti dan maksud kata-kata sumpah Allah dengan masing-masing telah mempunyai konteks makna sumpah yang sama-sama pula. Ungkapan mengenai makna sumpah Allah menurut Aisyah bint al-Syathi, tafsir Ibn Katsir dan at-Thabari menyatakan dalam surah adh-Dhuha dengan maksud demi malam dan demi pagi berpendapat bahwa dipagi hari kita sebagai manusia harus giat bekerja sampai malam hari kita dapat mengistirahatkan agar dipagi hari yang cerah lebih giat, surah al-Balad menjelaskan bahwa adanya makna betapa indahnya bila kita tinggal di negeri kabah, surah an-Naziat juga menjelaskan adanya para malaikat-malaikat yang akan mencabut semua nyawa para makhluk-Nya dan tidak ada satu pun yang mengetahui kebesaran dan rahasia-Nya. Penafsiran Aisyah bint al-Syathi, tafsir ibn Katsir dan at-Thabari mengenai makna sumpah Allah dalam konteks pemahaman al-Quran, menurut penulis telah memperlihatkan corak yang khas dan serta dapat memperkaya khazanah pemahaman al-Quran yang berharga bagi umat untuk dapat menghayati, memahami agar maksud al-Quran itu sebagai petunjuk dan rahmat yang dapat tercapai dengan baik serta dapat meluruskan jalan kehidupan.
Global Warming In The Qurān Thematic Studies Of The Quranic Verses With Muhammad Shahrūr Hermeneutic Approach
This paper tried to give different explanation about global warming phenomena with thematic studies of the Quranic verses. The writer saw that global warming is contextual problem. Global warming is widely discussed in the news today and scientists in many fields are concerned about it. The increase in the made emission of greenhouse gases was the cause for global warming. Global warming was the observed and projected increases in the average temperature of Earth's atmosphere and oceans. The problem of global warming is regarded as one of the most serious environmental problems of our time. We could not find anything about global warming problem with textual comprehension in the Quranic verses or Sunnah tradition, but with contextual comprehension these problems were actually explained. Many statements in the Holy Qurān invite us to try to see the important events that already passed that can be used as lessons for this generation or that in the future. In the light of Muhammad Shahrūr with his background as scientific figure used the science logic and modern linguistic to approach for interpreting al-Qurān. His assumption was nothing contradiction between reality, mind and al-wahyu. He explained that his approach to understand of Holy Qurān was benefit in the science development. Muhammad Shahrūr has interpreted al-Qurān with hermeneutic approach, clarified that al-Qurān as divine revelation al-wahyu for mankind was sent down to be known and understood for all. Allāh exalted is He, has given guidance for human to open the secret message of Allāh. I tried to read and interpret al-Qurān with the intertextuality to explain the global warming problems. I merged the combination between thematic method of al-Qurān and intertextuality as a Shahrūr method to describe the global warming concept in the Quran in the light of Muhammad Shahrūr hermeneutic approach. Al-Qurān has described the natural problem in the heaven and earth. The Order to read and recite al-Qurān for application was very important, besides about the phenomena in the cosmos. The signal of global warming was clarified and described by the Quranic verses like: global warming phenomena {QS.al-Rūm [30]: 41-42}, greenhouse effect and ozon depletion {Sabā[34]: 9; QS.al-Mulk [67]: 16-18}, mischief and any damage, natural disasters such as tornadoes, hurricanes, floods, and droughts, tsunami, oceans suffered to burst forth, {QS.al-Infitār [82]: 1-19, QS.al-Mulk [67]: 16-18}, and another verses. The act of god currently a like disaster, damage, mischief on the earth and heaven and global warming which all of them have been resulted by human factor or only process of natural occurrence. Global warming disaster is sunnatullāh and also caused by human hands as catalyzer. The negative effects of Global warming can be resolved by changing the attitudes and actions of mankind for an environmentally safe world.
Bimbingan Rohani Terhadap Kondisi Mental Pasien (Studi Kasus di Rumah Sakit Jiwa
Manusia bisa hidup itu terbentuk dari dua dimensi, yaitu dimensi jasmani dan dimensi rohani. Kedua dimensi inilah yang membentuk manusia yang memiliki karakter kepribadian. Apabila salah satunya rusak, maka manusia dianggap sakit/tidak normal. Sejalan dengan adanya problem kesehatan mental yang dihadapi pasien, maka perlu adanya suatu bimbingan salah satunya yaitu bimbingan rohani. Wacana tersebut membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Bimbingan Rohani Terhadap Kondisi Mental Pasien (Studi Kasus di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soeroyo Magelang). Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metode dan materi yang tepat. Sedangkan permasalahan yang penulis kemukakan dalam penelitian ini adalah: Bagaimana sesungguhnya pelaksanaan bimbingan rohani yang diselenggarakan di Rumah Sakit Jiwa Prof. dr. Soeroyo Magelang? Bagaimana peranan bimbingan rohani terhadap kondisi mental pasien di RSJ Prof.dr. Soeroyo Magelang? Adapun tujuan bimbingan rohani yang ada di Rumah Sakit Jiwa Prof. dr. Soeroyo Magelang yaitu, untuk mengetahui proses bimbingan rohani di Rumah Sakit Jiwa Prof. dr. Soeroyo Magelang, untuk mengetahui peranan bimbingan rohani bagi pasien di Rumah Sakit Jiwa Prof. dr. Soeroyo Magelang. Penelitian lapangan ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif yaitu, analisa yang mempergunakan pendekatan logika. Pengumpulan menggunakan metode observasi, dokumentasi, wawancara dan angket. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan adanya bimbingan rohani yang dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Prof. dr. Soeroyo Magelang maka kondisi mental pasien menjadi lebih baik. Bimbingan rohani yang diadakan di Rumah Sakit Jiwa dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Metode bimbingan yang digunakan di Rumah Sakit Jiwa menggunakan metode ceramah, tanya jawab, pelatihan dan kefamilieran. Sedangkan materi yang dipakai dalam bimbingan rohani yaitu ibadah akidah dan akhlak. Bimbingan rohani ini akan membentengi seseorang dari terulangnya gangguan jiwa kembali
Kehidupan Beragama Minoritas Kristen Katholik di Tengah-Tengah Komunitas Santri di Desa
Keragaman dalam memeluk agama menjadi realitas dalam masyarakat pluralis yang tidak dapat dihindarkan, sebagaimana yang terjadi dalam masyarakat Desa Krajan Kulon Kaliwungu Kendal, yang tidak hanya terdiri dari satu agama tetapi juga terdiri dari beberapa agama yaitu Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan dan lainnya. Krajan kulon mempunyai kebutuhan pokok untuk membuat damai masyarakatnya dalam merasakan kehidupannya yang penih dengan perbedaan keyakinan. Masalah kerukunan beragama menjadi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari untuk itu peneliti tertarik untuk mengkaji lebih jauh tentang bagaimana hubungan beragama antara kaum minoritas Kristiani dengan golongan komunitas santri di Desa Krajan Kulon Kaliwungu Kendal Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui kehidupan masyarakat santri (Islam) di desa Krajan Kulon Kaliwungu Kendal. (2) Mengetahui kehidupan masyarakat yang beragama Kristen Katolik. (3) Mengetahui bentuk interaksi dan kerukunan beragama masyarakat minoritas Kristen di tengah-tengah masyarakat santri (Islam) di Desa Krajan Kulon Kaliwungu Kendal. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif lapangan dengan menggunakan pendekatan fenomenologis yang merupakan sebuah pendekatan logika-logika serta teori-teori yang sesuai dengan lapangan. Data penelitian yang terkumpul kemudian dianalisis dengan teknik analisis deskriptif yang mengacu pada analisis data secara induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1). Kehidupan masyarakat santri di Krajan Kulon tidak jauh berbeda dengan santri lain yaitu suatu masyarakat yang mengaji dengan berbagai ajaran kitab klasik, Kyai merupakan figur utama bagi kalangan ini, sehingga fatwa kyai adalah segala-galanya, para santri yang ada di Krajan Kulon selain berasal dari desa Krajan Kulon sendiri juga berasal dari beberapa daerah di Indonesia, dengan latar belakang yang beranekaragam maka pola pembinaan yang dilakukan pesantren secara bertahap. (2) Kehidupan masyarakat Kristen di Krajan Kulon dalam hal sosialisasi lebih banyak membaur dengan budaya pesantren yang berkembang di Krajan Kulon, bahkan mereka sering datang ke acara hajatan yang bernuansa Islam hanya sekedar ikut menghormati, dan menghargai lingkungan sekelilingnya, bahkan kaum Kristiani ada yang siap jadi donatur dalam acara kegiatan kaum santri seperti pengajian, sedang untuk urusan ibadah dan ketauhidan lainnya mereka memisahkan dari kaum Islam. (3)Bentuk interaksi yang dilakukan antar umat beragama dalam hal ini kaum mayoritas santri dan minoritas Kristen dijalin sebagai upaya untuk mempertahankan hubungan baik antar pemeluk agama yang sudah lama terjalin, menghargai perbedaan, menghormati sesama pemeluk, menjaga ketenteraman bagi pemeluk lain yang melakukan ibadah, dan kesadaran yang tinggi dari para pemuka agama merupakan pola hubungan kekerabatan yang selama ini terjalin dengan baik, selain itu peran pemerintah desa dalam membuat acara yang menyatukan kedua pemeluk menjadi salah satu bentuk pola kerukunan yang tercipta, Krajan Kulon merupakan salah satu desa yang tercipta kerukunan antar umat beragama tanpa diskriminasi.
Relevansi Bimbingan Keagamaan Terhadap Perilaku Agresif pada Siswa di SMA
Pada umumnya perilaku agresif merugikan orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk mengendalikan perilaku agresif, maka diperlukan bimbingan keagamaan yang bertujuan meningkatkan pemahaman, pendalaman, dan pengamalan ajaran-ajaran agama yang dapat diperoleh dari pendidikan di sekolah, keluarga, dan masyarakat. SMA Ronggolawe Semarang merupakan salah satu sekolah swasta yang ada di Semarang. Dan SMA Ronggolawe Semarang juga merupakan salah satu sekolah di Semarang yang terkenal dengan stigma masyarakat tentang kenakalan perilaku siswanya. Hal ini diperkuat oleh fakta yang penulis temukan dalam observasi awal, yang menjelaskan bahwa terdapat perilaku agresif yang berupa pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh siswa dalam buku laporan kasus SMA Ronggolawe Semarang. Tetapi penulis juga menemukan fakta tentang adanya bimbingan keagamaan di SMA Ronggolawe Semarang. Oleh karena itu, penulis mengadakan penelitian tentang Relevansi Bimbingan Keagamaan Terhadap Perilaku Agresif Pada Siswa di SMA Ronggolawe. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perilaku agresif siswa di SMA Ronggolawe Semarang, dan bagaimana pelaksanaan bimbingan keagamaan menangani perilaku agresif siswa di SMA Ronggolawe Semarang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian Field Research, yaitu sebuah penelitian yang menggunakan informasi yang diperoleh dari sasaran penelitian yang disebut informan atau responden melalui instrumen pengumpulan data, seperti angket, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kemudian hasil data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku agresif siswa di SMA Ronggolawe Semarang berupa perilaku agresif yang dilakukan secara fisik, perilaku agresif yang dilakukan secara verbal, dan perilaku agresif yang ditujukan pada benda atau obyek mati. Dan bimbingan keagamaan yang dilaksanakan di SMA Ronggolawe Semarang dalam menangani perilaku agresif siswa berupa mujahadah asmaul husna, yasin dan tahlil, serta membaca al-Qur'an dan terjemahannya. Bimbingan keagamaan tersebut diberikan dan diawasi langsung oleh guru Agama, kemudian dievaluasi oleh guru BP. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa terdapat perubahan tingkah laku siswa, yang sebelumnya berupa perilaku agresif berubah menjadi perilaku yang baik.
Konsep Sabar Menurut M. Quraish Shihab dan Hubungannya dengan Kesehatan Mental
Permasalahan skripsi ini adalah bagaimana pemikiran M. Quraish Shihab tentang sabar? Bagaimana relevansi pemikiran M. Quraish Shihab tentang sabar dengan kesehatan mental? Dalam pengumpulan data melalui riset kepustakaan (library research). Sumber datanya yaitu pemikiran M. Quraish Shihab tentang sabar yang menjadi obyek pembahasan tersebut dalam buku (1) Secercah Cahaya Ilahi; dan (2) Menjemput Maut Bekal Perjalanan Menuju Allah SWT. Data sekundernya yaitu sejumlah literatur yang relevan dengan judul ini. metode analisis data menggunakan metode deduktif dan interpretasi. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa menurut M. Quraish Shihab seseorang yang ditimpa malapetaka, bila mengikuti kehendak nafsunya, akan meronta, menggerutu dalam berbagai bentuk dan terhadap berbagai pihak: terhadap Tuhan, manusia, atau lingkungannya. Akan tetapi, bila dia menahan diri, dia akan menerima dengan penuh kerelaan malapetaka yang terjadi itu, mungkin, sambil menghibur hatinya dengan berkata, "Malapetaka tersebut dapat terjadi melebihi yang telah terjadi" atau, "Pasti ada hikmah di balik yang telah terjadi itu," dan lain sebagainya, sehingga semuanya itu diterimanya sambil mengharapkan sesuatu yang lebih baik di kemudian hari. Di sini sabar diartikan sebagai "menerima dengan penuh kerelaan ketetapan-ketetapan Tuhan yang tidak terelakkan lagi". Kesabaran menuntut ketabahan dalam menghadapi sesuatu yang sulit, berat, dan pahit, yang harus diterima dan dihadapi dengan penuh tanggung jawab. Berdasar kesimpulan tersebut, para agamawan merumuskan pengertian sabar sebagai "menahan diri atau membatasi jiwa dari keinginannya demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik (luhur. Konsep M. Quraish Shihab yang menyuruh manusia untuk sabar sangat relevan dengan kesehatan mental karena dengan sabar maka dapat membentuk manusia yang bermental sehat. Al-Quran mengajak kaum muslimin agar berhias diri dengan kesabaran. Sebab, kesabaran mempunyai faedah yang besar dalam membina jiwa, memantapkan kepribadian, meningkatkan kekuatan manusia dalam menahan penderitaan, memperbaharui kekuatan manusia dalam menghadapi berbagai problem hidup, beban hidup, musibah, dan bencana, serta menggerakkan kesanggupannya untuk terus-menerus berjihad dalam rangka meninggikan kalimah Allah SWT. Apabila seseorang bersabar dalam memikul kesulitan dan musibah hidup, bersabar dalam gangguan dan permusuhan orang lain, bersabar dalam beribadah, dan taat kepada Allah SWT, maka mentalnya akan sehat. Sabar dalam melawan syahwat, bersabar dalam bekerja dan berkarya, ia tergolong orang yang memiliki kepribadian yang matang, seimbang, paripurna, kreatif, dan aktif. Selain itu, ia juga menjadi orang yang terlindung dari kegelisahan dan aman dari gangguan-gangguan kejiwaan.
Rabu, 19 Maret 2014
(Studi Kasus di Kelurahan Jetak Kecamatan. Bojonegoro Kabupaten. Bojonegoro Jatim) Penghayatan Keagamaan dan Gangguan Kecemasan Ibu Hamil Pertama Kali
Kecemasan merupakan suatu keadaan perasaan yang mengalami ketakutan, kekhawatiran tentang masa-masa mendatang atau terhadap suatu obyek yang terus-menerus dialami oleh seseorang dalam kurun waktu tertentu. Ibu hamil yang pertama kali tentunya mengalami berbagai gangguan seperti cemas, takut dan gelisah, yang puncaknya akan terlihat ketika menjelang persalinan dan akibat dari gangguan tersebut akan berdampak pada diri ibu dan anak kelak yang dilahirkan. Adapun yang menjadi permasalahannya dalam penelitian ini adalah: Bagaimana kondisi psikologis ibu yang hamil pertama kali, Bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan ibu hamil pertama kali, Bagaimana perbedaan tingkat kecemasan ibu berdasarkan keberagamaanya Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan jenis penelitian studi kasus dengan teknik analisis deskriptif fenomenologi metode dalam pengumpulan data terdiri dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa kondisi psikologis ibu hamil untuk yang pertama kali dan yang baru mempunyai pengalaman hamil untuk pertama kali di Kelurahan Jetak kecamatan Bojonegoro Jatim pada umumnya mengalami berbagai kecemasan. Faktor-faktor yang menyebabkan kecemasan tersebut antara lain faktor intern dan ekstern. Faktor intern yaitu kurangnya kesiapan mental, penghayatan nilai-nilai keagamaan. Faktor ekstern yaitu mitos dan nilai-nilai moral yang berkembang di masyarakat, faktor ekonomi, dukungan keluarga dan lingkungan. Ada perbedaan kecemasan yang dialami oleh ibu hamil berdasarkan penghayatan nilai-nilai keagamaan. perbedaan kecemasan tersebut antara lain: kece
Pengaruh Seni Teater Terhadap Kecerdasan Emosional (EQ) Anak (Studi Terhadap Permainan Teater Metafisis di Panti Asuhan
Teater adalah suatu peristiwa pementasan yang memproyeksikan kisah kehidupan di atas panggung. Seni teater merupakan suatu karya seni yang sering disebut dengan collective art atau synthetic art, artinya teater merupakan sintesa dari berbagai disiplin seni yang melibatkan berbagai macam keahlian dan keterampilan. Seni teater menggabungkan unsur-unsur audio, visual, dan kinestetik (gerak) yang meliputi bunyi, suara, musik, gerak serta seni rupa. Seni teater merupakan suatu kesatuan seni yang diciptakan oleh penulis lakon, sutradara, pemain (pemeran), penata artistik, pekerja teknik, dan diproduksi oleh sekelompok orang produksi. Literatur tentang hubungan seni secara umum maupun seni teater terhadap kecerdasan mengaitkan penggunaan proses kreatif selama berteater berupa: bedah naskah, pemeranan (casting), meditasi, keaktoran, musik, proses kerja kelompok. Metode-metode tersebut dilakukan untuk menanamkan daya konsentrasi pada pemain (aktor) karena sikap/attitude, gesture, respons terhadap sikap ucapan dan tekanan maupun refleks-refleks terhadap suatu perubahan, sangat erat dengan emosi dan inteligensi peranan, dan harus terpancar dalam membawakan lakunya. Kecerdasan emosi menurut Daniel Goleman adalah kemampuan memahami perasaan diri sendiri, kemampuan memahami perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri, dan dalam hubungan dengan orang lain. Unsur-unsur yang mencakup tentang kecerdasan emosional adalah kesadaran diri, pengaturan diri, pengendalian diri, adaptabilitas, inovasi, motivasi, empati, dan ketrampilan sosial. Kecerdasan emosional dapat dikembangkan dengan dukungan sosial masyarakat sekitar. Praktek yang dilakukan Teater Metafisis dalam latihan seni teater di Panti Asuhan Darul Hadlonah Mangkang terhadap pengaruh kecerdasan emosional dalam penelitian ini setelah dianalisa dengan program SPSS dengan metode Mann-Withney diperoleh signifikansi data 0, 126 dengan nilai P = 0, 126 > P = 0,05. Dengan demikian secara statistik, hasil penelitian ini tidak terdapat pengaruh yang signifikan mengenai seni teater terhadap kecerdasan emosional (EQ) anak di Panti Asuhan Darul Hadlonah Mangkang. Tidak adanya signifikansi data yang diperoleh tentang pengaruh seni teater terhadap kecerdasan emosional (EQ) disebabkan beberapa faktor. Adapun faktor yang menyebabkan hal tersebut antara lain adalah metode latihan seni teater yang dipakai kurang relevan, subjek penelitian kurang serius dalam mengikuti latihan, terbatasnya volume waktu latihan, dan kecerdasan emosional subjek penelitian kurang baik.
(Studi Analisis Psikologis di Desa Nalumsari Jepara) Perilaku Anak Akibat Perceraian
Pokok masalah adalah apakah yang menjadi faktor penyebab perceraian suami istri di desa Nalumsari? Bagaimana perilaku anak akibat perceraian di desa Nalumsari Jepara? Jenis penelitiannya adalah penelitian kualitatif. Sumber datanya meliputi data primer adalah sejumlah hasil penelitian lapangan di desa Nalumsari Jepara berupa hasil wawancara dengan tokoh masyarakat, beberapa orang tua yang yang bercerai, anak-anak yang orang tuanya bercerai di desa Nalumsari Jepara. Data Sekunder, yaitu data yang telah lebih dahulu dikumpulkan oleh orang diluar diri penyelidik sendiri, walaupun yang dikumpulkan itu sesungguhnya adalah data yang asli. Dalam penelitian ini penulis mengambil populasi seluruh keluarga yang rumah tangganya berakhir dengan perceraian yang berjumlah 27 keluarga di desa Nalumsari Jepara. Dari 27 keluarga ini, memiliki anak berjumlah berjumlah 15 anak. Dengan demikian keseluruhan individu yang diteliti adalah 42 orang. Seperti yang diungkapkan oleh Suharsimi Arikunto dalam bukunya Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, mengatakan bila subyek kurang dari 100, lebih baik diambil semuanya. Adapun metode pengumpulan data di antaranya: metode wawancara, observasi, dokumentasi. Untuk menganalisa data, penulis menggunakan deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku anak akibat perceraian di desa Nalumsari Jepara dapat dijelaskan sebagai berikut: dendam pada ayah, mabuk, keras kepala, mudah tersinggung, mencuri, membohong, memutar-balikkan kenyataan dengan tujuan menipu orang atau menutup kesalahan. Perilaku lainnya seperti, membolos, kabur, meninggalkan rumah, keluyuran, pergi sendiri maupun berkelompok tanpa tujuan, membawa benda yang membahayakan orang lain, bergaul dengan teman yang memberi pengaruh buruk, sehingga mudah terjerat dalam perkara yang benar-benar kriminil. Berpesta pora, membaca buku-buku cabul dan kebiasaan mempergunakan bahasa yang tidak sopan, tidak senonoh seolah-olah menggambarkan kurang perhatian dan pendidikan, secara berkelompok makan di rumah makan, tanpa membayar atau naik bis tanpa membeli karcis. Adapun beberapa faktor yang menyebabkan perceraian suami istri di Desa Nalumsari sebagai berikut: a) karena istri tidak melaksanakan kewajibannya terhadap suami, hal itu mungkin disebabkan karena jahil, lalai, atau sengaja menentang syari'at Allah; b) karena istri mempunyai kebiasaan buruk dan kebiasaan itu tidak pernah bisa berubah yaitu istrinya seringkali mengadukan berbagai macam permasalahan anak atau membantah suami yang sedang marah atau keletihan; c) perceraian dipicu oleh perbuatan istri yang menjurus Nusyuz (menentang suami) dan sikap buruk istri; d) karena istri tidak mencintai suami; e) karena minimnya pendapatan suami; f) karena suami sering melakukan penyiksaan fisik; g) bila marah, suami berteriak dan berkata kasar sehingga sangat memalukan. Jadi intinya yaitu masalah ekonomi dan seks, meskipun turut pula mempengaruhi faktor-faktor lain seperti faktor psikologis dan budaya.
Hubungan Silaturrahim dengan Ketenangan Jiwa (Studi pada Masyarakat
Kehidupan sesama muslim sangat dianjurkan untuk bersilaturrahim. Dimana mereka harus saling mempererat persahabatan dan persaudaraan. Silaturrahim yang sering diterjemahkan sebagai simpul atau tali ikatan (silah) dan rahim karunia Allah yang kekal, seakan-akan membuat muatan bahwa kita sangat merindukan untuk selalu mengikat tali cinta sehingga ikatan tersebut membuahkan karunia Allah yang sangat kekal. Apabila ditelusuri secara mendalam, makna dan kandungan silaturrahim dalam islam, tidak sekedar memiliki bobot komunikasi antar sesama muslim. Ia juga dimaknakan sebagai hubungan saling kunjung dalam pengertian sempit dan terbatas. Tetapi, silaturrahim mempunyai bobot mengabdikan hubungan kasih sayang antar sesama muslim, sehingga situasi ini akan mempunyai kedalaman implikasi yang bersifat khusus dan istimewa. Studi ini membahas tentang hubungan Silaturahim Dengan Ketenangan Jiwa (Studi Pada Masyarakat Kembangarum Mranggen Demak). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Untuk mengetahui bagaimana tingkat silaturahim pada masyarakat Kembangarum, Mranggen, Demak.(2) Untuk mengetahui bagaimana tingkat ketenangan jiwa pada masyarakat Kembangarum, Mranggen, Demak. (3) Untuk mengetahui hubungan antara silaturrahim dengan ketenangan jiwa pada masyarakat Kembangarum, Mranggen, Demak. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, yang menerangkan hubungan silaturahim dengan ketenangan jiwa. Kemudian dikorelasikan dengan analisis produk moment, dengan hasil yang sangat signifikan yaitu nilainya sebesar 0.515 dengan p-value sebesar 0,000. hal ini dapat diterangkan bahwa silaturahim mempunyai hubungan dengan ketenangan jiwa.
Berpikir dengan Jantung (Studi Terhadap Relasi Aql dan Qalb dalam Al-Quran)
Kebanyakan masyarakat menyangka akal manusia berada di dalam strukrur otak. Pandangan seperti ini dinilai banyak kalangan sebagai kebenaran yang tidak bisa ditolak. Padahal, sebenarnya masih banyak misteri tentang akal yang belum terungkap. Semakin diteliti semakin banyak pula memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru. Konsep yang demikian berbeda dengan zhāhir ayat-ayat al-Quran yang menyatakan, aql adalah fungsi dari qalb (jantung). Kenyataan ini membuat beberapa kalangan mencoba untuk membuktikan secara ilmiah kebenaran pernyataan al-Quran tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian terkait hubungan aql dan qalb, dan kebenaran fungsi qalb sebagai organ yang mempunyai fungsi taaqqul dalam al-Quran Dalam penelitian ini, dibahas kaitan aql dan qalb dalam al-Quran, yang secara umum mempunyai konsep berbeda dengan mainstream yang berkembang dalam bidang-bidang keilmuan modern saat ini. Untuk mencapai hasil yang valid dan dapat diterima semua kalangan, maka dilakukan pendekatan dengan bermacam metode penafsiran yang ada. Akan tetapi agar penelitian ini dapat berjalan secara sistematis maka dipakai pendekatan maudhūiy sebagai metode yang utama. Selain itu, sebagai penguat juga akan dipakai pendekatan integral holistik, menggabungkan metode ilmu-ilmu Islam dan ilmu-ilmu umum. Karena, problema yang menimpa bidang keilmuan agama sekarang adalah, dianggap tidak ilmiahnya keilmuan tersebut sehingga sulit diterima masyarakat umum. Setelah dilakukan penelitian, ternyata dalam al-Quran, organ yang mempunyai potensi berpikir adalah jantung (qalb), bukan otak (dimāgh). Hubungan antara aql dan qalb adalah searah, dimana aql adalah aktitas dari substansi qalb. Kata Qalb dalam al-Quran adalah haqīqiy yang tidak bisa di-wīl, berbeda dengan beberapa kalangan yang menyangka, qalb dalam al-Quran adalah majāz, atau perlu di-tawīl-kan. Sungguhpun pernyataan al-Quran tersebut adalah haqīqiy lughāwiy, namun kesimpulan demikian didukung oleh beberapa penelitian ilmiah, yang diantaranya dilakukan oleh Dr. Gohar Mushtaq. Hal tersebut juga sesuai dengan konsep aql dalam dunia sufi yang salah satunya dikembangkan oleh al-Ghazāliy.
Aktivitas Keagamaan Khonghucu di Klenteng Kwan Sing Bio
Skripsi ini berjudul Aktivitas Keagamaan Khonghucu di Klenteng Kwan Sing Bio Kabupaten Tuban sesuai dengan pokok permasalahan yang diangkat yaitu bagaimana aktivitas keagamaan Khonghucu di klenteng Kwan Sing Bio Tuban, bagaimana faktor penghambat dan pendukung aktivitas keagamaan di klenteng Kwan Sing Bio Tuban dan bagaimana peran organisasi-organisasi umat Khonghucu di klenteng Kwan Sing Bio Tuban. Yang melatar belakangi diadakan penelitian ini adalah kurangnya perhatian pemerintah terhadap klenteng Kwan Sing Bio. Padahal, klenteng merupakan tempat peribadatan yang penting bagi agama Khonghucu sebagaimana pentingnya masjid bagi umat Islam. Keberadaannya pada hakekatnya bagian dari kemajemukan bangsa Indonesia yang tak bisa dipungkiri. Di samping berfungsi sebagai tempat ritual, klenteng juga sebagai sarana sosial. Sehingga aktivitas klenteng menjadi salah satu tolak ukur keharmonisan antara agama satu dengan lainnya yang tidak boleh diabaikan oleh pemerintah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui bentuk aktivitas keagamaan Khonghucu di kelenteng Kwan Sing Bio Kabupaten Tuban, untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam aktivitas keagamaan Khonghucu di klenteng Kwan Sing Bio kabupaten Tuban dan untuk mengetahui peran organisasi-organisasi umat Khonghucu di klenteng Kwan Sing Bio kabupaten Tuban. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian yang memusatkan penelitian terhadap aktivitas keagamaan Khonghucu di klenteng Kwan Sing Bio kabupaten Tuban. Sedangkan untuk menunjang penelitian ini diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Sumber primer adalah jenis data yang diperoleh langsung dari klenteng Kwan Sing Bio kabupaten Tuban. Sementara itu, untuk sumber sekunder adalah buku-buku yang berisi tentang hasil ulasan yang ada kaitannya dengan aktivitas keagamaan Khonghucu di klenteng Kwan Siong Bio kabupaten Tuban. Hasil dari penelitian ini adalah aktivitas atau kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di klenteng Kwan Sing Bio pada dasarnya dilaksanakan setiap hari oleh warga Tuban dan sekitarnya. Aktivitasnya terdiri dari aktivitas ritual dan aktivitas sosial yang kegiatanya membaur dengan masyarakat. Faktor pendukung aktivitas klenteng Kwan Sing Bio sangat banyak, diantaranya adanya dapur umum, kekeramatan, keberkahan, kemegahan klenteng. Sedangkan untuk faktor penghambat juga banyak, diantaranya waktu peribadatan bagi umat, dimana pada waktu yang yang ditetapkan umat memiliki kesibukan sehingga tidak dapat hadir, konflik yang terjadi antar pengurus dan perbedaan ras. Sementara itu, peran organisasi-organisasi keagamaan umat Khonghucu antara lain sebagai tempat untuk mengkoordinir klenteng Kwan Sing Bio dengan tempat ibadah lain, pusat sistem sosial keagamaan, proses integrasi berbagai konflik dan menumbuhkan prestise di lingkungan klenteng maupun masyarakat luas.
Pengaruh Zikir Terhadap Kecemasan Siswa dalam Menghadapi Ujian Nasional di Ma Nu
Penelitian yang berjudul "Pengaruh Zikir Terhadap Kecemasan Siswa dalam Menghadapi Ujian Nasional di MA NU 06 Cepiring" ini, bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh zikir terhadap kecemasan siswa dalam menghadapi ujian nasional. Penelitian ini di latar belakangi oleh kenyataan, bahwa ujian nasional (UN) 2008 yang mempunyai kriteria kelulusan yang sangat berat, secara tidak langsung berakibat pada psikis para siswa peserta UN. Perasaan cemas, khawatir dan takut bisa muncul pada seseorang ketika dihadapkan pada sesuatu yang belum terjadi. Kondisi ini juga yang dirasakan oleh para siswa yang akan menghadapi ujian nasional. Pada umumnya mereka diliputi rasa cemas akan sesuatu yang tidak diinginkan dan mungkin terjadi pada diri mereka. Untuk meminimalisasi hal-hal negatif yang terjadi, banyak sekolah yang memberikan program spiritual kepada para siswa untuk menghadapi ujian nasional seperti halnya zikir. Secara esensial, zikir merupakan solusi kejiwaan dan merupakan ketenteraman bagi hati yang galau dan takut. Zikir bermanfaat untuk mendatangkan ketenangan dan ketentraman hati. Zikir juga merupakan jalan atau alat satu-satunya yang dapat mengantarkan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam penelitian ini menggunakan jenis penilitian field research yaitu mengadakan penelitian di kancah atau medan terjadinya gejala-gejala. Dengan menggunakan analisis statistik yang dibantu dengan memanfaatkan program komputer statistical packages for social science (SPSS). Peneliti mengadakan penelitian di MA NU 06 Cepiring Kendal, dengan tekhnik pengumpulan datanya menggunakan alat ukur/skala kecemasan. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis varians 2 jalur (ANAVA), yakni analisis varians klasifikasi ganda yang digunakan untuk menguji pengaruh zikir terhadap kecemasan siswa. Dari hasil penelitian, diperoleh koefisien total F= 4.134 dengan signifikansi total p= 0.087 yang menunjukkan hasil tidak signifikan. Namun, ada perbedaan kecemasan antara kelompok yang mengikuti zikir dan yang tidak, jika variabel moderator jenis kelamin diperhitungkan dalam ANAVA 2 jalur. Hasil pada item jenis kelamin memperoleh koefisien F= 8.405 dengan nilai signifikansi p= 0.004 hasil tersebut menunjukkan signifikan. Namun secara keseluruhan dari beberapa variabel yang ada, dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil penelitian yang diperoleh tersebut menunjukkan tidak signifikan, artinya zikir tidak berpengaruh terhadap kecemasan siswa dalam menghadapi ujian nasional di MA NU 06 Cepiring.
Pengaruh Puasa Ramadhan Terhadap Pengendalian Emosi Remaja (Studi Kasus di Sma Negeri 1
Skripsi yang berjudul Pengaruh Puasa Ramadhan Terhadap pengendalian Emosi Remaja (Studi Kasus di SMA Negeri 1 Jepara), merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui adakah perbedaan pengendalian emosi pada saat puasa ramadhan dan pada saat tidak puasaramadhan terhadap remaja, remaja di sini adalah remaja yang bersekolah di SMA Negeri 1 Jepara. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa remaja adalah masa yang rentan dalam perkembangan manusia, sehingga perlu control dalam menghadapi emosi yang timbul dalam diri individu. Dan dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa puasa ramadhan biasa dikenal dengan bulan bebas dari pengaruh setan karena setan telah di belenggu tetapi dalam kenyataannya masih banyak manusia yang dipengaruhi oleh setan sehingga masih banyak manusia yang melakukan kejahatan, kesalahan dan tidak bisa mengontrol emosinya. Peneliti dalam melakukan penelitian ini menggunakan jenis penelitian Field Research yaitu mengadakan penelitian dikancah atau medan-medan terjadinya gejala-gejala. Di sini peneliti mengadakan penelitian di SMA Negeri 1 Jepara, sumber datanya berupa sumber data primer dan sumber data sekunder, pengumpulan data sengan metode angket atau kuesioner. Metode analisis datanya menggunakan analisis varians (ANAVA) yaitu analisis yang digunakan untuk menguji perbedaan antar kelompok (puasa dan tidak puasa) sebagai subyek penelitian. Tujuan pertama dalam melaksanakan puasa ramadhan yaitu beribadah kepada ALLAH sebagai kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap manusia yang muslim, agar mencapai keimanan yang kuat, sebagai pengontrol diri, jiwa yang tenang dan lain sebaginya. Tetapi untuk memperoleh semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena manusia harus melakukan puasa ramadhan dengan kesungguhan, keikhlasan dan tidak hanya melakukan puasa secara agama tetapi juga melakukan puasa secara spiritual agar memperoleh semua itu. Apabila manusia melakukan puasa hanya secara agama yang diperoleh hanya lapar, dahaga dan tidak mempereoleh manfaat lainnya. Hasil dari keseluruhan penelitian ini adalah memperoleh koefisien F= 0.982 dengan nilai p= 0.528, rincian dari keseluruhan penelitian adalah koefisien F= 1.583 dengan nilai p= 0.183 diperoleh dari masing-masing kelas, koefisien F= 1.291 dengan nilai p= 0.279 diperoleh dari jenis kelamin, koefisien F= 0.408 dengan nilai p= 0.802 diperoleh dari urutan anak, koefisien F= 1.955 dengan nilai p= 0.077 diperoleh dari umur, dan koefisien F= 0.176 dengan nilai p= 0.950 diperoleh dari asal tempat tinggal. Hasil tersebut menujukkan tidak signifikan, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak adanya perbedaan pengendalian emosi pada saat puasa ramadhan dan pada saat tidak puasa ramadhan terhadap remaja (siswa-siswi) di SMA Negeri 1 Jepara. Disebabkan karena dalam melakukan puasa ramadhan masih sebatas sebagai kewajiban yang harus dilakukan seorang muslim, masih kurang pemahaman terhadap faedah, hikmah dan kehebatan yang sebenarnya tertuang di dalamnya, sehingga manfaat dan pelajaran di dalamnya belum sepenuhnya dirasakan. Tetapi pengendalian emosinya dalam kategori
Keberagamaan Umat Tri Dharma (Studi Kasus di Vihara Avalokitesvara
Keberagamaan manusia turut ditentukan oleh pelbagai pengaruh luar dari lingkungan, baik sosial, budaya maupun polotik. Demikian pula keberagamaan umat Tri Dharma (Buddhisme, Kong Hu Cu dan Taoisme) di Vihara Avalokitesvara Gunung Kalong Ungaran, yang karena pelbagai alasan, mereka harus beribadah di dalam satu tempat ibadah. Namun kondisi ini, secara lebih lanjut, pasti juga mempengaruhi sikap dan bentuk keberagamaan umat mereka. Fenomena lain yang menarik untuk diamati, bahwa antar ketiga umat tersebut tidak pernah terjadi konflik satu sama lain. Dalam hal ini, tentu ada sebuah managemen khusus yang diterapkan untuk mengatur ketiga umat Tri Dharma sehingga kerukunan beragama tersebut dapat tetap terjaga sampai sekarang. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui kesaling-terkaitan antar pelbagai fenomena tersebut dengan keberagamaan umat Tri Dharma di Vihara Avalokitesvara Gunung Kalong Ungaran. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang pengumpulan datanya dilakukan dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedang proses analisis dilakukan dengan mendasarkan pada metode analisis deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil yang diperoleh, ditemukan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi keberagamaan umat Tri Dharma di Vihara Avalokitesvara Gunung Kalong Ungaran. Kebijakan pemerintah Indonesia yang tidak mengakui Kong Hu Cu dan Taoisme sebagai agama, merupakan faktor eksternal utama yang mendorong umat Tri Dharma beribadah di dalam satu tempat. Selain itu, dari kalangan agamawan dan akademis dari latar belakang keagamaan umat Tri Dharma maupun luar, juga tidak sependapat tentang setatus keagamaan Kong Hu Cu dan Taoisme. Namun, hal ini juga didukung oleh beberapa faktor internal dari umat Tri Dharma. Secara normatif, Buddhisme Mahayana yang secara formal diakui sebagai agama, sangat fleksibel sehingga dapat menampung umat Kong Hu Cu dan Taoisme. Bahkan kalau diruntut kembali dari akar dan tempat perkembangan ajaran Tri Dharma, secara kultural ketiga ajaran tersebut memang dekat dan saling mempengaruhi satu sama lain. Dalam segi keberagamaan, umat Tri Dharma di Vihara Avalokitesvara Gunung Kalong Ungaran, memiliki keyakinan dan memuja dewa-dewa yang berbeda. Sikap keberagamaan mereka cenderung inklusif terhadap agama-agama secara keseluruhan. Namun juga terdapat kecenderungan sinkretis, misalnya dengan penerimaan nama sebagai Tuhan, penggunaan bacaan al-Quran, dan pelaksanaan bersama warga Islam di sekitar Vihara Avalokitesvara Gunung Kalong Ungaran untuk mendoakan sesepuh vihara. Buddhisme tampak lebih menonjol dalam hal manajemen seluruh aktivitas keagamaan di vihara. Mulai dari pelaksanaan ritual sehingga ajaran yang didakwahkan kepada umat Tri Dharma lebih mengutamakan Buddhisme, akan tetapi juga dirangkai dengan Kong Hu Cu dan Taoisme, bahkan juga Kejawen. Meskipun demikian, untuk menciptakan suasana harmonis antar umat Tri Dharma, tidak ada aturan khusus yang mengatur hubungan ketiga umat di dalam vihara. Melainkan, melalui pembangunan kesadaran yang dilakukan dalam bentuk ceramah oleh pemuka agama di setiap ritual kebaktian.
Hubungan Religiusitas dan Locus Of Control Remaja Pelaku Seksual Pranikah (Study Kasus di Kecamatan
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara Religiusitas dengan Locus of control remaja pelaku seksual pranikah di kecamatan Ngaliyan. Penelitian ini menggunakan subyek penelitian berjumlah 30 orang remaja pelaku seksual pranikah. Data ini diperoleh dari penyebaran angket dan diperkuat dengan hasil wawancara dari pihak Kantor Urusan Agama kecamatan Ngaliyan. Para subyek penelitian diberikan 2 macam angket atau skala yaitu religiusitas dan skala locus of control. Analisis butir dilakukan dengan menggunakan SPSS for windows release 13.0, sedangkan data dianalisis dengan menggunakan produck moment dari Pearson kemudian di deskripsikan hasil analisis itu dengan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara religiusitas dengan locus of control remaja pelaku seksual pranikah dengan hasil rxy = -0,453 dan untuk N 30, p= 0,012 maka signifikan. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara Religiusitas Remaja Dan Locus Of Control Remaja Pelaku Seksual Pranikah Di Kecamatan Ngaliyan. Bahwa semakin tinggi religiusitas, semakin internal locus of control remaja pelaku seksual pranikah dan sebaliknya semakin rendah religiusitas, semakin eksternal locus of control remaja pelaku seksual pranikah Dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti di kecamatan Ngaliyan menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara Religiusitas Remaja Dan ada hubungan positif Locus Of Control eksternal Remaja Pelaku Seksual Pranikah diterima. Bahwasannya perilaku remaja Kecamatan Ngaliyan sudah pada perilaku yang mengarah ke pergaulan yang bebas. Tingkat religiusitas mereka rendah dan locus of control remaja kecamatan Ngaliyan tergolong eksternal. Penelitian ini menunjukkan bahwa ketaatan beragama (religiusitas ) mempunyai peran yang besar dalam pembentukan sikap dan perilaku seseorang apakan cenderung kearah eksternal atau kearah internal
Sabtu, 15 Maret 2014
Hubungan dalamnya Cinta dengan Kerelaan Berkorban
Penulis sengaja mengangkat judul ini dengan alasan cinta mempunyai otoritas yang kuat serta mendominasi seseorang dalam melakukan tindakan pengorbanan, sedangkan seseorang yang melontarkan statement cinta, tanpa adanya pengorbanan, apakah itu disebut sebagai rasa cinta ataukah hanya hamburan kata-kata yang sia-sia yang tidak menunjukan eksistensi cinta yang ada pada dirinya. Sehingga dalam kasus yang semacam ini dapat diketahui siapakah yang masuk dalam dimensi cinta yang sebenarnya, dan proses apa yang terjadi sehingga individu sanggup melakukan pengorbanan cinta. Penulis telah mengobservasi serta mewawancarai mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Jurusan Aqidah Filsafat angkatan tahun 2005 yang bernama Fanani al Azhar. Penulis telah mengamati, pada dasarnya objek penelitian penulis ini selalu bangun pagi pada jam 09.00 WIB. Akan tetapi ketika dia diminta oleh sang kekasih untuk menghantarkan ataupun menjemputnya pada pukul 06.00 WIB, dia selalu berusaha bangun berlawanan dengan apa yang tidak ia sukai, sehingga tepat pada pukul 06.00 WIB dia harus sudah berada pada tempat kekasih untuk menjemput dan siap menghantarkannya. Dapat diketahui bahwa Fakultas Ushuluddin IAIN Semarang adalah suatu sekolah tinggi Islam yang berbasis relegiusitas dalam pedoman lembaga tersebut, sehingga secara normatif ajaran dan norma-norma yang diterapkan dalam pendidikan formal institut tersebut akan berkaitan dengan norma-norma keagamaan dan menjunjung tinggi moral serta budi pekerti yang luhur. Hal ini secara otomatis akan mempunyai dampak bagi para mahasiswa yang menuntut ilmu di fakultas tersebut dalam menerapkan nilai-nilai keagamaan yang telah mereka dapat dalam kegiatan akademis sehari-hari. Penulis sengaja menjadikan Fakultas Ushuluddin IAIN Semarang sebagai bidikan untuk sebuah penelitian "Hubungan Dalamnya Cinta dengan Kerelaan Berkorban" dalam rangka untuk mengetahui bagaimana pengorbanan individu yang memiliki background religiusitas, berpikir filosofis dan tologis yang masuk dalam dimensi cinta, dan apakah pengorbanan mereka dalam cinta melampaui batas-batas nilai moral serta norma keagamaan yang telah didapatkan. Jenis penelitian ini adalah field research dengan pendekatan yang digunakan seperti guide interveiw, wawancara, observasi, dokumentasi, dan sebagainya, yang penulis analisis dengan menggunakan metode analisis fenomenologi. Adapun masalah yang penulis teliti adalah (1) Bagaimana perasaan cinta mempunyai hubungan dengan perasaan rela berkorban? (2) Bagaimana pengorbanan cinta seseorang yang memiliki background agama dalam kehidupannya? Sedangkan hasil dari penelitian tersebut adalah: Pertama, cinta dan pengorbanan adalah ekspresi dari aktifnya afeksi individu. Sebuah simbol kebebasan yang terbelenggu dalam empirisme yang telah terbentuk, banyak orang yang melakukan sesuatu semata-mata karena tuntutan dan keterpaksaan, walaupun hal tersebut adalah pilihan mereka yang seakan-akan bukan tuntutan serta keterpaksaan. Motivasi-motivasi yang manusia bangun berdasarkan kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi, manusia tak menyadari motivasinya terbentuk dari sebuah tuntutan keadaan. Sedangkan cinta adalah sebuah kebebasan yang manusia raih. Cinta berdiri sendiri tanpa tuntutan dan paksaan, sehingga kekuatannya begitu dahsyat. Pengorbanan cinta dapat dijelaskan secara rasional, karena pengorbanan termasuk cara untuk menumbuhkan cinta orang lain. Pengorbanan merupakan salah satu bahasa cinta untuk sebuah perjuangan agar yang dicintai merasa bahagia, setelah yang dicintai merasa bahagia maka di dalam hatinya akan timbul rasa nyaman dan gembira bila bersama dengan orang yang membahagiakanya, sehingga dengan rasa kebahagiaan yang selalu hadir dapat menumbuhkan rasa kecanduan ingin selalu bahagia, dikarenakan potensi manusia adalah inginmerasakan kebahagiaan, sedangkan kebahagiaan tersebut bisa hadir jika bersama dengan orang yang membahagiakan, dengan tujuan agar selau mendapat kebahagiaan dan kegembiraan, sehingga timbulah rasa cinta terhadap orang yang membahagiakan tersebut, ahirnya cinta orang yang mencintai menumbuhkan cinta orang yang dicintai dengan pengorbanan-pengorbanan yang telah dilakukan. Kedua, Sedikit ataupun banyak, pada kenyataannya keilmuan agama seperti yang ada di Fakultas Ushuluddin mengambil bagian yang cukup penting untuk menentukan langkah seseorang, hal tersebut biasanya dapat mempengaruhi prilaku dalam kehidupan sehari-hari. Pengorbanan yang didasari oleh rasa cinta termasuk prilaku. Prilaku tersebut termotivasi oleh adanya cinta yang tumbuh dihati manusia, begitu juga dasar keilmuan serta pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang mempunyai posisi yang cukup penting untuk mempertimbangkan langkah yang akan dilakukan dalam mengerjakan suatu hal termasuk pengorbanan cinta. Fakultas Ushuluddin berkompeten untuk mencetak generasi-generasi pemikir Islam, sehingga dengan keilmuan akademis yang ada pada fakultas tersebut, sedikit banyak mampu mengendalikan prilaku remaja yang biasanya bertentangan dengan nilai-nilai sosial kemasyarakatan, hususnya dalam segi pengorbanan cinta. Akan tetapi pada dasarnya, bagi manusia pada umumnya, hanya dengan mengetahui keilmuan agama dan filsafat tidak bisa membuat manusia 100% menjadi makhluk yang bebas akan kesalahan dan dosa, karena manusia diciptakan dengan membawa potensi keburukan dan kebaikan, sehingga dalam Fakultas Ushuluddin ini ditemukan beberapa mahasiswa yang masih mementingkan kepentingan pribadi dan kesenanganya daripada tanggungjawab yang mereka miliki. Seperti asik berkomunikasi dengan kekasihnya lewat hp saat pelajaran sedang berlangsung, meninggalkan kegiatanya dan memilih bersama sang kekasih, sehingga kurang mempedulikan tanggungjawabnya sebagai seorang mahasiswa.
Ayat-Ayat Tawassul dalam Perspektif Muhammad Bin Abdul Wahhab
Pemahaman tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat Islam selama ini adalah bahwa tawassul adalah berdoa kepada Allah melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah. Jadi tawassul merupakan pintu dan perantara doa untuk menuju Allah SWT. Tawassul di dalam Islam, memang merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh al-Qur'an, hal ini bisa dirujuk kepada al-Qur'an surat al-Maidah ayat 35 dan surat al-Isra' ayat 57, yang menjelaskan tentang perintah untuk mencari jalan (wasilah) yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tidak pernah ada perselisihan di kalangan umat Islam tentang disyariatkannya tawassul kepada Allah SWT dengan amal saleh. Maka orang yang berpuasa, mendirikan shalat, membaca al-Qur'an, berarti ia tawassul. Dengan puasanya, shalatnya, bacaan al-Qur'an atau sedekahnya. Bahkan tawassul lebih optimis untuk diterima dan tercapainya tujuan. Dalam hadis disebutkan mengenai tiga orang yang terkurung dalam gua orang pertama bertawassul dengan amal baktinya kepada kedua orang tuanya. Orang kedua bertawassul dengan sikapnya menjauhi prilaku keji, padahal waktu itu kesempatan sudah terbuka lebar baginya. Orang ketiga bertawassul dengan kejujurannya dengan memelihara harta orang lain dengan sempurna. Maka Allah SWT kemudian berkenan dan melapangkan kesulitan yang mereka alami. Masalah yang masih diperselisihkan adalah bertawassul bukan dengan amal orang yang bertawassul itu sendiri. Maksudnya bertawassul dengan benda-benda dan pribadi (orang). Penulisan skripsi ini menggunakan jenis studi dengan mendasarkan diri pada penelitian pustaka (literal research) dengan metode kualitatif yang menggunakan data dari sumber-sumber primer maupun skunder. Kemudian dalam menganalisis data, penulis menggunakan analisis data kualitatif yang bertumpu pada titik tolak hermeneutika. Skripsi penulis yang berjudul ayat-ayat tawassul dalam perspektif Muhammad Bin Abdul Wahhab, bertujuan untuk mengetahui dan memahami bagaimana makna tawassul dalam al-Qur'an, dan Untuk mengetahui penafsiran Muhammad Bin Abdul Wahhab tentang tawassul. Dalam skripsi ini dijelaskan mengenai ayat-ayat tawassul, Pembahasan ini dikaji melalui pemikiran Muhammad Bin Abdul Wahhab mengenai tawassul. Dalam pandangannya tawassul yang disyari'atkan adalah tawassul yang langsung kepada Allah SWT. Sementara tawassul kepada Allah SWT dengan sesama makhluk, kendatipun seorang Nabi atau wali, adalah perbuatan bid'ah yang tidak diperbolehkan dan tidak ada dasarnya sama sekali. Sebab pada hakikatnya, kebaikan seseorang itu untuk dirinya sendiri.
Tafsir Tematik Ayat-Ayat Kalam dalam Tafsir An-Nur
Sepanjang penulis ketahui belum ada studi khusus tentang corak pemikiran ini di Indonesia. Walaupun dalam karya Hasbie telah membahas tentang kalam atau tauhid, namun hal itu masih bersifat umum. Oleh karena itu, penelitian terhadap cprak pemikiran kalam tafsir an-Nur masih bersifat baru dan aktual. Baru karena belum ada yang menulis, aktual, karena banyak memuat hal-hal yang baru agar manusia lebih bersikap dinamis, aktif, dan kreatif dalam diri umat, bukan sikap pasif, pesimis, apatis, statis dan fatalis. Selain pemikiran kalam hasbie diatas, juga dibahas tentang tafsir an-nur yang meliputi metode, sistematika, karakteristik, dan lain-lain. Masalah pokok yang hendak dijawab melalui penilitian ini adalah metode dan karakteristik apakah yang dipakai Hasbie dalam tafsir an-nur. Dari beberapa masalah diatas diambil penyelesaian, bahwa tafsir an-nur mengambil metode tahlili dan berkarakteristik adab ijtima'I, sedang dalam pemikiran kalam yang diangkat dalam skripsi ini ternyata pemikiran kalam Tafsir an-Nur lebih banyak persamaanya dengan pemikiran kalam rasional yang terdapat dalam aliran Mu'tazilah dan Maturidiyah Samarkand. Sebaliknya, sedikit sekali persamaanya dengan pemikran kalam tradisional yang dianut oleh aliran pemikiran aliran Asy'ariyah dan Maturidiyah Bukhara, namun juga dalam pemikiran beliau yang tidak konsisten. Persamaan Hasbie dengan aliran Maturidiyah Bukhara terlihat dalam memberikan daya kepada akal dan memberikan fungsi terhadap wahyu, sedangkan dalam masalah perbutaatan-perbuatan manusia dan Antropomorfis, beliau tidak konsisten. Tapi, Hasbie cenderung menganut paham Qadariyah seperti dianut aliran Mu'tazilah yang memandang manusia mempunyai kebebasan dalam berkehendak dan berbuat Penafsiran Hasbie dalam konteks pemahaman al-Qur'an, menurut penulis tidak memperlihatkan corak yang khas walaupun beliau Guru Besar Ilmu Syari'ah, namun beliau telah memperkaya khazanah pemahaman al Qur'an yang berharga bagi umat untuk menghayati dan mengamalkan makna dan kandungan kitab suci yang mulia
Hubungan Kesadaran Diri dan Penghayatan Al-`Asmā `Al-Husnā dengan Kecerdasan Spiritual Siswa Madrasah Aliyah
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1. Hubungan kesadaran diri dengan kecerdasan spiritual siswa Madrasah Aliyah NU Banat Kudus; 2. Hubungan penghayatan Al-`asmā `al-husnā dengan kecerdasan spiritual siswa Madrasah Aliyah NU Banat Kudus; dan 3. Hubungan kesadaran diri dan pengahayatan Al-`asmā `al-husnā dengan kecerdasan spiritual siswa Madrasah Aliyah NU Banat Kudus. Penelitian ini bersifat expost facto yang mencari hubungan kausal korelasional untuk mengungkapkan fakta berdasarkan pengukuran gejala yang telah terjadi pada diri responden sebelumnya. Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik proportional random sampling, dengan menggunakan tabel model Krijcie-Morgan. Berdasarkan teknik tersebut siswi diambil sampel 114 responsen. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket. Analisis data menggunakan regresi dengan bantuan SPSS (Statistical Program for Social Science). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesadaran diri (X1) dan penghayatan Al-`asmā `al-husnā (X2) mempunyai hubungan yang sangat signifikan terhadap kecerdasan spiritual (Y). Nilai probabilitas untuk X1 adalah 0,000 < 0,05. Nilai probabilitas X2 adalah 0,000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh kesadaran diri dan penghayatan Al-`asmā `al-husnā terhadap kecerdasan spiritual. Konstanta regresi sebesar -12,809 menyatakan bahwa jika tidak ada kesadaran diri dan penghayatan Al-`asmā `al-husnā, kecerdasan spiritual adalah -12,809. Artinya, harus ada upaya peningkatan kesadaran diri dan penghayatan Al-`asmā `al-husnā yang sangat tinggi agar kecerdasan spiritual siswi meningkat. Hal ini ditunjukkan bahwa jika kedua variabel mengalami penurunan (yang ditunjukkan dengan nilai minus) maka kecerdasan spiritual juga akan menurun ditandai dengan nilai minus yang sangat besar. Kendatipun demikian, pada variabel kesadaran diri, koefisien korelasinya sebesar 0,384, variabel penghayatan Al-`asmā `al-husnā sebesar 0,651, sehingga nilai determinasinya untuk kesadaran diri sebesar 0,147 (14,7%) dan untuk penghayat an Al-`asmā `al-husnā sebesar 0,424 (42,4%). Secara bersama-sama nilai koefisien korelasi 0,656 sehingga koefisien determinasinya sebesar 0,430 (43%). Dengan demikian, semakin tinggi koefisien korelasinya (R) maka akan semakin tinggi pula tingkat keberartiannya (r2). Hal ini berarti tingkat kecerdasan spiritual siswi sangat dipengaruhi oleh besarnya persepsi mereka mengenai perhatian kesadaran diri dan penghayatan Al-`asmā `al-husnā yang mereka wujudkan.
Manusia Super (Study Komparatif Perspektif Friedrich Wilhelm Nietzsche dan Muhammad Iqbal)
Istilah manusia sempurna dalam khazanah Islam dikenal pada abad ketujuh Hijriah dan digunakan pertama kali di dunia Islam oleh seorang sufi yang masyhur yaitu Muhyiddin Arabi al-Andalusi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Arabi. Ia menggunakan istilah "manusia sempurna" atau insan kamil dari perspektif tasawuf. Istilah ini selanjutnya mendapat perhatian khusus dari al-Jilli, yang mengembangkan konsep tersebut dalam karya tersendiri, al-insan al-kamil. Penulis, dalam penelitian ini tidak terlalu jauh mengomentari gagasannya. Penulis hanya akan membahas dari sudut pandang filosofis tentang konsep manusia super yang dalam kajian ini menganalisis pemikiran Nietzsche tentang Ubermensch dan pemikiran Iqbal tentang Manusia Ideal yang Kreatif sebagai konsepsi tentang manusia sempurna. Sehingga pemahaman tentang manusia sempurna mencakup ranah filsafat, yaitu filsafat Barat dan filsafat Islam. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian kepustakaan (library research), karena hasil yang ditemukan adalah analisis terhadap buku-buku yang dijadikan sumber oleh penulis-yang mana dalam menganalisis data penulis menggunakan metode deskriptif, content analysis-di sini penulis berusaha menganalisis substansi pemikiran Muhammad Iqbal dan Nietzsche yang terdapat dalam berbagai karyanya yang mempunyai relevansi dengan topik penelitian dan metode komparati-metode ini diaplikasikan dengan cara membandingkan pemikiran Nietzsche dan Muhammad Iqbal. Dari perbandingan ini dapat ditemukan persamaan dan perbedaan masing-masing pemikiran Nietzsche dan Muhammad Iqbal tentang manusia super. Menurut Nietzsche, Ubermencsh atau manusia super adalah manusia yang tanpa ada ikatan dari Tuhan yang pada akhirnya dapat menghambat potensi manusia dalam kehendak berkreasi. Manusia super adalah manusia yang sudah sanggup menerima berita kematian Tuhan. Dengan matinya Tuhan, maka akan terbuka suatu daerah yang tidak bertuan yang harus dikuasai. Tanpa Tuhan manusia menjadi amat individual, sebab tidak ada lagi ikatan bersama. Hal ini akan memberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk menentukan dirinya. Manusia yang mempunyai kehendak untuk berkuasa (will to power) tidak perlu lagi adanya Tuhan. Karena will to power berisi kekuasaan, Tuhan dan lain sebagainya. Orang yang sudah melewati ini adalah Ubermencsh. Manusia siapapun itu adalah Ubermencsh ketika berfikir; sejauh dia mampu memformal will to power. Urusan benar dan salah adalah bagaimana will to power berkuasa. Ubermencsh adalah orang yang sudah punya kuasa penuh. Bagi Iqbal, manusia super adalah manusia yang dapat menyerap sifat-sifat Tuhan. Manusia di jadikan Tuhan sebagai makhluk pilihan karena dia memiliki ego. Manusia dalam pandangan Iqbal adalah makhluk yang di satu pihak-dengan seluruh kreatifitas yang ada pada dirinya-hendak membangun kerajaan Tuhan di bumi sebaik mungkin, dan di pihak lain, unsur rohaninya di mana egonya ikut menghayati kehidupan dan kemerdekaan Ego terakhir sehingga mendapat bimbingan-Nya dan pada akhirnya menjadi hamba yang saleh
Metode Tafsir Kontemporer (Studi Analisis Terhadap Metode Tafsir Progresif Farid Esack)
judul skripsi: Metode Tafsir Kontemporer; Studi Analisis terhadap Metode Tafsir Progresif Farid Esack, bertujuan untuk memahami interpretasi Farid Esack terhadap ayat-ayat Al-Qur'an di tengah pluralitas dan kemajemukan keyakinan rakyat Afrika Selatan serta di tengah penindasan rezim yang rasis dan rasialis, yaitu rezim Apartheid. Beberapa alasan yang mendasari pemilihan judul ini adalah pertama, untuk mengetahui cara Farid Esack berinteraksi dengan teks al-Qur'an. Kedua, untuk mengetahui aplikasi metode tafsir progresif dalam menafsirkan teks al-Qur'an. Ketiga, mengetahui pengaruh metode tafsir progresif dalam membentuk tatanan kehidupan sosial di Afrika Selatan. Menurut Farid Esack "al-Quran tidaklah unik, wahyu senantiasa merupakan tanggapan atas masyarakat tertentu," meskipun ia mengklaim dirinya sebagai petunjuk bagi ummat manusia (QS 2:175) tapi secara umum ditunjukkan bagi orang-orang Hijaz periode pewahyuan.......pemisahan antara teks dan konteks bukan sikap yang tepat, karena teks dan konteks seperti dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Esack meyakini bahwa al-Qur'an diwahyukan secara progresif sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada masa pewahyuan, dan pada masa selanjutnya harus terus menerus dibaca seperti itu. Maka dari itu kita harus mengadakan reinterpretasi ayat-ayat al-Qur'an, yang dialektika, dinamis antara teks dan konteks, karena dengan melakukan hal tersebut, ajaran agama akan mengikuti perkembangan zaman sehingga akan membuat agama tetap relevan dan menjadi panutan bagi umatnya dalam menjalani kehidupan. Esack, dalam hal ini berangkat dari proses pewahyuan progresif yang ia lihat dari adanya konsep asbab al-nuzul dan nasikh dalam al-Qur'an. Dua konsep inilah dalam pandangan Esack menunjukkan ke-"aktifan respon Tuhan terhadap kehidupan manusia di muka bumi. Untuk itu, berkaitan dengan rakyat Afrika Selatan yang majemuk namun berada pada satu nasib, Esack mencoba melakukan interpretasi terhadap ayat-ayat al-Qur'an terutama terhadap konsep-konsep teologis ---yang bersifat eksklusif (Islam eksklusif)---yang telah mapan di kalangan ulama konservatif seperti, konsep Islam, kafir, jihad, dan konsep mustadl'afun. Dalam kacamata Esack, konsep-konsep yang bersifat eksklusif tersebut merupakan penghalang tumbuhnya solidaritas dan persatuan di antara mereka, untuk itu harus di-"nasakh" dengan interpretasi yang bersifat inklusif dan liberatif (Islam inklusif). Dalam skripsi ini penulis menggunakan metode historis-verifikasi dan deskriptif. Artinya, mendeskripsikan back ground sejarah yang melingkupi Esack dengan maksud untuk memahami karakter Esack dalam merumuskan pemikirannya dalam bentuk metode tafsir progresif. Metode ini digunakan untuk melihat benang merah dalam pengembangan pemikiran Esack, baik yang berhubungan dengan lingkungan historis maupun pengaruh-pengaruh yang dialami dalam perjalanannya. Selain itu metode ini digunakan untuk menerjemahkan pikiran dalam konteks dulu ke dalam terminologi pemahaman yang sesuai dengan cara berpikir sekarang. Esack meyakini bahwa pluralitas adalah fitrah Tuhan yang tak terelakkan. Untuk itu, yang terpenting sebagai khalifatullah fi al-ardl adalah menebar perdamaian di muka bumi sebagai misi Islam dan menumbuhkan semangat solidaritas dan persatuan dengan senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiq al-khairat)
Pelaksanaan Pengawasan dan Implikasinya Terhadap Pengelolaan Zakat Mal di Dompet Peduli Umat Darut Tauhid
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui pelaksanaan pengawasan terhadap pengelolaan zakat mal di DPU DT cabang Semarang Tahun 2005-2008. 2) Untuk mengetahui implikasi pengawasan terhadap pengelolaan zakat mal di DPU DT cabang Semarang Tahun 2005-2008. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data diskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati, pendekatan yang dipakai adalah pendekatan fenomenologi yang merupakan bentuk pemahaman gejala aspek yang subyektif dari perilaku orang, data diperoleh dari observasi dan wawancara untuk memperoleh data tentang Pelaksanaan Pengawasan Dan Implikasinya Terhadap Pengelolaan Zakat Mal Di Dompet Peduli Umat Darut Tauhid (DPU DT) Cabang Semarang Tahun 2005-2008, setelah data terkumpul lalu dianalisi dengan menggunakan analisis deskriptif yang yang mengacu pada analisis data secara induktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Pelaksanaan pengawasan terhadap pengelolaan zakat mal di DPU DT cabang Semarang Tahun 2005-2008 dilakukan dengan memberikan laporan keuangan baik bulanan maupun tahunan kepada kantor pusat yang ada di Bandung yaitu tepatnya kepada dewan pembina dan dewan syariah DPU DT pusat, selain itu pengawaan juga dilakukan kepada semua penguru dan anggota DPU DT cabang Semarang dengan melakukan absensi harian terhadap perilaku yang telah dilakukan baik itu terkait dengan ibadah maupun perilaku sehari-hari tujuan agar tercipta pengurus dan anggota DPU DT cabang Semarang yang berakhlakul karimah. 2) Implikasi pengawasan terhadap pengelolaan zakat mal di DPU DT cabang Semarang Tahun 2005-2008 adalah proses pengelolaan zakat yang baik dan dapat dipercaya oleh masyarakat, dari sudut administrasi pengawasan yang baik akan dapat menghindarkan kesalahan dalam pengelolaan dana yang masuk. Sedangkan dilihat dari sudut dakwah Islam, pengawasan zakat mal yang dilakukan DPU DT cabang Semarang dapat menjadi bentuk dakwah Islam yang mengarahkan umat islam untuk selalu berjalan di jalan Allah SWT dengan memberikan sebagian hartanya yang telah disyariatkan menjadi hak orang lain.
Bimbingan Islam dalam Upaya Melestarikan Lingkungan Hidup dari Bahaya Pencemaran Menurut Perspektif Al-Qur'an Surat Ar-Rum Ayat 41
Perwujudan dakwah bukan sekedar dalam bentuk kegiatan pembinaan/peningkatan penghayatan ajaran atau memperbaiki penghayatan ajaran, melainkan menuju pada dataran yang lebih luas, yaitu sebagai pelaksanaan keseluruhan ajaran dalam kehidupan sehari-hari pada orang perorangan dan masyarakat, menyangkut semua sektor kehidupan. Dalam pengertian ini maka upaya pelestarian lingkungan hidup merupakan dakwah juga. Berdasarkan keterangan tersebut, maka yang menjadi perumusan masalah: bagaimana pandangan al-Qur'an surat ar-Rum ayat 41 tentang arti penting lingkungan hidup? Bagaimana bimbingan Islam dalam upaya melestarikan lingkungan hidup dari bahaya pencemaran? Penulisan ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan bimbingan dan konseling Islam Adapun metode pengumpulan data dengan studi dokumenter. Sebagai sumber data primer adalah surat ar-Rum ayat 41, Sedangkan data sekunder yaitu sejumlah kepustakaan yang relevan dengan judul ini. Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan analisis deskripsi. Hasil dari pembahasan menunjukkan bahwa dalam al-Qur'an ditegaskan bahwa semua kerusakan lingkungan hidup tidak lain merupakan akibat dari keserakahan manusia, sehingga mengeksploitasi alam lingkungannya habis-habisan. Oleh karena itu sejak awal Allah memperingatkan akan adanya akibat ulah manusia tersebut. Apabila mengkaji keterangan para ahli tafsir tersebut, maka menurut penulis, timbulnya kerusakan alam atau lingkungan hidup adalah sebagai akibat perbuatan manusia. Karena manusia yang diberi tanggungjawab sebagai khalifah di bumi banyak yang tidak melaksanakan dengan baik. Padahal manusia mempunyai daya inisatif dan kreatif, sedangkan makhluk-makhluk lain tidak memilikinya. Konsep al-Qur'an surat ar-Rum ayat 41 sesuai dengan asas fitrah bimbingan konseling Islam. Bimbingan dan konseling Islam merupakan bantuan kepada klien atau konseli untuk mengenal, memahami dan menghayati fitrahnya, sehingga segala gerak tingkah laku dan tindakannya sejalan dengan fitrahnya tersebut. Manusia, menurut Islam dilahirkan dalam atau dengan membawa fitrah, yaitu berbagai kemampuan potensial bawaan dan kecenderungan sebagai Muslim atau beragama Islam. Bimbingan Islam membantu klien untuk mengenal dan memahami fitrahnya itu, atau mengenal kembali fitrahnya tersebut manakala pernah tersesat, misalnya merusak lingkungan hidup. Dengan bimbingan dan konseling Islam diharapkan individu atau kelompok orang menghayati arti pentingnya melestarikan lingkungan hidup sehingga dengan demikian akan mampu mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akherat karena bertingkah laku sesuai dengan fitrahnya itu yaitu tidak merusak lingkungan hidup
Muhasabah dan Seks Bebas (Hubungan Antara Kegiatan Muhasabah dalam Meminimalisir Seks Bebas pada Mahasiswa
Gaya hidup modernis di kalangan remaja berpotensi menimbulkan masalah yang beragam jenisnya seperti salah satunya pergaulan bebas di seluruh kalangan termasuk kalangan mahasiswa yang merupakan salah satu item terpenting dalam kemajauan bangsa, yang sering menjurus pada kebebasan dalam berhubungan dengan lawan jenisnya, pemahaman tentang konsep keagamaan di yakini mampu memberikan stimulus baru terhadap kalangan muda khususnya untuk dapat mengadopsi secara positif proses modernisme akan tetapi hal tersebut menjadi "orang kedua" di dalam pribadi remaja, yang serta merta tidak memahami konsep-konsep keagamaannya sehingga modernisasi tidak dapat di sensor dengan proses apapun khususnya di kalangan remaja. Hal ini terjadi juga pada mahasiswa yang bermukim di Kelurahan Plombokan Kecamatan Semarang Utara, yang mana banyak terjadi kegiatan-kegiatan yang menjurus pada asusila, seperti halnya seks bebas yang marak terjadi di kalangan mahasiswa di Plombokan Dalam agama Islam sendiri, perilaku seks tanpa ikatan tergolong dalam perbuatan zina dan zina sendiri telah secara tegas dilarang agama seperti pada Al Qur'an surat An-Nisa ayat 32. Muhasabah merupakan salah satu aspek keagamaan dalam Islam yang diartikan sebagai kegiatan ber-mawas diri dan menjaga dari segala kemungkinan manusia untuk berbuat yang tidak sesuai dengan aturan agama, ataupun aturan yang menyimpang dari yang telah di tentukan, dalam islam muhasabah di golongkan dalam dua bagian, diantaranya muhasabah yang dilakukan setelah melakukan perbuatan dan dan muhasabah yang dilakukan setelah melakukan perbuatan. Yang di yakini penulis mampu untuk memberikan jaring yang mampu meminimalisir kegiatan seks bebas di kalangan mahasiswa. Melalui analisis kualitatif yang dilakukan dalam penalitian kali ini peneliti mencoba mengungkapkan beberapa permasalahan yang terjadi diantaranya berkaitan dengan perilaku seks di kalangan mahasiswa yang sering dilakukan di tempat tempat tertentu seperti rumah kost dan stadion satria di kelurahan Plombokan yang cukup meresahkan masyarakat sekitar, serta motivasi dikalangaan mahasiswa dalam melakukan seks bebas, pada penelitian peneliti mengambil 40 sampel dari kalangan mahasiswa yang bermukim di Kelurahan Plombokan, dengan metode pengambilan data wawancara, observasi, serta penelitian langsung, dan treatment yang dilakukan untuk menunjang jalannya penelitian kali ini Berdasarkan penelitian yang dilakukan bahwasannya muhasabah mampu meminimalisir setidaknya 50% dari subjek penelitian yang berjumlah 40 orang sedangkan 30% nya masih ragu-ragu untuk memutuskan berhanti melakukan seks bebas dan sisanya sekitar 20% masih tetap berorientasi untuk melakukannya di kemudian hari, hal ini merupakan indikasi yang baik ketika muhasabah dilakukan dengan penelitian yang efektif untuk menjadikan remaja yang sehat seutuhnya baik dalam tataran moralitas maupun spiritualitas
Pengalaman Spiritual Jamaah Haji dalam Menemukan Makna Hidup di
Masalah makna, pengalaman spiritual dan non spiritual manusia merupakan persoalan yang harus diungkap dengan sungguh-sungguh dan terarah agar dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk konsep pengembangan diri bagi manusia yang merindukan makna dalam hidupnya. Persoalan makna hidup sangat erat kaitannya dengan pengalaman hidup manusia baik itu pengalaman spiritual maupun non spiritual. Untuk mengungkap makna tersebut merupakan tantangan besar yang nantinya akan dijadikan sebuah pengantar menuju hidup penuh makna melalui pengungkapan pengalaman spiritual jamaah haji dalam menemukan makna hidup. Sebagai gambaran awal Dusun Pendem merupakan bagian dari Desa Banaran, yang terletak di Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Dusun Pendem merupakan desa yang semua warganya penganut agama Islam, selain itu warganya peduli gotong-royong dan taat beribadah. Dapat terlihat dari warga yang sudah banyak yang melaksanakan ibadah haji. Tetapi persoalan pengalaman dan makna dari sebuah perbuatan hanya dapat terungkap melalui cerita-cerita sepintas yang kadang dapat terhapus oleh memori yang baru, sehingga makna tidak terungkap dengan maksimal untuk diimplementasikan dalam kehidupan, sehingga menjadikan peluang terjadinya krisis multi dimensi (ekonomi, sosial, politik, hukum, budaya, moral, dan sebagainya) di Dusun Pendem. Dusun Pendem merupakan dusun yang terdapat jamaah haji dengan pengalaman spirirual yang bervariasi, karena perbedaan latar belakang pengetahuannya yang berbeda dan keadaan ekonomi yang berbeda. Dengan mengungkapkan pengalaman beribadah haji, jamaah haji mencoba untuk mendapatkan makna apa yang tersirat didalamnya, yang nantinya diharapkan dapat diimplementasikan dalam kelangsungan hidupnya yang diharapkan akan mendapatkan makna. Dari fenomena tersebut penulis jadikan alasan untuk melakukan penelitian ini. Adapun pokok permasalahan yang penulis teliti yaitu, bagaimana pengalaman spiritual jamaah haji dan bagaimana upaya jamaah haji Dusun Pendem, Desa Banaran, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, dalam menemukan makna hidup. Penelitian yang penulis lakukan merupakan jenis penelitian lapangan field research, yang pada hakikatnya merupakan metode untuk menemukan secara khusus realitas khusus yang terjadi dalam masyarakat. Sumber data yang diperoleh adalah dari sumber data primer dan skunder. Pengumpulan data yang penulis lakukan adalah dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah, 8 (delapan) orang jamaah haji Dusun Pendem, Desa Banaran, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Sebagai hasil akhir dari peneitian ini penulis dapat menyimpulkan bahwa mengenai pengalaman spiritual jamaah haji dalam menemukan makna hidup mampu mengungkap makna-makna spiritual yang tersembunyi di balik indahnya ibadah haji yang dapat memunculkan motivasi baru bagi peneliti, pembaca dan khususnya jamaah haji dalam menjalani kehidupannya di hari esok yang lebih baik, mengendalikan konflik pribadi jamaah haji, dan menunjukkan terungkapnya keagungan Allah SWT. melalui ciptaan- Nya. Adapun faktor pendukung terungkapnya makna hidup melalui pengalaman spiritual jamaah haji adalah, stimulus yang dapat membangkitkan memori ingatan jamaah melalui pertanyaan-pertanyaan dan benda-benda, serta kenyataan hidup yang mereka alami melalui proses persepsi, yang kemudian tersimpan dalam memori jamaah haji, sehingga dapat diungkapkan. Selain itu faktor latar belakang pengetahuan jamaah haji juga sangat berpengaruh, serta usaha lahiriyah dan batiniyahnya yang mendapatkan ridha dari Allah SWT.
Akal dan Wahyu dalam Islam (Perbandingan Pemikiran Antara Muhammad Abduh dan Harun Nasution
Sampai saat ini masih banyak dijumpai sejumlah kalangan yang berupaya untuk membatasi kerja akal, sekaligus menerima wahyu sebagai satu-satunya kebenaran. Padahal akal adalah makhluk Tuhan yang tertinggi dan akallah yang memperbedakan manusia dari binatang dan makhluk Tuhan lainnya. Perdebatan tentang akal dan wahyu atau termasuk antara sains dan agama sebanarnya bukan hal yang baru. Dalam konteks Islam, perdebatan itu melahirkan aliran-aliran ilmu kalam seperti Muktazilah, Jabariah, Qodiriah, Asy'ariah yang tidak terlepas dari perbedaan pandangan dalam menempatkan akal dan wahyu. M.Abduh sebagai seorang pembaharu dari Mesir dan Harun Nasution sebagai seorang pembaharu dari Indonesia. Mencoba merubah tatanan pemikiran yang sudah ada (menghilangkan taklid). Yaitu lebih mengutamakan akalnya dan tidak menyampingkan wahyu. Artinya jika ada ayat-ayat yang mempunyai makna yang tidak sesuai dengan akal, maka wajib bagi akal untuk menafsirkan ayat tersebut secara metaforis yaitu makna ayat tersebut disesuaikan dengan rasio. Dalam penelitian ini, dibahas tentang pemikiran M.Abduh dan Harun Nasution tentang akal dan wahyu dalam Islam. Yaitu dicari perbedaan dan persamaan pemikiran mereka dan relevansi pemikiran mereka dengan kondisi yang sekarang. Untuk mencapai hasil yang valid dan dapat diterima semua kalangan, maka dilakukan penelitian secara kualitatif dengan pendekatan deskriptif Setelah dilakukan penelitian, ternyata didapatkan hasil persamaan bahwa keduanya mengajak kepada manusia untuk melakukan penyelidikan dan penelitian berdasarkan akal terhadap benda-benda alam yang ada di depan mata. Yaitu untuk mengetahui kebesaran dan kebenaran Tuhan. Menurut M.Abduh dan Harun Nasution, posisi akal dan wahyu adalah akal dapat mengetahui adanya Tuhan, dapat mengetahui bahwa manusia wajib beribadat dan berterima kasih kepada-Nya tetapi akal tak sanggup mengetahui semua sifat-sifat Tuhan dan tak dapat mengetahui cara yang sebaiknya beribadat kepada-Nya, wahyulah yang menjelaskan kepada akal cara beribadat dan berterima kasih kepada Tuhan. Dan akal juga tidak dapat mengetahui perincian dari kebaikan dan kejahatan. Disinilah fungsi wahyu yaitu menguatkan pendapat akal melalui sifat sakral dan absolut yang terdapat dalam wahyu. Juga terdapat perbedaan antara keduanya yaitu dari background pemikiran mereka M.Abduh yaitu dunia pendidikan, sedangkan Harun Nasution berasal dari politik. Dan sumber yang digunakan oleh keduanya adalah Al-Qur'an dan Hadis, relevansi pemikiran mereka pada kondisi yang sekarang terutama kebutuhan manusia akan kehidupannya yaitu membebaskan diri dari tradisi dan penafsiran-penafsiran yang pada abad pertengahan dianggap sebagai ajaran agama yang tidak boleh dirubah. Yaitu ide kebebasan manusia dalam kehendak dan perbuatan, menurut M.Abduh dipengaruhi oleh ide hukum alam. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan informasi dan masukan bagi para pembaca
Meditasi Buddhis Theravada (Studi Kasus di Vihara Tanah Putih Semarang)
Dalam sejarahnya meditasi atau samadhi, diyakini oleh agama Hindu sebagai suatu bentuk aktivitas spiritual yang bertujuan untuk memperoleh kekuatan supranatural, berhubungan dengan hal-hal gaib, suatu kekuatan yang magis, karena masih bercampur pada kepercayaan animisme dan dinamisme. Sedangkan di zaman modern sekarang ini, meditasi mengalami perkembangan sebagai ilmu kesehatan. Lain lagi bagi umat Buddha, yang menganggap meditasi sebagai salah satu cara untuk mendapatkah kebahagiaan. Menurut sejarah agama Buddha, meditasi berawal dari usaha Sang Buddha Gautama untuk mencapai pencerahan (Nibbana) yang membutuhkan waktu dan usaha bertahun-tahun. Dari keyakinan itulah, umat Buddhis rajin melatih diri bermeditasi untuk merealisasikan ajaran Sang Buddha. Walaupun sebenarnya meditasi bukan menjadi suatu kewajiban atau ritual tertentu dalam agama Buddha, karena juga dapat dipraktekkan oleh semua umat. Sang Buddha sendiri telah menemukan cara yang lain dari yang telah diajarkan oleh para Rsi, yaitu dikenal dengan sebutan Pandangan Terang. Gautama lebih mengutamakan kesadaran yang ada, baik di luar maupun di dalam. Dalam perkembangannya agama Buddha terbagi menjadi dua sekte, yaitu Theravada dan Mahayana. Mahayana sudah mengalami banyak pemekaran, sedangkan Theravada masih menggunakan ajaran asli Sang Buddha. Dengan mempelajari aliran Theravada maka akan mengetahui ajaran asli agama Buddha, terutama tentang meditasi. Teknik meditasi yang ditemukan oleh Sang Buddha Gautama lebih dikenal dengan sebutan Jalan Arya Berunsur Delapan, Jalan Tengah yang menuju kebebasan (Nibbana). Sejauh ini, di zaman modern yang banyak menghadapi berbagai fenomena kehidupan, meditasi menjadi semakin popular dan mulai banyak digemari. Mereka seakan-akan haus dengan ketenangan jiwa. Dengan cara praktis, yaitu meditasi, diyakini dapat memberikan ketenangan batin serta kebahagiaan hidup, sehingga banyak dibuka kegiatan meditasi untuk umum. Oleh karena itu, untuk mengetahui makna sebenarnya dari meditasi serta pengaruh atau manfaat meditasi yang semakin banyak penggemarnya, baik untuk umat Buddhis maupun semua umat. Dan di Vihara Tanah Putih inilah terdapat kegiatan meditasi untuk umum setiap Rabu malam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan proses analisis dilakukan dengan mendasarkan pada metode analisis deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil yang diperoleh, ditemukan beberapa pengaruh dari meditasi di zaman modern ini serta berbagai aktivitas sosial maupun keagamaan di Vihara Tanah Putih Semarang. Meditasi juga sering disebut sebagai teknik pengolahan batin atau jiwa sehingga pengendalian dari dapat dilatih dengan baik. Oleh karena itu, penulis ingin mengetahui sejauh mana pengaruh yang dirasakan umat Buddhis sendiri maupun non-Buddhis tentang meditasi. Apakah masih terdapat nilai spiritualitas dalam meditasi ataukah hanya sebagai teknik pengolahan batin untuk mendapatkan ketenangan? Selain hal itu, meditasi juga mempunyai banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari dengan pengendalian diri yang terlatih dengan baik. Dan meditasi secara umum dapat pula dikatakan sebagai pengembangan rasa toleransi antar umat beragama, seperti di Vihara Tanah Putih Semarang yang menjadi mercusuar perkembangan agama Buddha di Indonesia.
Pengaruh Tradisi Haul KH. Abdurahman Terhadap Keberagamaan Masyarakat
Dari perspektif sejarah, eksistensi tradisi haul tidak bisa dipisahkan dari sejarah dakwah Islam yang dilakukan di Desa Mranggen, Kabupaten Demak. Tradisi tersebut merupakan simbol sosial yang dipraktekkan di sana untuk menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan sosial. Dalam tradisi ini prinsip familiar dibangun oleh seluruh lapisan masyarakat yang dipimpin oleh seorang kyai. Karena kontribusi dari pemimpin agama sangat signifikan, maka tradisi haul tersebut di satu sisi memiliki identitas budaya, sekaligus tradisi keagamaan serta di sisi lain memiliki dimensi sosial. Haul yang dalam bahasa Arab berarti tahun, dalam masyarakat Indonesia, khususnya Jawa mempunyai arti yang sangat khusus, yaitu suatu upacara ritual keagamaan untuk memperingati meninggalnya seseorang yang ditokohkan dari para wali, ulama atau kyai. Haul merupakan salah satu tradisi yang berkembang kuat di kalangan Nahdliyin. Berbentuk peringatan kematian seseorang setiap tahun. Biasanya dilakukan tepat pada hari, tanggal dan pasaran kematian. Tradisi haul sedianya diiringi dengan tiga hal kegiatan yaitu: 1) ziarah kubur. 2) manaqib dan tahlil. 3) pengajian umum. Penelitian yang dilakukan penulis merupakan penelitian lapangan kualitatif. Di mana hasil penelitian akan dijelaskan secara deskriptif dengan menggunakan analisis nonstatistik (analisis deskriptif), karena data yang diwujudkan dalam skripsi ini berbentuk laporan atau uraian deskriptif kualitatif. Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka penelitian ini menggunakan metode sebagai berikut: observasi, interview, dokumentasi, tahap kritik sumber, tahap interpretasi dan tahap historiografi. Setelah data terkumpul maka dianalisis dengan menggunakan metode analisa deskriptif kualitatif yaitu suatu analisa penelitian yang dimaksudkan untuk mendiskripsikan suatu situasi tertentu yang bersifat faktual secara sistematis dan akurat. Setelah melakukan penelitian maka diketahui bahwa: latar belakang adanya tradisi haul Syeikh KH. Abdurrahman adalah berawal dari para alumni santri pondok pesantren Futuhiyyah yang menganggap Syeikh KH. Abdurrahman sebagai guru ngaji serta sebagai mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah selanjutnya untuk mengenang jasa beliau sebagai pendiri pondok pesantren Futuhiyyah maka diadakannya haul, di samping itu haul Syeikh KH. Abdurrahman adalah sebuah wasiat dari Syeikh KH. Muslih Abdurrahman Al-Maraqi untuk mengenang jasa-jasa beliau dan meneladani amaliyah serta kebaikan-kebaikan beliau dalam segala aspek kehidupan sehari-hari maka dari itu haul harus diadakan setiap tahun. Inisiatif ini kemudian didukung dari pihak keluarga bani Abdurrahman. Sehingga pada setiap tanggal 12 Dzulhijah di Mranggen diselenggarakan acara haul KH. Abdurrahman yang berlangsung selama kurang lebih 7 hari. Tradisi ini berlangsung hingga sekarang. Sedangkan tata cara pelaksanaan tradisi haul dalam kegiatan ini dibagi dalam tiga fase yaitu: a) Fase sebelum pelaksanaan. b) Fase pelaksanaan. c). Fase pasca pelaksanaan. Kemudian pelaksanaan haul ditinjau dari aqidah Islam pada hekekatnya peringatan haul bukan semata-mata menjadikan dan meyakini kubur sebagai masjid, menjadikan dan meyakini kubur sebagai tempat yang layak diminta berkahnya juga bukan menjadikan dan meyakini kubur sebagai tempat pemujaan kepada mayit. Akan tetapi peringatan haul bertujuan untuk meneladani amaliyah dan kebaikan-kebaikan dari orang yang dihauli, dengan harapan agar segala amaliyah baik semasa hidupnya akan dapat kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sedangkan pengaruhnya terhadap keberagamaan masyarakat Mranggen yaitu: Pertama, bidang ibadah: masyarakat Mranggen sekarang sering melaksanakan sholat wajib lima waktu dan lebih menyukai sholat berjamaah di masjid-masjid dan mushola-mushola dari pada sholat di rumah. Kedua, bidang akhlak: masyarakat Mranggen merupakan masyarakat yang santun, suka menyambung tali kerabat, saling menghormati antara satu dengan yang lainnya. Ketiga, bidang akidah: masyarakat Mranggen sangat mengimani keberadaan Allah SWT dan Rasulullah, serta berdzikir untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT setiap sehabis sholat. Keempat, bidang mu'amalah: kehidupan masyarakat Mranggen dengan saling bantu-membantu antara satu dengan yang lainnya, peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka meyakini bahwa membantu sesamanya dengan ikhlas akan mendatangkan barakah pada kehidupan keluarga mereka.
Pengajian Minggu Pahing Jam'iyyah Surat al-Waqi'ah Sunan Kalijaga dan Pengaruhnya Terhadap Pemahaman Aqidah Islam di Masyarakat Desa
Pembinaan ibadah merupakan penyempurnaan diri dalam beraqidah sehingga ibadah menjadi menambah keyakinan dalam kebenarannya. Dengan kata lain semakin tinggi ibadah seseorang, maka akan semakin tinggi pula keimanan orang tersebut. Dari sini, maka bentuk ibadah yang dilakukan seseorang bisa dikatakan cermin atau bukti nyata dari aqidahnya. Bagi masyarakat Desa Purwosari, kegiatan sosial keagamaan seperti pengajian rutin menjadi manifestasi dari ibadah kepada Allah. Salah satu pengajian yang dilakukan di Purwosari adalah pengajian Minggu Pahing Jam'iyyah Surat al-Waqi'ah yang dipimpin oleh KH. Gus Nur Salim (selaku Pondok Pesantren Sunan Kalijaga). Menurut jam'iyyah ini, pengajian Minggu Pahing ini dapat mendatangkan berkah dan rizki. Asumsi tersebut didasarkan pada sejarah dahulu sebelum Jam'iyah Surat al-Waaqi'ah dikenal orang, jumlah pengikutnya hanya seratus orang, dan saat ini jumlah pengikutnya mencapai lima ratus orang lebih yang tersebar di kabupaten Kendal. Dalam kaitan latar belakang di atas, maka rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana sejarah asal-usul dan pelaksanaan pengajian Minggu Pahing Jam'iyyah Surat al-Waqi'ah Sunan Kalijaga di masyarakat Desa Purwosari Kec. Patebon Kab. Kendal? (2) Bagaimana kaitan materi pengajian Minggu Pahing jam'iyyah Surat al-Waqi'ah Sunan Kalijaga di masyarakat Desa Purwosari Kec. Patebon Kab. Kendal dengan aqidah Islam ? (3) Bagaimana pengaruh pengajian Minggu Pahing Jam'iyyah Surat al-Waqi'ah Sunan Kalijaga terhadap Pemahaman Aqidah Islam pada masyarakat Desa Purwosari Kec. Patebon Kab. Kendal ? Dalam penelitin ini ada beberapa metode analisis yang peneliti gunakan yaitu: 1) Metode kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. 2) Metode deskriptif yaitu proses pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan, subjek objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak dan sebagaimana adanya. Hasil dari penelitian di antaranya adalah bahwa tujuan utama jami'iyah pengajian Minggu Pahing mengadakan pengajian adalah untuk mencari ilmu, menambah iman dan ridla Allah SWT. Pengajian Minggu Pahing Jam'iyyah Surat al-Waqi'ah Sunan Kalijaga cukup efektif untuk meningkatkan ketakwaan, hal ini berdasarkan pemahaman aqidah Islam masyarakat Desa Purwosari sudah menunjukkan pemahaman aqidah Islam yang baik, karena selalu mengikuti pengajian Minggu Pahing secara rutin sehingga masyarakat Desa Purwosari dapat memahami tentang rukun iman yang berjumlah enam, yaitu iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Nya, hari akhir (kiamat), dan qada' dan qadar