Kamis, 20 Maret 2014

Hubungi Kami

Assalaamualaikum
kumpulan Skripsi, Tesis, Disertasi, Penelitian Tindakan Kelas, Makalah, MP3, Perangkat Pembelajaran, serta Ebook  ini Hanya sebagai Referensi, bukan untuk di Jiplak atau di Contek,  Segala Akibat yang ditimbulkan dari penyalahgunaan di luar tanggung jawab Kami..
Jika anda berminat dengan referensi yang ada pada kami silahkan kirim email ke pusatilmiah@gmail.com, jika ingin lebih cepat ditanggapi silahkan hubungi 085793453975
terima kasih
wassalamualaikum

Legal Warning

DEMI KEPENTINGAN AKADEMIS, DIGITAL LIBRARY MEMPUBLISH KARYA CIVITAS AKADEMIKA. BAGI ANDA YANG MENGUTIP ISI DARI HASIL PENELUSURAN MEDIA INI, HARAP CANTUMKAN SEBAGAI SITASI PADA KARYA ANDA. 

DIGITAL LIBRARY  TIDAK MENANGGUNG SEGALA BENTUK TUNTUTAN HUKUM YANG TIMBUL ATAS PELANGGARAN HAK CIPTA MELALUI MEDIA INI. (KEPENTINGAN DI LUAR AKADEMIS MENJADI TANGGUNGJAWAB YANG BERSANGKUTAN)

Kesaksian Jiwa [Ruh] Menurut Al- Quran ( Study Analisis Tafsir Q.s. Al-Araaf [7]: 172)

Mempercayai adanya roh adalah salah satu keyakinan yang diajarkan Qur'an dan mempercayai soal-soal gaib merupakan salah satu sendi keyakinan beragama. Semua agama ditegakkan atas dasar keyakinan itu, dan dengan keyakinan itu perasaan manusia menjadi tentram. Akan tetapi kepercayaan mengenai soal-soal gaib sebagaimana diajarkan al-Qur'an mempunyai kelebihan istimewa karena kepercayaan tersebut tidak membekukan akal orang-orang yang beriman, tidak menghilangkan kewajiban yang dipikulkan kepada manusia dan tidak melenyapkan peranan akal yang sadar akan tanggung jawabnya. Kepercayaan mengenai roh itu justru merupakan perwujudan dari keberadaan iman dan islam, yaitu: menyerahkan segala sesuatu kepada Allah. Seiring dengan hal tersebut, seakan-akan manusia harus menerima tanpa berusaha, lupa atau dilupakan menjadi tidak pernah mengingat kembali apakah kecenderungannya untuk ber-Tuhan itu memang sudah tertanam sejak zaman azali ataukah kecenderungan itu lahir dari lelehur mereka? Kebanyakan dari kita dalam menafsirkan tentang roh, hanya terjebak pada tataran bahwa roh itu urusan Tuhan bukan urusan manusia, parahnya lagi kalau roh itu dilihat dari kaca mata kaum teolog, mereka pasti disibukkan dengan perkataan apakah roh itu makhluk atau bukan dan masih banyak yang lainnya. Al-Qur'an juga menyatakan bahwa manusia telah dinobatkan menjadi kholifah dan diberi kebebasan mutlak dan tanggung jawab atas amanah yang diberikan. Itu artinya, setiap manusia harus menjaga dan memelihara apa yang diamanahkan kepadanya, sebagaimana aturan dasar amanah dalam syar'i. Jika saja dalam masa pemeliharaan terjadi kerusakan atau kemusnahan, manusia harus dan harus mempertanggungjawabkannya. Apakah dengan mengganti, merekontruksi, atau mendapat sanksi, setidaknya sanksi moral. Dalam pengertian ini, bila dikaitkan dengan pengambilan perjanjian yang dilakukan manusia dihadapan Tuhan, sebelum manusia dilahirkan, maka pertanggungjawaban menjadi hak mutlaq dan tidak bisa ditawar-tawar oleh manusia Dengan demikian karena manusia tidak bias mengelak dari tanggung jawab. Seharusnya perlu diadakan dialektika ulang dalam mencari makna roh yang ada dalam jasad manusia, bukan wujudnya melainkan peran roh dalam menentukan masa depan kita. Dalam al-Qur'an roh merupakan aura positif dan jiwa (nafs) adalah aura negatif. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia diciptakan harus memilih, memilih baik atau memilih buruk. Maka dalam skripsi ini, penulis menfokuskan pada masalah Apakah kesaksian ruh dalam kandungan merupakan fitrah bagi setiap manusia yang akan dilahirkan (analisis surah Al-'Araaf [7]: 172)?. Serta bagaimanakah penafsiran para Ulama'dan apa relevansinya kesaksian itu pada diri manusia, baik itu dari konteks masa lampau dan konteks masa sekarang?. Analisa singkat dari permasalahan di atas mengidentifikasikan adanya Perjanjian yang fitrah dilakukan semua anak cucu Adam di hadapanTuhan, sebagai jalan pembuktian bahwa Allah akan minta pertanggung jawaban mereka, baik itu yang Islam maupun bukan, dan kelak mereka tidak bisa berkata " ini kesalahan nenek moyang kami", karena menyekutukan Engkau ya Allah. Ini bukan salah kami.

Studi Kritis Terhadap Hadits Nabi Tentang Talqin Mayyit dengan Membaca Tahlil dan Yasin

Talqin adalah amalan yang biasa dilakukan oleh umat Islam kepada orang yang meninggal dunia. Bahkan ini sudah menjadi budaya. Sehingga, ketika ada orang yang meninggal dunia tidak ditalqinkan, seakan hal itu adalah sebuah pelanggaran adat. Talqin sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat Islam dalam menolong saudaranya yang meninggal dunia. Sudah menjadi tradisi yang tertutup dari kritik. Talqin biasanya dilakukan ketika orang yang ditalqin tersebut sudah meninggal dunia, ketika sudah dikebumikan. Dengan memberikan pertanyaan beserta jawaban seputar tauhid, yang dilakukan oleh tokoh agama masyarakat setempat. Itu dilakukan diatas kubur orang yang sudah meninggal. Tradisi lain yang sudah mengakar di masyarkat Islam adalah membaca Surat Yasin kepada orang yang sudah meninggal dunia, baik sebelum dikuburkan atau setelahnya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah ajaran talqin dan membaca Surat Yasin sesuai apa yang diajarkan Nabi? Itulah yang mencoba penulis telusuri dalam skripsi sederhana ini. Setelah melakukan penelitian, hadits yang menerangkan talqin secara kualitas bisa dikatakan shahih, karena tidak ada satu rawi pun, dalam dua jalur yang diteliti (Abu Said Al-Khudri dan Abu Hurairah), yang terdapat kecacatan. Sehingga, hadits tersebut secara yuridis dapat dijadikan pijakan hukum pengamalan. Adapun hadits tentang membaca Surat Yasin yang di riwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Abu Dawud dari Ma'af qil bin Yasar ternyata berstatus dlaif, karena ada dua rawi yang majhul, yaitu Abu Abdullah Al-Hafid dan Ubaid bin Abdul Wahid bin Syuraik. Dengan demikian, hadits tersebut tidak dapat dijadikan sebagai hujjah atau legitimasi pengamalan membaca Yasin kepada mayyit. Interpretasi ulama tentang kedua hadits tersebut mengatakan bahwa yang dimaksud dengan redaksi orang-orang mati (mautakum) dalam kedua hadits tersebut adalah orang yang sedang dalam keadaan menjemput ajal (sakaratul maut), bukan orang yang sudah meninggal dunia, apalagi sudah dikuburkan. Inilah pendapat yang telah mendapatkan kesepakatan ulama, disetujui.

Penafsiran Sufi Surat Al-Fatihah dalam Tafsir Tāj Al-Muslim dan Tafsir Al-Ikl Karya KH. Misbah Musthofa

Tafsir bercorak sufi sangat jarang ditemukan. Namun hal itu bukan berarti tidak ada, karena dalam tafsir Al- Muslim dan Al-Ikl karya KH. Misbah Musthofa ditemukan nuansa sufisnya dalam surat Al-Fatihah. Dan dalam penulisan skripsi ini, penulis mengkaji dimensi sufistik dalam dua tafsir karya KH. Misbah Musthofa, Al- Muslim dan Al-Ikl yang difokuskan pada satu surat yaitu al-Fatihah. Skripsi penulis yang berjudul Penafsiran Sufi surat al-Fatihah dalam tafsir Al- Muslimdan al-Ikl karya K.H. Misbah Mustofa bertujuan untuk mengetahui (1) Bagaimana dimensi sufi tafsir surat Al-Fatih dalam tafsir Taj Al- Muslimin dan al-Iklil karya K.H. Misbah Mustofa? (2) Apakah kekurangan dan kelebihan tafsir Taj Al- Muslimin dan al-Iklil karya K.H. Misbah Mustofa dalam menafsirkan surat al-Fatihah? Penulisan skripsi ini menggunakan jenis studi dengan mendasarkan diri pada penelitian pustaka (literar research) dengan metode kualitatif yang menggunakan data dari sumber-sumber primer maupun sekunder. Yang pertama tentunya karya-karya K.H. Misbah Mustofa, dan laporan-laporan penunjang baik dari media cetak maupun audio visual. Penelitian ini menghasilkan data-data deskriptif berupa rangkaian tulisan dari beberapa orang tentang K.H. Misbah Mustofa dan karyanya, terutama dalam tafsir Al- Muslim dan Al-Ikl yang penulis fokuskan pada surat al-Fatihsehingga diperoleh data dan analisa yang komprehensif. Dari hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa, Al-Fatih dalam tafsir Al- Muslim dan al-Ikldinilai penuh dengan makna spiritual. Ke-tujuh ayat Al-Fatih nuansa sufi sangat terlihat pada ayat ke lima, dimana terdapat pembagian ibadah dalam tiga tingkatan ibadah, yaitu ibadah rendah, tengah dan tinggi. Selain nuansa sufi dalam tafsir, terdapat kelebihan dan kekurangan dalam tafsir: Al- Muslimdan al-Ikl. Kelebihanya. yaitu : mudah dipahami karena uraiannya menggunakan bahasa yang sederhana. Untuk lebih mempermudah pembaca, beliau menggunakan makna gandul yang disertakan pada setiap ayatnya. Karena disamping bisa mengetahui makna kata perkata (mufrodat), juga secara langsung dapat diketahui gramatikanya (nahwu . Kekuranganya, yaitu : dari sisi redaksional dalam tafsir Al- Muslimdan Al-Ikldianggap kurang memenuhi pra-syarat karya ilmiah karena banyak sekali hadits yang diungkapkan dalam bahasa Jawa dan tanpa disertai sanad yang lengkap, dan juga klasifikasi al-Qur’an ini dinilai lemah, karena segala sesuatu dibedakan dalam dualisme dunia dan akhirat. Hal ini menjadikan ayat menjadi misteri yang sulit, yang signifikasi dan tingkatan nilainya, yang tentunya bertentangan dengan tujuan dasar wahyu, yaitu membentuk masyarakat muslim yang ideal.

Penafsiran Ayat-ayat Sumpah Allah Menurut Kitab Al-Tafsir Al- Bayani lil Quran Al-Karim Karya Aisyah Bint Al-Syathi, Tafsir Ibn Katsir Karya Ibn Katsir dan Jamiul Bayan 'an Tawili lil Quran Karya At-Thabari

Dalam Tafsir Aisyah bint al-Syathi, tafsir Ibn Katsir dan at-Thabari dapat di temui beberapa ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang makna ayat sumpah Allah yang terdapat pada surah-surah pendek dalam al-Quran seperti surah adh-Dhuha, surah al-Balad, an-Naziat, al-Ashr, asy-Syams, al-Adiyat, at-Tin dan sebagainya. Al-Quran adalah sebagai kitab suci yang berkarakteristiknya mengandung beberapa uraian yang sangat singkat dalam menunjukkan sesuatu, akan tetapi juga mengandung prinsip-prinsip dasar sebagai petunjuk agar manusia dapat mengambil sebuah perkataan yang mereka ucapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Seperti mengucapkan Demi Allah, Billahi, Taallahi itu semua hanya menunjukkan rasa kemantapan hati agar ucapannya itu tidak melanggar kata sumpah, oleh karena itu Allah juga melarang manusia untuk mengucapkan nama selain Allah dan oleh sebab itu orang yang salah mengucapkan sumpah termasuk orang syirik. Dalam al-Quran sendiri Allah juga memberikan penjelasan adanya kata sumpah yang meliputi sumpah terhadap nama-nama makhluk-Nya, seperti demi waktu malam, demi waktu siang dan waktu pagi, demi malaikat-malaikat, demi binatang-binatang, demi matahari, demi fajar dan lain sebagainya. Metode penelitian skripsi ini bercorak Library Research yaitu dengan mengupas secara konseptual dengan cara menulis, mengedit dan menyajikan data serta menganalisisnya. Dalam arti di semua sumber datanya berasal dari bahan-bahan tertulis yang telah berkaitan dengan topik yang telah dibahas dan adanya pengumpulan data ini bersumber dari data primer yaitu al-Quran. Dalam analisis ini penulis menggunakan Analisis Content yaitu berdasarkan data-data penulis mengungkapkan penafsiran dari kitab Tafsir Ibn Katsir, Kitab al-Tafsir al-Bayan lil Quran al-Karim karya Aisyah bint al-Syathi dan kitab Jamiul Bayan an Tawili yil Quran karya at-Thabari, yang berjudul Penafsiran Ayat-ayat Sumpah Allah dalam al-Quran{Studi komparatif antara Kitab al-Tafsir al-Bayan lil Quran al-Karim Aisyah bint al-Syathi) dengan kitab Tafsir ibn Katsir dan kitab Jamiul Bayan an Tawili yil Quran (at-Thabari ). Oleh karena itu masing telah mempunyai konteks pembicaraan yang berbeda-beda, sehingga ada perbedaan dalam metode dan persamaan dalam menafsirkan terhadap surah-surah pendek yang diawal ayat yang mempunyai arti dan maksud kata-kata sumpah Allah dengan masing-masing telah mempunyai konteks makna sumpah yang sama-sama pula. Ungkapan mengenai makna sumpah Allah menurut Aisyah bint al-Syathi, tafsir Ibn Katsir dan at-Thabari menyatakan dalam surah adh-Dhuha dengan maksud demi malam dan demi pagi berpendapat bahwa dipagi hari kita sebagai manusia harus giat bekerja sampai malam hari kita dapat mengistirahatkan agar dipagi hari yang cerah lebih giat, surah al-Balad menjelaskan bahwa adanya makna betapa indahnya bila kita tinggal di negeri kabah, surah an-Naziat juga menjelaskan adanya para malaikat-malaikat yang akan mencabut semua nyawa para makhluk-Nya dan tidak ada satu pun yang mengetahui kebesaran dan rahasia-Nya. Penafsiran Aisyah bint al-Syathi, tafsir ibn Katsir dan at-Thabari mengenai makna sumpah Allah dalam konteks pemahaman al-Quran, menurut penulis telah memperlihatkan corak yang khas dan serta dapat memperkaya khazanah pemahaman al-Quran yang berharga bagi umat untuk dapat menghayati, memahami agar maksud al-Quran itu sebagai petunjuk dan rahmat yang dapat tercapai dengan baik serta dapat meluruskan jalan kehidupan.

Global Warming In The Qurān Thematic Studies Of The Quranic Verses With Muhammad Shahrūr Hermeneutic Approach

This paper tried to give different explanation about global warming phenomena with thematic studies of the Quranic verses. The writer saw that global warming is contextual problem. Global warming is widely discussed in the news today and scientists in many fields are concerned about it. The increase in the made emission of greenhouse gases was the cause for global warming. Global warming was the observed and projected increases in the average temperature of Earth's atmosphere and oceans. The problem of global warming is regarded as one of the most serious environmental problems of our time. We could not find anything about global warming problem with textual comprehension in the Quranic verses or Sunnah tradition, but with contextual comprehension these problems were actually explained. Many statements in the Holy Qurān invite us to try to see the important events that already passed that can be used as lessons for this generation or that in the future. In the light of Muhammad Shahrūr with his background as scientific figure used the science logic and modern linguistic to approach for interpreting al-Qurān. His assumption was nothing contradiction between reality, mind and al-wahyu. He explained that his approach to understand of Holy Qurān was benefit in the science development. Muhammad Shahrūr has interpreted al-Qurān with hermeneutic approach, clarified that al-Qurān as divine revelation al-wahyu for mankind was sent down to be known and understood for all. Allāh exalted is He, has given guidance for human to open the secret message of Allāh. I tried to read and interpret al-Qurān with the intertextuality to explain the global warming problems. I merged the combination between thematic method of al-Qurān and intertextuality as a Shahrūr method to describe the global warming concept in the Quran in the light of Muhammad Shahrūr hermeneutic approach. Al-Qurān has described the natural problem in the heaven and earth. The Order to read and recite al-Qurān for application was very important, besides about the phenomena in the cosmos. The signal of global warming was clarified and described by the Quranic verses like: global warming phenomena {QS.al-Rūm [30]: 41-42}, greenhouse effect and ozon depletion {Sabā[34]: 9; QS.al-Mulk [67]: 16-18}, mischief and any damage, natural disasters such as tornadoes, hurricanes, floods, and droughts, tsunami, oceans suffered to burst forth, {QS.al-Infitār [82]: 1-19, QS.al-Mulk [67]: 16-18}, and another verses. The act of god currently a like disaster, damage, mischief on the earth and heaven and global warming which all of them have been resulted by human factor or only process of natural occurrence. Global warming disaster is sunnatullāh and also caused by human hands as catalyzer. The negative effects of Global warming can be resolved by changing the attitudes and actions of mankind for an environmentally safe world.

Bimbingan Rohani Terhadap Kondisi Mental Pasien (Studi Kasus di Rumah Sakit Jiwa

Manusia bisa hidup itu terbentuk dari dua dimensi, yaitu dimensi jasmani dan dimensi rohani. Kedua dimensi inilah yang membentuk manusia yang memiliki karakter kepribadian. Apabila salah satunya rusak, maka manusia dianggap sakit/tidak normal. Sejalan dengan adanya problem kesehatan mental yang dihadapi pasien, maka perlu adanya suatu bimbingan salah satunya yaitu bimbingan rohani. Wacana tersebut membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Bimbingan Rohani Terhadap Kondisi Mental Pasien (Studi Kasus di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soeroyo Magelang). Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metode dan materi yang tepat. Sedangkan permasalahan yang penulis kemukakan dalam penelitian ini adalah: Bagaimana sesungguhnya pelaksanaan bimbingan rohani yang diselenggarakan di Rumah Sakit Jiwa Prof. dr. Soeroyo Magelang? Bagaimana peranan bimbingan rohani terhadap kondisi mental pasien di RSJ Prof.dr. Soeroyo Magelang? Adapun tujuan bimbingan rohani yang ada di Rumah Sakit Jiwa Prof. dr. Soeroyo Magelang yaitu, untuk mengetahui proses bimbingan rohani di Rumah Sakit Jiwa Prof. dr. Soeroyo Magelang, untuk mengetahui peranan bimbingan rohani bagi pasien di Rumah Sakit Jiwa Prof. dr. Soeroyo Magelang. Penelitian lapangan ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif yaitu, analisa yang mempergunakan pendekatan logika. Pengumpulan menggunakan metode observasi, dokumentasi, wawancara dan angket. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan adanya bimbingan rohani yang dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Prof. dr. Soeroyo Magelang maka kondisi mental pasien menjadi lebih baik. Bimbingan rohani yang diadakan di Rumah Sakit Jiwa dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Metode bimbingan yang digunakan di Rumah Sakit Jiwa menggunakan metode ceramah, tanya jawab, pelatihan dan kefamilieran. Sedangkan materi yang dipakai dalam bimbingan rohani yaitu ibadah akidah dan akhlak. Bimbingan rohani ini akan membentengi seseorang dari terulangnya gangguan jiwa kembali