Rabu, 26 Februari 2014

Studi Analisis Teori Nasikh-Mansukh Richard Bell dalam Buku Bell's Introduction To The Quran

Skripsi ini membicarakan tentang kata nasikh dalam al-Qur'an, kata ini diulang sebanyak empat kali, yaitu dalam QS: 2: 106, 7: 154, 22: 52 dan 45: 29. Masing-masing dapat diartikan menghapus, membatalkan, mengganti dan memindahkan. Dalam perkembangannya ayat-ayat di atas dipergunakan sebagian ulama menjelaskan arti nasikh-mansukh dalam al-Qur'an. Untuk masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah Bagaimana Pandangan Richard Bell terhadap Nasikh-Mansukh? Bagaimana pandangan Cendikiawan terhadap persoalan nasikh-mansuk? Bagaimana kontribusi Richard Bell terhadap pengembangan Ilmu tafsir dan Ulum al-Qur'an. Secara eksplisit orientalis ini mengakui nasikh al-Qur'an dalam arti pembatalan, penghapusan, dan penggantian ayat terdahulu dengan ayat yang datang kemudian. Menurut Richard Bell bahwa al-Qur'an memiliki kegandaan sumber wahyu, yaitu Allah sebagai sumber utama dan Muhammad SAW. Menurut Bell, unit-unit wahyu orisinal terdapat dalam bagian-bagian pendek al-Qur'an. Hal ini disebabkan pandangannya yang menempatkan Muhammad sebagai revisor al-Qur'an, walaupun dalam koridor inisiatif ilahi. Richard Bell, dipengaruhi dan termotivasi dengan kepentingan politis serta mengikuti jejak pendahulunya, sehingga kajiannya terlihat prejudistik, dari pada karya yang objektif. Ia juga mengatakan bahwa al-Qur'an yang ada sekarang merupakan hasil dari modifikasi orang-orang Muslim setelah kematian Muhammad. Richard Bell juga mengatakan bahwa sumber historis utama dari ajaran-ajaran al-Qur'an adalah agama Kristen, sehingga dengan metodologi historis dan filologis yang digunakan Richard Bell, dalam hal ini menurutnya sudah dapat mengupas al-Qur'an, dari sisi penafsirannya. Di dalam memahami dan mengeksplorasi ayat-ayat al-Qur'an yang menurut Richard Bell mengalami nasikh-mansukh, dia berusaha memaksakan (takalluf) al-Qur'an agar dapat berbicara sendiri dengan menekankan pada aspek metodologinya. Akibatnya penafsirannya terhadap teori (revisi) nasikh-mansukhnya tersebut menjadi ahistoris. Hanya saja kemudian Richard Bell memosisikan nasikh dengan menggunakan arti revisi yang berimplikasi pada makna (perbaikan), koreksi, serta tambahan, suatu ayat terhadap ayat berikutnya. Bagi Bell, arti nasikh sama dengan derevasi yang mempunyai dua titik kesamaan yaitu: berulang turunnya ayat-ayat al-Qur'an dan proses tentang perbaikan kandungan ayat yang dilakukan Muhammad. Dalam khazanah kaidah-kaidah kajian Tafsir dan Ulum al-Qur an yang sudah dirumuskan oleh mufassir, apa yang dilakukan Richard Bell di dalam konsepnya terhadap teori nasikh-mansukh ternyata kurang memperhatikan disiplin kedua ilmu tersebut secara komprehensif, salah satunya mengenai ilmu munasabah (korelasi ayat atau antar surat).

Ownership In The Qur'an (A Thematic Study Of Qur'anic Verses)

Qur'an as the source of guidance assists human beings to develop their human resources in order to get welfare. One of way to get the welfare is with property. The property is one of important elements for humanity, because with this property, human being can fulfill their needs and can worship to the God well. The spirit of Islamic teaching is making the rich and develops society. Ironically, there are still many problems related to backwardness in economy, poverty, jobless, and enormous employee. This phenomenon is caused by two factors, namely internal and external. Internal factor comes from man self who does not actualize his potential as hard as possible to change the condition. Besides, Muslim people are misunderstanding for some terms, such as qana'ah, zuhud, wara', patience (sabar), resignation (tawakkal), taqdir / qadha, and else that emerged negative practice in economy growth of Islam. These terms in daily practice is often used as the basis of life of Muslims. Those teachings are understood narrowly, so that the impact is a paradigm which tends to downplay worldly achievement. It should be reformed or even need to have a radical and fundamental effort (revolution) to understand Islam and practice it as well. Meanwhile, external factors come beyond self, for example the coming of economic globalization, corruption, collusion, and nepotism that caused inequity distribution of wealth/ property. Hence, the understanding on ownership is very important, especially in the development of Muslim. Therefore, this paper focuses on ownership that is supported by the verses of Qur'an. To make this research systematic, the researcher uses the method of thematic tafsir. As a thematic study, first, it elaborates ownership as the main theme through its definition, theory and any other discussions in relation to it. It aims to catch comprehensive overview of ownership. Second, it tries to explore some terms such as malaka, istakhlafa, and waratsa and also explore some terms that have tight correlation with ownership, and some verses of Qur'an supporting ownership. Dealing with the contribution of this research to Qur'anic studies, it analyzes the point of view in Qur'an on ownership.

Manifestasi Tasbih Makhluk Menurut Al-Qur an (Studi Tematis Terhadap Ayat-Ayat Tasbih dalam Al-Qur an)

Tasbiĥ adalah sikap tunduk kepada Allāh dan melakukan apa yang Dia perintah, baik dengan lisan, niat, tindakan, atau ketaatan. Tasbiĥ juga dapat diartikan mensucikan Allāh dari segala kekurangan. Semua makhluk memuliakan Allāh, tidak hanya manusia tetapi juga langit, bumi, dan seluruh alam semesta. Akan tetapi bentuk atau manifestasi tasbīĥ setiap makhluk tidaklah sama. Q.S. al-Isra [17]: 44 memiliki konstruksi yang jelas untuk mengulas manifestasi tasbih makhluk. Dalam ayat ini kata tasbīĥ disebutkan dalam bentuk fi il mudhari . Tetapi justru dalam penafsiran para Ulama tidak dijelaskan alasan pemilihan kata ini melainkan mereka lebih menekankan pada bentuk tasbīĥ itu sendiri. bentuk tasbīĥ yang dilakukan makhluk berbeda-beda. diantaranya orang mukalaf yang hidup, bagi mereka tasbīĥ ditempuh dengan dua cara. Yang pertama dengan perkataan. Yakni dengan mengucapkan SubhanaAllah . Dan yang kedua dengan keadaan/perbuatan yakni perbuatan yang menunjukkan pengesaan, pensucian dan pengagungan kepada Allah. Penelitian ini bertujuan untuk menggali manifestasi tasbīĥ makhluk. Karena Allah SWT menciptakan fitrah yang bersih dan mulia dalam diri manusia, lalu melengkapinya dengan bakat dan sarana pemahaman yang baik yang memungkinkan manusia mengetahui kenyataan-kenyataan besar di alam raya ini.. Fitrah manusia mukmin mengarah ke ālam raya untuk mengungkap rahasia dan tujuan penciptaanNya serta berakhir dengan memahami posisi dirinya di ālam raya ini dan menentukan bagaimana ia harus berbuat dan bersikap. Dalam mengkaji manifestasi tasbih makhluk tidak hanya dibutuhkan kajian ayat-ayat Qur aniyah, tetapi juga ayat-ayat kauniyah sangat diperlukan untuk mendukung penjelasan. Untuk itu penelitian ini didasarkan pada analisis Q.S. al-Isra [17]: 44 dengan mengkaitkan ayat-ayat kauniyah sebagai ayat pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata tasbīĥ dalam Q.S. al-Isra [17]: 44 lebih banyak disandarkan kepada hal-hal (makhluk hidup dan yang lainnya) yang tidak berucap. Ini menunjukkan bahwa tasbīĥ atau pensucian kepada Allah ditunjukkan dengan perilaku atau hal. Oleh karena itu manusia harus melakukan pengamatan, ketika manusia berpaling dari pengamatan terhadap (makhluk yang bertasbiĥ tersebut), maka tidak akan mendapat petunjuk mengenai disucikannya Allāh dari hal-hal yang dapat menghilangkan sifat-sifat ketuhanan. Dengan pengamatan dan pengkajian terhadap ayat kauniyah, penulis dapat menjelaskan beberapa manifestasi tasbīĥ makhluk sesuai petunjuk dalam ayat-ayat yang dijelaskan Allāh serta dari ilmu pengetahuan yang ada.

The Concept Of Ḍalāl in Al-Qur'an (Muhammad Syahrur's Hermeneutic Approach)

The Qur'an, the revelation of Allah which provides meanings and guidance for His entire servants is His means to get communication with them. Thus, although in different model or capacity, every Moslem has been getting interaction with the Qur an of course. As the social creature, we listen the expression of deviation in the religious life. In religious life, there are some persons accusing other and some groups accuse other that their religious practices are not appropriate with Al-Qur'an and Hadith. Accusing of other persons will make negative effect to them because they are considered as the wrong way taker. In this era, that accusing is always increasing every time and everywhere. So the impact of that statement is enmity, contravention, conflict, rebellion in many places. Someone who gives deviation claim is majority society that has admitted by government. Whereas the group that got a deviation claim is minority, even they are new ideology. People who gave a deviation claim, they use argumentation of al-Qur'an and hadits as the guidance of Allah for mankind. They considered their self the best group, but the group that got a deviation claim, they also based on al-Qur'an and hadith. So, actually, they learned the same holy book, but in fact, they cannot apply it in the daily behavior. Claimed of deviation caused enmity, rebellion, and conflict among them. For example, in Indonesia, this era there are many rebellions because of the claim of deviation. This thesis explained about the concept of ḍalāl in the al-Qur'an. This thesis used hermeneutic approach of Muhammad Syahrur, the modern reading of holy Qur an or Qira'ah mu ashirah. According to Syahrur, al-Qur an is as the revelation for human. Human have to understand it. Allah has given guidance for human to know the secret of His messages. That guidance is a method to understand Al-Qur'an. That method is manhaj al-tartil/inter-textualitas. Syahrur put this method as one of main principles in his hermeneutic of Al-Qur'an. Syahrur mentioned it as al-ta wil (the relationship between certain texts with other text). Actually, Syahrur has similarity with other scholars, about the principle to go back to the Al-Qur an, but he is more extreme. He asked Muslim have to understand the text seems that Muhammad has passed away just now . Syahrur did not admit the sufi‟s teaching. This means that Al-Qur'an is unlimited. The reader has to understand the Qur'an directly. According to Syahrur, contemporary Muslim have to read the text based on his era. Syahrur believe that the progression of science put the Moslem generation in a good place to understand Al-Qur'an for their importance. The important thing for the interpretation of Al-Qur'an is politic context and intellectual, and the limitation of interpretation in that context is in the text language itself, and the striving of modern era is the text (Al-Qur'an) have to speak . This is the unique of Syahrur s approach. There is no contextualization for text. In the other word, Al-Qur'an, related to this view, is a text without dependability with some contexts. Syahrur used linguistic and compare with the current theories of social sciences. By this analysis, we can get objective meaning. According to Syahrur, the human being must be aware that al-Qur'an should be understood as the holy book which was sent down to human generation and his era. It means, it seems that al-Qur'an has come just now and Muhammad prophet has passed away just now. From analysis of ḍalāl term in the Qur'an with Syahrur s hermeneutic approach, we can conclude that the meaning of ḍalāl in the Qur'an is deviation to wrong (al-bathil) and nothing guidance from God. The concept of ḍalāl is not only on relationship of God and human being, but also in the relationship of human with other. Syahrur s hermeneutic approach stipulates the important of using the current social sciences theories in understanding ḍalāl verses in the Qur an. The conception of ḍalāl in the perspective of social sciences could be summarized as below: => Ideology (Aqidah) Characteristics of ḍalāl related to ideology are hypocrisy, falsehood with Allah‟s name, rejecting to Rasulullah SAW. => Worship (Ibadah) Characteristics of ḍalāl related to worship are polytheism, arrogant to worship to Allah and much more love to world property than hereafter. => Social Interaction Characteristics of ḍalāl related to social interaction are swing round the face when met with other people, controversy and enmity, accusing other people that he has done a deviant behavior without right evidence. => Moral (Akhlak) Characteristics of ḍalāl related to moral are despicable deed, for example homosexual which increase in this era, narcotic, gambling, deny the promise, etc. => Thought Characteristics of ḍalāl related to thought are bad supposition to God that caused many deviations so cleavage the ummah. => Law Characteristics of ḍalāl related to law are someone who does not want to base on law of God. Second is someone who changes the law of God, actually for getting an individual beneficial => Economic Characteristics of ḍalāl related to economic are doing riba, alleviate the weight, alleviate the quality of product, corruption, etc. The moral decadence on this era is the characteristic of ḍalāl in modern era. In social science has explained about the deviant behaviors or we can say it by deviation.

The Principles Of Children Protection In The Holy Qur'an (A Thematic Study Of Qur'anic Verses)

The children are next generation who will continue to connect offspring roots over the times. Besides, children are the future generation who will become the foundation when the current generation started weak. Then the children are the future infestations of the most valuable. Children are still weak, both physically and psychologically. So, in many things a child needs protection, because of the limitations the child cannot do it alone and need some guidance. But the number of cases what put children as victims of various cases of violence against children; trafficking, sexual abuse, neglect or exploitation of children in the economy. Those threaten Muslim s future if it turns out the generation experience on the disease. Internationally or nationally there are instruments to protect children, but it is not yet effective and still require another discourse to join together to prevent violence against children. The Qur an as a book of instructions has its own way to solve the problem. The Qur an contained in the teachings which call for the protection of children. Therefore this paper focus on children protection that supported by of verses of Qur anic verses. To make this research systematic, the researcher uses the method of thematic tafsir. As a thematic study, after determine the theme what will be researched and then discuss about the children itself and children protection: the original and the instrument. Then collect the verses and analyze it. In the Qur an is found some terms represent term children. They are walad, ibnun, shobiy, thifl and gulam. The researcher discusses them in its etymology meaning, not widely be discussed. But the researcher chooses the term that guides her to collect the verses and because the researcher collect the verse in accordance with the contents that have the spirit to protect the children and empower them. The protection what is conceptualized by the Qur an must be able cover important aspect of children, influence and determine the viability of children. They are life, health, religion, education, social status and property. The efforts to protect the children cannot just be responsibility of parent or family, because namely the children have begun their sociality since early. In other hand social construction take a part more in influencing pattern of family. Thus, children protection by involving the society is the important one. Until can reach respect each other to build the society that deserves for children.

Physical Healthy Life Pattern In Hadith Perspective

Ḥadīṡ as the second source of guidance assists human beings to develop their human resources in order to get welfare. As one of Ḥadīṡ s teaching to do so, is that human beings are instructed to do work. Ironically, there are still many problems related to the pattern of healthy life, keep it well, and awareness of human being to improve their healthy life. It is accused that there is lost value in signifying of physical healthy life pattern based on Prophet s tradition. In this case, physical healthy life pattern that based on Ḥadīṡ Nabi is suitable way to get healthy life. Therefore, this paper focuses on physical healthy life pattern that is supported by the aḥādīṡ in which there are sources of the guidance and virtue. To make this research systematic, the researcher uses the method of thematic Ḥadīṡ. As a thematic study, first, it elaborates physical health life pattern as the main theme through its kinds, theory and any other discussions in relation to it. Second, it tries to explore some kinds or patterns of physical healthy life and some aḥādīṡ which are supporting physical healthy life pattern as part of good preventive way and all at once as human responsibility, thanks of God s given and life motivation to get peaceful life. Since this research is bibliographical research, the collecting data is supported by books, websites, journals, and papers that have relationship to the topic. To analyze the data the researcher uses the method of content analysis. The technique of analyzing data compiled and classified are: first, exploring a certain Ḥadīṡ about physical healthy and the pattern to be health in life in kutub at-Tis ah. Second is classifying those aḥādīṡ with their qualities. Third, reading and understanding those aḥādīṡ with the thematic method. Thematic is method by gathering some aḥādīṡ that have correlation toward health and physical healthy life pattern in kutub at-Tis ah, then classifying and analyzing it. The approach that is used is by hermeneutic historical analysis. Dealing with the contribution of this research to Ḥadīṡ studies, it analyzes the point of view in Ḥadīṡ on physical healthy life and its pattern to practice in human daily life.

Pembinaan Moral Spiritual Siswa Melalui Pembiasaan Shalat Jamaah (Studi Analisis Siswa MTs

Siswa MTS (Madrasah Tsanawiyah)/ SMP (Sekolah Menengah Pertama) umumnya adalah berusia antara 12-16 tahun. Di usia itu, anak-anak MTS/SMP sedang memasuki masa transisi antara masa kanak-kanak dan menjelang dewasa dan juga mulai mengalami masa-masa datangnya pubertas, bahkan ada yang bilang masa ini sampai SMA adalah masa pancaroba yang perlu diwaspadai oleh orang tua dan keluarga. Disinilah pentingnya arti pendidikan serta pengajaran agama, dimana pendidikan agama biasanya diartikan sebagai pendidikan yang materi bahasanya berkaitan dengan keimanan, ketakwaan, akhlak dan ibadah kepada Tuhan. Dengan demikian pendidikan agama berkaitan dengan pembinaan moral-spiritual yang selanjutnya dapat mendasari tingkah laku manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Pendidikan agama tidak terlepas dari upaya menanamkan nilai-nilai serta unsur agama pada jiwa seseorang. Dalam kaitan ini, MTS Miftahussa adah yang beralamat di jalan Kauman kelurahan Wonopolo kecamatan Mijen Semarang mengadakan pembiasaan shalat berjamaah di sekolah sebagai upaya untuk pembinaan moral spiritual siswa. Ada dua masalah yang diangkat dalam penelitian ini, Pertama, bagaimana pelaksanaan shalat berjamaah di MTS Miftahussa adah Mijen Semarang? Kedua, Bagaimana dampak pembiasaan shalat berjamaah dalam pembinaan moral spiritual siswa di MTS Miftahussa adah Mijen Semarang? Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi, lalu dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Penelitian ini menemukan beberapa hal, pertama program pembiasaan shalat berjamaah ini dimulai dengan pembelajaran wudhu dan shalat dengan baik dan benar. Shalat yang dilaksanakan secara berjamah yaitu shalat Dhuha, shalat Dhuhur, shalat Jum at dan shalat Ashar. Kedua, Pelaksanaan pembiasaan shalat berjamaah yang dilakukan di MTS Miftahussa adah Mijen Semarang telah memberikan dampak terhadap Allah SWT (hablu mina Allah) dan hubungan siswa dengan masyarakat di sekitar, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah (hablu mina annas). Dari segi hubungan vertikal (hablu mina Allah), shalat jamaah merupakan satu bentuk amal ibadah untuk mengingat Allah Swt. sebagai penciptanya yang wajib disembah. Melalui shalat jamaah akan menumbuhkan sifat optimis (kepastian) pada diri siswa dan menyadarkannya bahwa dia tidak sendirian. Dia pun meyakini bahwa Allah Swt. senantiasa dekat dengannya. Jadi, mereka menjadi sadar bahwa semua kegiatan atau perbuatannya selalu diawasi oleh Allah Swt. Dampak pembiasaan shalat berjamaah terhadap pembinaan moral spiritual terhadap sesama manusia di MTS Miftahussa adah Mijen Semarang antara lain siswa mampu menerapkan beberapa sikap atau akhlak terpuji terhadap sesama manusia, yaitu rasa persaudaraan yang diaplikasikan melalui silaturrahmi, sopan santun terhadap setiap orang, bersikap jujur, baik perkataan maupun perbuatan, begitu pula kedisiplinannya meningkat dari tahun ke tahun.

Tirakat Ziarah Mlaku ke Makam Waliyullah (Tinjauan Fenomenologi Terhadap Musafir di Makam Sunan Kalijaga, Syaikh Kholil Bangkalan, dan Syaikh Syamsuddi

Keberadaan musafir, seorang pejalan kaki dari makam waliyullah ke makam yang lain sudah ada sejak lama, namun dari kalangan pesantren lebih fokus menjadikan tirakat ini sekitar tahun 1955. Namun sampai sekarang belum pernah ada penelitian mengenai hal ini. Penelitian yang menggunakan pendekatan fenomenologi untuk berupaya untuk memperoleh esensi keberagamaan musafir dan motivasi menjalankan tirakat mlaku ini. Sebuah pendekatan yang akan tetap berbeda dari corak pendekatan teologi. Dan fenomenologi berusaha memperoleh gambaran yang utuh serta struktur fundamental dari keberagamaan manusia secara umum (universal, transcendental, inklusif), dan bukannya gambaran keberagamaan manusia yang bersifat partikuler-eksklusif. Selain itu, pendekatan ini memiliki tiga tugas yang harus dilakukan oleh fenomenologi agama. Pertama, ia harus mencari hakikat dari Yang Maha Suci. Kedua, ia harus memberikan teori evolusi (wahyu), dan yang ketiga, ia harus mempelajari tingkah -laku agamis (kegamaan). Oleh karena itu, fenomenologi di sini merupakan koreksi terhadap pendekatan berpikir ilmiah murni. Pendekatan ini harus ditambah dengan pendekatan dogma. Sebab tanpa pendekatan dogma, agama kehilangan kesuciannya. Sebaliknya juga bila pendekatan secara dogmatis saja, juga tidak bisa, sebab dengan dogma orang lain tidak bisa mengerti Penelitian ini dipusatkan pada tiga makam waliyyulah yang dipercaya sebagai tempat keramat dan tempat yang banyak barokah, dan menjadi tujuan utama musafir. Pertama, Sunan Kalijaga, yang disebut wali ing tanah jowo mempunyai pengaruh sangat di bumi Jawa ini. Kedua, Syaikhona Kholil Bangkalan, sebagai gurunya para ulama di Nusamtara ini. Dan ketiga, Syaikh Syamsuddin, meskipun tidak diketahui secara pasti sebagaimana kedua tokoh di atas, tapi makam beliau diyakini sebagai tempat yang keramat dan beliau sendiri mengatakan, bahwa barang siapa saja yang menghatamkan al Qur'an di situ, pasti keinginannya akan di kebulkan oleh Allah SWT . Pada awalnya pelaku ziarah mlaku dari kalangan pesantren yang hanya mencari barokah dengan waliyyulah, sosok yang diyakini dekat dengan Allah SWT sehingga jika meminta untuk dido akan (tawassul), lebih mudah dikabukan oleh Allah SWT. Namun seiring bergantinya tahun ke tahun, tidak hanya musafir yang mempunyai tujuan itu, tapi ada yang lain, diantaranya merguru karo wong mati , mencari jati diri, mencari ilmu hikmah atau kesaktian, dan melarikan diri dari tanggung jawab. Dari motivasi menjalankan tirakat mlaku itu, dalam mendapat pengalan beragama, musafir satu dengan yang lain berbeda-beda. Ada yang hanya merasa hatinya tenang sekali, merasa puas setelah berziarah, mendapat isyaroh berupa ayat-ayat al-Qur'an yang terlintas didepannya dan bahkan ada juga yang bertemu penghuni makam (waliyullah).

Tirakat Ziarah Mlaku ke Makam Waliyullah (Tinjauan Fenomenologi Terhadap Musafir di Makam Sunan Kalijaga, Syaikh Kholil Bangkalan, dan Syaikh Syamsuddi

Keberadaan musafir, seorang pejalan kaki dari makam waliyullah ke makam yang lain sudah ada sejak lama, namun dari kalangan pesantren lebih fokus menjadikan tirakat ini sekitar tahun 1955. Namun sampai sekarang belum pernah ada penelitian mengenai hal ini. Penelitian yang menggunakan pendekatan fenomenologi untuk berupaya untuk memperoleh esensi keberagamaan musafir dan motivasi menjalankan tirakat mlaku ini. Sebuah pendekatan yang akan tetap berbeda dari corak pendekatan teologi. Dan fenomenologi berusaha memperoleh gambaran yang utuh serta struktur fundamental dari keberagamaan manusia secara umum (universal, transcendental, inklusif), dan bukannya gambaran keberagamaan manusia yang bersifat partikuler-eksklusif. Selain itu, pendekatan ini memiliki tiga tugas yang harus dilakukan oleh fenomenologi agama. Pertama, ia harus mencari hakikat dari Yang Maha Suci. Kedua, ia harus memberikan teori evolusi (wahyu), dan yang ketiga, ia harus mempelajari tingkah -laku agamis (kegamaan). Oleh karena itu, fenomenologi di sini merupakan koreksi terhadap pendekatan berpikir ilmiah murni. Pendekatan ini harus ditambah dengan pendekatan dogma. Sebab tanpa pendekatan dogma, agama kehilangan kesuciannya. Sebaliknya juga bila pendekatan secara dogmatis saja, juga tidak bisa, sebab dengan dogma orang lain tidak bisa mengerti Penelitian ini dipusatkan pada tiga makam waliyyulah yang dipercaya sebagai tempat keramat dan tempat yang banyak barokah, dan menjadi tujuan utama musafir. Pertama, Sunan Kalijaga, yang disebut wali ing tanah jowo mempunyai pengaruh sangat di bumi Jawa ini. Kedua, Syaikhona Kholil Bangkalan, sebagai gurunya para ulama di Nusamtara ini. Dan ketiga, Syaikh Syamsuddin, meskipun tidak diketahui secara pasti sebagaimana kedua tokoh di atas, tapi makam beliau diyakini sebagai tempat yang keramat dan beliau sendiri mengatakan, bahwa barang siapa saja yang menghatamkan al Qur'an di situ, pasti keinginannya akan di kebulkan oleh Allah SWT . Pada awalnya pelaku ziarah mlaku dari kalangan pesantren yang hanya mencari barokah dengan waliyyulah, sosok yang diyakini dekat dengan Allah SWT sehingga jika meminta untuk dido akan (tawassul), lebih mudah dikabukan oleh Allah SWT. Namun seiring bergantinya tahun ke tahun, tidak hanya musafir yang mempunyai tujuan itu, tapi ada yang lain, diantaranya merguru karo wong mati , mencari jati diri, mencari ilmu hikmah atau kesaktian, dan melarikan diri dari tanggung jawab. Dari motivasi menjalankan tirakat mlaku itu, dalam mendapat pengalan beragama, musafir satu dengan yang lain berbeda-beda. Ada yang hanya merasa hatinya tenang sekali, merasa puas setelah berziarah, mendapat isyaroh berupa ayat-ayat al-Qur'an yang terlintas didepannya dan bahkan ada juga yang bertemu penghuni makam (waliyullah).

Motivasi Keberagamaan pada Anak (Studi Kasus di Masjid

Anak adalah suatu amanat Tuhan yang diberikan kepada kedua orang tuanya. kelahiran anak di dunia ini merupakan akibat langsung peradaban orang tuanya, hal ini menunjukkan bahwa kedua orang tuanya harus menanggung segala resiko yang timbul sebagai akibat dari perbuatannya yaitu bertanggung jawab atas pemeliharaan anaknya sebagai amanat Tuhan. Tujuan dari penelitian yang penulis lakukan adalah untuk mengetahui sejauh mana tingkat kesadaran beragama pada anak usia dini, dengan cara menganalisa motivasi-motivasi anak dalam menjalankan aktivitas keberagaman. Dengan mengetahui motivasi keberagamaan pada anak diharapkan nanti para orang tua atau lingkungan yang menaungi mau untuk mengevaluasi diri tentang apa-apa yang harus dibenahi dan apa yang perlu ditingkatkan lagi, demi kemajuan anak-anak mereka. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus di lapangan (file research) dengan teknik analisis deskriptif kualitatif yaitu dengan menggambarkan fenomena kejadian di lapangan dalam bentuk ungkapan-ungkapan tertulis, yang bisa mengungkapkan kejadian-kejadian atau fenomena yang terjadi di lapangan. Dari penelitian yang dilakukan penulis dapat memberikan gambaran bahwa motivasi yang muncul dari diri anak-anak dalam menjalankan aktivitas keberagamaannya khususnya di Masjid Miftahul Huda Kel. Purwoyoso-Semarang, adalah tidak murni dari dalam diri mereka sendiri, akan tetapi terpengaruh dari faktor luar, terutama lingkungan yang menaunginya baik lingkungan keluarga, sosial maupun lingkungan sekolah. Seperti contoh ketika anak menjalankan sholat berjamaah di masjid mereka hanya ikut-ikutan temannya. Dengan penelitian ini, diharapkan akan menambah pengetahuan bagi penulis sendiri dan juga para pembaca semuanya. Supaya bisa menambah wawasan kita semua tentang dunia anak yang merupakan cerminan dari kehidupan lingkungan sekitar yang menaungi. Jadi kita tidak meremehkan dan menganggap rendah dunia anak.

Konsep Dosa Menurut Pandangan Agama Kristen Katolik dan Islam (Studi Komparatif)

Kristen berasal dari Kristus, yang artinya gelar kehormatan buat Yesus dari Nazareth, Kristus berasal dari bahasa Yahudi yang berarti "diurapi", masalah dosa mempunyai peranan penting dalam Kristen Katolik, dalam kejadian 3 dijelaskan bahwa ketika manusia memutuskan untuk makan buah itu, maka jelaslah bahwa hakekat dosa bukan hanya tidak percaya kepada Allah, bahkan memberontak kepada Allah, sehingga manusia mendapat hukuman, hidup dalam perbudakan dosa dan terkena murka Allah. Islam berasal dari bahasa Arab "slim" yang artinya damai, suci, putih dan taat, Islam adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai pedoman untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dosa merupakan bagian tali erat dalam ikatan persaudaraan Islamiyah, karena dosa mempunyai peranan penting dalam Islam yang menyangkut hubungan Allah dengan manusia. Tujuan penulisan ini adsalah untuk mengetahui pengertian konsep dosa menurut pandangan Kristen Katolik dan Islam (studi komparatif), untuk mengetahui dampak dosa yang ada di dalam kehidupan manusia dan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan konsep dosa menurut pandangan Kristen Katolik dan Islam. Penulisan skripsi ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan teknik pengumpulan data berupa library research. Sebagaimana sumber primer diperoleh secara langsung dari kitab suci agama Islam dan Kristen, yaitu Al-Qur'an dan Injil. Sedangkan sumber data sekunder diperoleh melalui buku-buku perpustakaan yang ada relevansinya dengan judul skripsi ini. Dalam menganalisis data penelitian menggunakan metode deskriptif, content analysis dan komparatif. Dosa dalam ajaran Kristen Katholik adalah gagal untuk hidup sesuai dengan yang direncanakan oleh Allah, kata dosa mempunyai arti meleset dari tujuan menyeleweng dari jalan yang sudah ditentukan sebagaimana diterangkan di dalam Kitab Perjanjian Baru Roma, 5:12 "Sebab itu seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut. Demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa". Jelas bahwa dalam agama Kristen Katolik dosa itu adalah dosa warisan yang diturunkan kepada seluruh umat manusia di dunia, perbuatan Adam dan Hawa ini telah melanggar perintah Allah kematian Yesus Kristus dianggap sebagai penebus dosa manusia. Dalam ajaran Islam dosa itu, adalah sesuatu yang jahat dimata Allah, dosa itulah yang selalu menghalangi doa-doa dan permohonan kita kepada yang kuasa, akhirnya apa yang kita mohon tidak sampai kepada Tuhan. Islam menganggap bahwa setiap individu bertanggungjawab atas segala perbuatan yag dilakukannya, jadi dalam Islam tidak terdapat dosa yang diwariskan. Dampak dosa dalam agama Kristen Katolik dan Islam itu sendiri adalah jauh dari kasih sayang Allah.

Metode dan Corak Tafsir Fath Al-Qadir Al-Jami'baina Fannai Ar-Riwayah Wa Ad-Dirayah Min 'Ilmi At-Tafsir (Karya Imam As-Syaukani)

Ada beberapa alasan mengapa penulis mengangkat tafsir Fath al-Qadir dan metode dan corak penafsiran As-Syaukani. Alasan Pertama, As-Syaukani di dalam tafsir Fath al-Qadir uraiannya hendak menggabungkan atau memadukan sumber-sumber yang berasal dari pendekatan riwayah dan dirayah . Alasan kedua ialah, Imam As-Syaukani adalah seorang ulama Syi'ah Zaidiyah. Alasan Ketiga ialah, Zaidiyah dalam konteks menetapkan hukum menggunakan Al-Qur'an, Sunnah, nalar dan tidak membatasi penerimaan hadis dari keluarga Nabi semata, tetapi mengandalkan juga riwayat-riwayat dari sahabat-sahabat Nabi yang lain. Dalam bidang prinsip-prinsip ajaran Agama (akidah), Zaidiyah menganut paham Mu'tazilah bahkan mereka mengagungkan tokoh-tokoh Mu'tazilah melebihi pengagungan mereka terhadap imam-imam Itsna 'Asyariyah. Sedangkan dalam hukum-hukum yang berkaitan dengan rincian agama, Zaidiyah banyak sejalan dengan pandangan Madzhab Abu Hanifah dan sedikit dengan Madzhab Syafi'i, tidak heran jika dalam sekian banyak pesantren di Indonesia, beberapa buku/kitab karya ulama-ulama Zadiyah banyak dijadikan rujukan, misalnya buku Nail al-Authar dalam bidang Hadis dan interpretasinya, Irsyad al-Fuhul dalam bidang ushul fiqh, Fath al-Qadir dalam bidang tafsir dan lain-lain, karya ulama Yaman kenamaan, Muhammad bin 'Ali As-Syaukani (1760-1834 M). Kajian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library research) yang sasarannya adalah metode dan corak penafsiran as-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadir al-Jami Baina Fannai ar-Riwayah wa ad-Dirayah min 'Ilm at-Tafsir. Sumber data penelitian ini bersumber dari dua data; primer dan sekunder, sumber primernya adalah. tafsir Fath al-Qadir al-Jami Baina Fannai ar-Riwayah wa ad-Diraah min 'Ilm at-Tafsir, Sedangkan sumber sekunder yang digunakan adalah buku-buku yang terkait dengan cakrawala pemikiran as-Syaukani dan ilmu-ilmu yang terkait dalam berbagai disiplin ilmu hususnya Ilmu Tafsir. Metode Pengumpulan Data adalah dengan menggunakan metode dokumentasi, penelitian ini bersifat kualitatif berupa penelitian kepustakaan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini akan disesuaikan dengan objek permasalahan yang dikaji. Sebagaimana tersebut di atas, objek penelitian yang dikaji dalam tulisan ini, berupa pemikiran maka objek penelitian tersebut dianalisis dengan mengunakan analisis deskriptif yang meliputi dua jenis pendekatan. Pendekatan analisis isi (content analysis) dan Pendekatan Sosio-Historis.Dalam tafsir "Fath al Qadir al-Jami' Bain Fannai ar-Riwayah wa ad-Dirayah min 'Ilm at-Tafsir‚" as-Syaukani menggabungkan pendekatan yang bersumber dari riwayat dan dirayah, dengan menggunakan metode tahlili bi tartib rasm Utsmani. Dan corak yang digunakan as-Syaukani dalam menafsirkan Al-Qur'an, antara lain; corak sastra bahasa, corak kalam, corak fiqh dan juga menggunakan corak tasawuf.Tafsir Fath al-Qadir dari aspek metodologi yang dipakainya masih relevan untuk dijadikan sebagai referensi penafsiran Al-Qur'an di era modern sekarang ini, karena secara materiil tafsir Fath al-Qadir yang disusun as-Syaukani dalam konteks kesejarahannya mengandung muatan nilai-nilai historis yang sangat berguna untuk dijadikan cerminan bagi para mufassir-mufassir kemudian.

Makna Tasbih dalam Al-Qur'an (Studi Tafsir Tematik)

Para ahli tafsir dalam menafsirkan tasbih itu Tanzih Ilallah akan tetapi dalam memahami bagaimana bentuk tasbih makhluk yang Ghairu Mukallaf mereka berbeda pendapat. Ada yang mengatakan bahwa tasbih makhluk Ghairu Mukallaf itu dimaknai dengan makna Hakiki ada yang dimaknai dengan makna Majazi. Akan tetapi pada dasarnya, Allah telah memberikan rambu-rambu untuk manusia yang terdapat dalam al-Qur'an surat al-Isra ayat 44 yaitu bahwa semua apa-apa yang ada di langit tujuh dan bumi semuanya bertasbih akan tetapi kalian semua tidak akan mengetahui tasbih mereka. Adapun yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah pertama, bagaimana konsep tasbih dalam Al-Qur'an, kedua Bagaimana cara bertasbih sesuai dengan penjelasan al-Qur'an dan yang ketiga Apa relevansi anjuran bertasbih dalam kehidupan, sedangkan untuk penelitian skripsi ini bersifat library murni. Mengumpulkan seluruh ayat-ayat Al-Qur'an yang berhubungan, sebagai data deskriptif,. Pendekatannya ilmu tafsir, karena yang menjadi kajian adalah ayat-ayat Al-Qur'an.Dalam usaha penafsiran makna kata tasbih dalam Al-Qur'an agar mendapatkan sebuah pemahaman yang pas dan sesuai dengan kehendak sang pencipta, maka penafsiran ini menggunakan metode tafsir maudhui atau tafsir tematik, dengan metode tafsir tematik tersebut diharapkan mendapatkan informasi tentang makna kata tasbih secara komprehensif dan lebih dipertanggung jawabkan kebenarannya.Dengan menggunakan penafsiran secara tematik, dapat diketahui bahwa ternyata konsep tasbih dalam Al-Qur'an memiliki pemahasucian terhadap apa-apa yang disekutukan kepada Allah. Maka dalam Pengungkapan ayat-ayat tasbih digandengkan dengan kata Mustakbirun, Yasifuun, Musyrikun, dan juga banyak yang terdapat kata yang meng-Esa-kan Allah Swt seperti kata wahidan, dan juga banyak kata tasbih selalu diakhiri dengan Asmaul Husna yang menunjukkan makna ketinggian dan kebesaran-Nya yaitu seperti kata 'Uluwan, Kabiir, Qahhar, Adapun dalam cara atau bentuk bertasbihnya disini ada dua pendapat akan tetapi pada hakikatnya semuanya bertasbih tidak terkecuali apapun, adapun tasbih mereka dengan menggunakan bahasa mereka sendiri dan bentuk fitrah mereka yaitu yang selalu tunduk dan patuh atas perintah Allah Swt. Akan tetapi al-Qur'an memberikan isyarat yang terdapat dalam QS. Ar-Rad: 13 yaitu Tusabbih Ar-Ra'du Bi Hamdihi ini mengindikasikan bahwa alam bertasbih dengan bacaan tahmid yaitu al-hamdulillah seperti halnya tasbih Malaikat. Adapun relevansinya tasbih dalam kehidupan terutama pada manusia yaitu supaya manusia itu menjadi manusia yang sabar, tawakkal dan taubat yaitu dalam al-Qur'an kata tasbih di awali dengan kata sabar (Fasbir 'Ala Maa Taquuluun Wa Sabbih Bi hamdi rabbika) dan Tawakkal (Watawakkal 'Ala Al-Hayyi Al-Ladzi La Yamut Wasabbih Bi Hamdihi) dan taubat (Fasabbih Bi Hamdika Wastagfirh) Adapun dalam waktu pentasbihan kepada Allah Swt dalam al-Qur'an disebutkan yaitu lail dan nahar (malam dan siang) dan buqrah dan ashil (pagi dan petang) akan tetapi kebanyakan ahli tafsir menafsirkan Lail, Nahar, Bukrah, Ashil ini waktu yang begitu panjang, terus menerus tidak ada habisnya. Dalam al-Qur'an juga diperingatkan bagi makhluk yang tidak bertasbih yaitu adab yang begitu pedih 'Adaba al-Jahiim. Karena tasbih tidak ada batasannya maka jika salah satu alam tidak bertasbih maka kehancuran dan kebinasaanlah yang akan terjadi. Karena alam semesta ini dibuat dengan tasbih dan tahmid. Maka begitu pentingnya tasbih bagi kehidupan manusia dan alam semesta. 

Konsep Nafsu dalam Perspektif Imam Gereja Katolik (Studi Kasus para Imam dalam Menjalani Hidup Selibat di Novisiat Santo Stanlislaus Girisonta Ungaran Semarang)

Skripsi dengan judul "Konsep Nafsu Dalam Perspektif Imam Gereja Katolik (Studi Kasus Para Imam dalam Menjalani Hidup Selibat)" ini merupakan penelitian lapangan (fiel research). Adapun perumusan masalah adalah: a) Bagaimana Konsep nafsu menurut pandangan imam, b) Implikasi nafsu bagi imam dalam kehidupan. Tujuan penelitian ini untuk: 1). Agar dapat mengetahui nafsu menurut pandangan imam. 2) Untuk mengetahui beberapa implikasi konsep nafsu menurut pandangan imam dalam kehidupan. Skripsi ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Sumber data diperoleh dari data primer (secara langsung) adalah hasil dari field research (penelitian lapangan) yaitu wawancara dengan Romo Sardi sebagai imam di Novisiat Santo Stanislaus Girisonta Ungaran Semarang dan data sekunder (tidak langsung) yaitu literature lainnya yang relevan dengan permasalahan yang dikaji. Adapun metode pengumpulan data yaitu dengan interview, observasi dan dokumentasi. Sedangkan analisis data adalah deskriptif analisis yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena atau keadaan para Imam di Novisiat Santo Stanislaus Girisonta Ungaran Semarang. Hasil penelitian ini yaitu: a). Konsep nafsu menurut Imam Gereja Katolik Setiap nafsu yang dimiliki setiap manusia sama pada umumnya, meskipun seorang iman Katolik sekalipun. Namun para imam bisa mengendalikan nafsu mereka dengan pola hidup seimbang yang diterapkan adalah kehidupan sehari-hari. Seorang Imam sama dengan manusia lainnya mempunyai berbagai macam nafsu antara lain nafsu makan, seks, balas dendam dan lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari nafsu itu muncul dalam berbagai kondisi. Namun perlu adanya penataan terhadap munculnya nafsu-nafsu tersebut. Apabila manusia menata nafsunya dalam peran akal budi dengan kehendak yang didisiplinkan dengan prinsip hidup seimbang dan sehat maka nafsu tersebut akan terkendali. Liar tidaknya nafsu ditentukan oleh pengelolaan nafsu-nafsu yang lain. Ada dua hal penting dalam penataan nafsu para Imam Katolik. Penataan indra atau pengendalian panca indra. Pengendalian batin (pikiran, perasaan, dan keinginan) termasuk imajinasi. Dengan adanya penataan nafsu-nafsu yang ada pada setiap manusia termasuk seorang Imam, maka nafsu-nafsu yang ada akan mudah dikendalikan dengan cara hidup cukup dan teratur. Karena kebutuhan satu dengan kebutuhan yang lain akan saling berhubungan. Apabila salah satu kebutuhan dipenuhi dengan berlebihan maka akan mempengaruhi kebutuhan yang lainnya b).Implikasi nafsu Imam Katolik dalam kehidupan Implikasi nafsu yang di lakukan oleh Imam Katolik dalam kehidupan adalah sebagai berikut: a. Penerapan hidup disiplin Untuk bisa menjaga nafsu yang ada pada seorang imam, maka mereka harus hidup disiplin dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Karena dengan disiplin mereka akan selalu mengingat tanggung jawab sebagai imam dan menjadi tauladan hidup bagi umat Nya. b. Hidup seimbang Dalam menjalani hidup sehari-hari, seorang imam harus dapat menjaga nafsunya dengan pola hidup seimbang. Dalam hidup seimbang ini, seorang imam harus bisa menjaga kebutuhan jasmani dan rohaninya dengan cara makan dan minum secukupnya, olah raga yang cukup dan teratur dan lainnya

Studi Pelaksanan Mihnah pada Masa Khalifah Al - Ma'mun

Kaum Mu'tazilah adalah golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis dari pada persoalan-persoalan yang dibawa aliran lainnya seperti kaum Khawarij dan Murji'ah. Dalam pembahasannya mereka banyak menggunakan kekuatan akal sehingga mereka sering dijuluki "Kaum Rasionalis Islam". Ajaran pokok aliran Mu'tazilah adalah panca ajaran atau pancasila Mu'tazilah. Diantara kelima konsep teologis tersebut dalam paham Mu'tazilah adalah al-Tauhid atau ke-Maha Esa-an Tuhan. Dalam paham mereka Tuhan akan betul-betul Maha Esa kalau Dia merupakan suatu zat yang unik, tidak ada yang serupa dengan Dia. Satu-satunya sifat Tuhan yang betul-betul tidak mungkin ada pada makhluknya adalah sifat qadim, dalam arti tidak mempunyai permulaan. Dan oleh karena itu tidak ada yang lain selain dari Allah yang bisa bersifat qadim. Hanya Zat Tuhan yang boleh qadim. Atas dasar keyakinan ini, selain Zat Tuhan adalah makhluk. Konsekuensi logis dari keyakinan ini berakibat pada pemahaman bahwa al-Qur'an adalah makhluq, baharu dan diciptakan. Menurut paham Mu'tazilah jika Al-Qur'an memiliki sifat qadim, maka akan menimbulkan adanya zat yang qadim selain Tuhan. Hal ini berarti menduakan Tuhan (Syirik). Syirik adalah dosa besar dan tidak dapat diampuni Tuhan. Mu'tazilah merupakan aliran teologi yang dekat, bahkan bisa dikatakan berafiliasi, dengan kekuasaan dinasti Bani Abbasyiah fase pertama. Karena dekatnya, pada masa pemerintahan Al-Makmun (198 H - 218 H/813 M - 833 M). Mu'tazilah dijadikan madzhab resmi yang dianut oleh negara. Dengan posisi ini mereka memaksakan paham dan keyakinannya kepada golongan lain dengan menggunakan kekuatan yang mengaibatkan timbulnya suatu peristiwa yang terkenal dengan nama "Peristiwa al-Qur'an". Dari uraian singkat di atas, timbullah pertanyaan-pertanyaan yang berangkai. Apa mihnah itu ? Apa yang melatarbelakangi timbulnya mihnah? Tulisan ini mencoba mencari jawaban atas beberapa pertanyaan tersebut di atas, serta mengambil manfaatnya dalam usaha membangkitkan kembali kejayaan umat Islam di masa kini dan akan datang. Usaha kaum Mu'tazilah dalalm memadukan antara ilmu pengetahuan dan filsafat dengan Islam, ternyata membawa dampak positif terhadap paham ke-Esaan Tuhan. Hal itu teerbukti secara falsafi dan Qur'an, paham kemakhlukan al-Qur'an sulit untuk diterima oleh kebanyakan orang. Paham ini terbatas bagi kaum intelek dan ilmuan. Gerakan mihnah sebagai usaha dalam menanamkan paham kemakhlukan al-Qur'an adalah sebagai manifestasi dari ajaran al-tauhid dan al-amr bi al-ma'ruf wa al-nahy'an al-munkar dalam ajaran pokok Mu'tazilah.

Penafsiran Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad Terhadap Ayat-Ayat Tentang Kenabian (Studi Tafsir Ahmadiyah: Qur'anum Majid)

Jemaat Ahmadiyah merupakan salah satu gerakan yang banyak mendapat hujatan dan celaan karena beberapa ajarannnya dinilai menyimpang dari ajaran Islam. Maka disini penulis berusaha meneliti salah satu tafsir Ahmadiyah yaitu tafsir Qur'anummajid karya Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad sebagai khalifah ke-II. Sekaligus putra dari pendiri jemaat Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad. Penelitian ini berusaha dan bertujuan untuk mengetahui; Bagaimana penafsiran Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad tentang kenabian dalam tafsirnya qur'anummajid dan bagaimana relevansi penafsiran Basyiruddin Mahmud Ahmad dengan kondisi sekarang ini. Penulisan skripsi ini menggunakan jenis studi dengan mendasarkan pada penelitian Pustaka ( library research ) dengan metode kualitatif yang mendasarkan data dari sumber -sumber primer maupun sekunder. Yang pertama tentunya karya-karya dari Basyiruddin Mahmud Ahmad yaitu tafsir Quranummajid dan buku-buku penunjang baik dari media cetak maupun audio visual. Penelitian ini menghasilkan data-data deskriptif berupa rangkaian tulisan dari beberapa buku tentang kenabian terakhir dan penafsiran Basyiruddin Mahmud Ahmad tentang kenabian. Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan, Seorang Nabi dan Rasul akan diutus pada setiap zaman,sehingga setelah rasulullah SAW wafat, kenabian masih tetap berlangsung hingga akhir zaman,ia beranggapan jika kenabian telah selesai, maka kedzaliman akan merajalela dan tiada kedamaian sehingga berakhirlah kehidupan dunia.maka diutuslah Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dengan mengikuti ajaran Rasulullah tanpa harus membawa kitab baru. Tafsir Singkat (Qur'anummajid) karya Basyiruddin adalah kitab tafsir yang penafsirannya lebih banyak didominasi oleh sifat subjektivitas. Dalam menafsirkan beberapa ayat dalam al-Qur'an Basyiruddin Mahmud Ahmad mendukung ajaran Ahmadiyah dengan cara menjadikan mazhab mereka sebagai dasar sedangkan penafsirannya mengikuti paham mazhab tersebut. Relevansi penafsiran Basyiruddin dengan kondisi sekarang yang mengklaim Mirza sebagai nabi, mujaddid, masih, dan mahdi, sesungguhnya pada saat yang tepat. Artinya, keberadaan Mirza sebenarnya sesuai dengan tuntutan zaman dan keadaan. Dengan kata lain, zaman itu sangat membutuhkan kehadirannya. Bukan sebagai nabi tetapi sebagai pembaharu yaitu mengembalikan islam dan mencegah kedzaliman didunia ini. Hal ini tidak dalam pengertian personal. Maksudnya seandainya bukan Mirza, maka dapat dipastikan ada orangg lain yang akan membuat pengakuan-pengakuan seperti itu. Namun demikian kita dapat mengambil manfaat, diantaranya : Dapat mendorong kita untuk lebih taat kepada Allah dan Rasul-Nya tetapi masih tetap dalam konteks yang tidak menyimpang dari ajaran islam, bukan bertujuan untuk menjadi seorang nabi tetapi memotivasi untuk bisa lebih berbuat baik dan beribadah. Dan bertujuan semata-mata belajar dan menuntut ilmu untuk mencari Ridho Allah SWT dan diharapkan dapat mendorong tumbuhnya wawasan jauh kedepan dengan sikap jiwa yang teguh berpegang pada al-Qur'an dan Hadits.

Kontekstualisasi Konsep Basyir dan Nadzir dalam Al-Qur'an (Studi Tematik Atas Penafsiran Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab dalam Kitab Tafsir Al-Misbah)

Mendiskusikan konsepsi terminologi ataupun istilah tertentu sebagai sebuah produk kebahasaan akan menjadi sangat menarik ketika dikaitkan dengan kitab suci al-Qur'an. Apalagi jika terminologi tersebut merupakan salah satu bagian dari kosa kata yang dipergunakan oleh al-Qur'an itu sendiri. Penelitian ini berupaya untuk mengkaji terminologi Basyir dan Nadzir yang memang cukup banyak tersaji dalam berbagai ayat-ayat al-Qur'an, baik melalui kosa kata Basyir dan Nadzir itu sendiri dengan segala derivasinya, maupun melalui ayat-ayat yang secara substantif memiliki muatan dari makna Basyir dan Nadzir, untuk kemudian menyimpulkan konsep al-Qur'an tentang kedua terminologi tersebut dengan menggunakan metode tafsir tematik atau yang lebih dikenal dalam kajian ilmu tafsir sebagai al-Tafsir al-Maudlu'iy. Dalam skripsi ini, penulis memfokuskan pada masalah kata "Mundzir" berasal dari kata "Andzara"Artinya peringatan", jadi mundzir isim Faail dari Andzara itu yang berarti "Orang yang memberikan peringatan". Biasanya kata-kata Mundzir itu selalu dikaitkan atau didahului oleh kata-kata "Mubassyiir" yang berarti "Memberi kabar gembira,juga bia berartikan kabar petakut"lihat saja Firman Allah "Fabassyirhum Biazaabin Aliim", tapi kata mubassyir otentik dengan kata"Orang yang memberikan khabar gembira karena antara kedua kata itu saling berteman dekat, dan juga dikarenakan Allah pada ayat sebelumnya telah banyak menyebutkan gandengan kedua kata tersebut,jadi tak perlupun disebutkan kabar gembira itu orang sudah akan faham bahwa tugas Rasul itu adalah pemberi kabar gembira dan petakut. Juga dikarenakan, yang paling terpenting dari diutusnya Rasul pada Ummatnya adalah sebagai pembawa peringatan. Namun demikian, tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab ini corak penafsirannya lebih condong pada tafsir adaby-ijtima'y, yang menitikberatkan pada penjelasan ayat-ayat al-Qur'an dari segi ketelitian redaksinya, kemudian menyusun kandungan ayat-ayat tersebut dalam suatu redaksi yang indah dengan penonjolan tujuan utama dari tujuan-tujuan al-Qur'an yaitu membawa petunjuk dalam kehidupan, kemudian mengadakan penjelasan ayat dengan hukum-hukum yang berlaku dalam masyarakat dan pembangunan. Meskipun ia sendiri tidak pernah mengungkapkan corak tafsir yang disusunnya itu, namun setelah peneliti menelaah lebih mendalam sampai pada mengambil kesimpulan demikian. Ketika membahas konsep basyir dan nadzir ini menurut M. Quraish Shihab dalam kitab Tafsir al-Misbah memang tidak dijelaskan secara tematis (maudhu'iy) namun secara tahliliy (sesuai urutan ayat). Menurutnya, kata basyir dengan segala derivasinya kebanyakan menunjukkan "berita gembira" dari Allah melalui wahyu yang dibawa nabi Saw, meskipun jika dilihat dari segi siyaq al-kalam dan munasabat al-ayat tidak selamanya menunjukkan bahwa Rasul sebagai "pembawa berita gembira", namun terkadang juga menunjuk "kabar menyedihkan" sebagaimana fungsi nadzir. Sedangkan kata nadzir (pemberi peringatan) sering disebutkan setelah kata basyir dan terkadang sebelum kata basyir. Jika objek yang dihadapi Nabi cenderung kuat pembangkangannya maka pendekatan indzār didahulukan, dan berlaku sebaliknya. Namun ketika nadzir atau basyir disebutkan secara terpisah pada ayat-ayat yang berbeda, maka fokus utamanya adalah pada satu hal, yakni fungsi tabyir (kabar gembira) saja atau indzar (peringatan) saja, meskipun maksud di dalamnya terdapat munasabat (keterkaitan) antara kedua kata tersebut

Peringatan Tradisi Maulid Nabi Saw Serta Pembacaan Kitab Al-Barzanji di Desa Pegandon Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal (Studi Komparatif Menurut Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah)

Peringatan Tradisi Maulid Nabi Serta Pembacaan Kitab Al-Barzanzi di desa Pegandon Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal (Studi Komparatif Menurut Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah) Skripsi. Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang, 2010. Manusia dalam kehidupannya tidak dapat terlepas dari persoalan agama, yang selalu menjadikan pro dan kontra dalam memberikan argumen-argumen untuk menanggapi suatu persoalan yang terjadi terhadap budaya atau tradisi pada suatu ajaran-ajaran dan syariat agama. Kajian yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu, Pertama, Bagaimana Peringatan tradisi Maulid Nabi menurut Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, Kedua, Bagaimana penerimaan Tradisi Pembacaan kitab al-Barzanji dalam pandangan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di desa Pegandon kabupaten Kendal, dan Ketiga, Sejauh mana persamaan dan perbedaan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di desa Pegandon kabupaten Kendal dalam menyikapi Peringatan Maulid Nabi serta Pembacaan kitab al-Barzanji dalam tinjauan aqidah Islam. Adapun metode penelitian skripsi ini terdiri dari: jenis data, menggunakan data Kualitatif, Subyek dalam penelitian ini adalah pelaku pada tradisi Maulid serta pembacaan kitab al-Barzanji di desa Pegandon Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal, dari beberapa informan yaitu dari kalangan Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah. Pengambilan sampel menggunakan metode Proporsif sampling, disamping itu juga menggunakan metode survey dengan teknik analisis pengumpulan data, menggunakan instrumen interview, observasi dan dokumentasi. Data penelitian yang terkumpul kemudian dianalisis dengan metode Deskriptif Kualitatif, Fenomenologi dan metode Komparasi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa: ternyata ada persamaan dan perbedaan dalam menyikapi peringatan tradisi maulid serta pembacaan kitab al-Barzanji. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh yang positif terhadap aqidah Islam, walaupun banyak kalangan ulama yang mempersoalkan tentang tradisi tersebut. Ternyata dari data di Desa Pegandon, baik dikalangan warga Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah, sama-sama menjalankan tradisi Maulid dan Pembacaan kitab al-Barzanji hanya saja dalam deskriptifnya terdapat perbedaan yang sangat nyata yaitu dengan lontaran yang dikemukakan Muhammadiyah bahwa persoalan tersebut merupakan suatu produk budaya yang di pertanyakan keabsahanya karena dinilai bid'ah. Akan tetapi dalam hal ini digolongkan sebagai masalah ijtihadiyah, karena tidak ada nash yang menunjukkan atau dapat dijadikan dasar secara langsung dalam penetapan hukumnya. Sedangkan mengenai kitab al-Barzanji dalam pandangan Muhammadiyah dinilai melanggar batas puji-pujian kepada rasulullah, karena melalui syair-syairya yang dianggap ghullu dan ikhtiara serta menggapnya sebagai suatu bentuk pemujaan yang berlebihan, karena itu tidak ada pada zaman rasulullah dan generasi para-tabiat tabiin. Walaupun isi dari kitab tersebut memang ada baiknya, uraiannya yang mengandung pujian-pujian yang baik bagi rasul, tetapi ada yang keterlaluan sehingga mengurangi isi bahkan kalau tidak dapat dikatakan menghilangkan makna penghormatan kepada Nabi. Sehingga peran penting aqidah Islam dalam upaya membentengi diri terhadap perilaku yang menyimpang yang dianggap bid'ah yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Walaupun tak jarang dalam realitasnya ternyata banyak dari kalangan Muhammadiyah terlibat dalam aktifitas ini. Berbeda dengan pemahaman Nahdlatul Ulama bahwa tradisi tersebut dimanfaatkan Nahdlatul Ulama sebagai metode dakwah serta syiar agama dan menganggapnya sebagai Bid'ah hasanah maka dalam perkembangannya pembacaan kitab al-Barzanji dapat di terima oleh masyarakat di kalangan Nahdlatul Ulama.

Pandangan Al-Qur'an Terhadap Praktek Kolusi dan Nepotisme

Penelitian ini dilatarbekangi oleh adanya beberapa ayat Al-Qur'an yang menjelaskan tentang persoalan Kolusi dan Nepotisme. Namun selama ini ayat-ayat tersebut kurang mendapat tempat dalam aspek sebagai dasar hukum maupun dalam lingkup penelitian. Oleh sebab itu perlu adanya penelitian yang berkaitan dengan tafsiran ayat-ayat Kolusi dan Nepotisme. Fokus permasalahan adalah : 1. bagaimana pandangan Al-Qur'an terhadap praktek Kolusi dan Nepotisme?. 2. bagaimana dampak praktek Kolusi dan Nepotisme bagi kehidupan masyarakat? Penelitian ini bersifat kepustakaan (Library research) atau penelitian literatur murni. Data-data yang terkait dengan studi ini dikumpulkan melalui studi pustaka. Mengingat studi ini tentang pemahaman ayat-ayat Al-Qur'an dengan telaah dan analisis penafsiran terhadap kitab-kitab tafsir, maka secara metodologi penafsiran ini dalam kategori penelitian exploratif, artinya memahami ayat-ayat Al-Qur;an yang terkait dangan masalah praktek Kolusi dan Nepotisme dengan menggali penafsiran berbagai mufasir dalam berbagai karya tafsir. Hasil penelitian ini mufassir berpendapat bahwa tindakan Kolusi dan Nepotisme adalah wujud dari ketiadaan keadilan. Mereka berpendapat bahwa keadilan, kebajikan, ketaqwaan dan kebenaran adalah salah satu kesatuan yang tetap harus ditegakkan tidak boleh mengalahkan yang lainnya, meskipun pada akhirnya akan menimbulkan mudarat bagi dirinya, karena hak Allah SWT harus lebih diutamakan dari pada hak makhluk. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan dapat menjadi informasi pengetahuan, masukkan serta sumbangsih pemikiran bagi mahasiswa, serta semua pihak yang membutuhkan dilingkungan

Berbakti Kepada Orang Tua Menurut Penafsiran Hamka dalam Tafsir Al-Azhar dan Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Tafsir An-Nur (Study Komparatif)

Hidayah merupakan suatu hal yang sangat urgen dan sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat, terutama kehidupan masyarakat seperti sekarang ini. Manusia mulai tenggelam dalam urusan dunia dengan segala kemajuan dan kemewahannya, sehingga tidak dapat membedakan untuk memilih dan memilah mana yang seharusnya dan mana yang tidak seharusnya. Oleh karena itu, manusia harus dapat menentukan jalan yang benar (shirat al mustaqim) di antara jalan yang ada dalam mengarungi kehidupan yang penuh persoalan dan cobaan. Tema sentral kajian ini adalah BERBAKTI KEPADA ORANG TUA MENURUT AL-QUR'AN (STUDY KOMPARATIF PEMIKIRAN PENAFSIRAN HAMKA DALAM TAFSIR AL-AZHAR DAN HASBI ASH-SHIDDIEYQ DALAM TAFSIR AN-NUR), penulis melihat bahwa kedua tokoh penafsir tersebut merupakan penulis kitab tafsir yang beredaksi indah, menarik dan mudah dipahami. Birrul walidain terdiri dari kata birru dan al-walidain. Birru atau al-birru artinya kebajikan. Al-walidain artinya dua orang tua atau ibu bapak. Jadi birrul walidain adalah berbuat kebajikan kepada kedua orang tua. Semakna dengan birrul walladain, AL-QUR'AN Al-Karim menggunakan istilah ihsan (wa bi al-walidaian ihsana). Berbakti menurut kamus bahasa Indonesia adalah berbuat baik kepada seseorang baik itu sahabat atau orang tua, Anak harus berbakti kepada orang tuanya, itu adalah hukumnya wajib, dan bila tidak berarti ia berdosa karena melanggar kewajiban tersebut. Di dalam AL-QUR'AN telah banyak diterangkan mengenai hal berbakti terhadap orang tua, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Walaupun tidak diperintah untuk mengasihi anak, otomatis orang tua mengasihi anaknya. Seorang ayah, apalagi seorang ibu, amat sayang kepada anaknya. Mereka sanggup bekerja bersusah payah siang dan malam membanting tulang, mencurahkan tenaga dan fikirannya. Semua itu demi kemaslahatan dan masa depan anaknya. Dan Islam sangat menjunjung tinggi perbuatan bakti kepada orang tua. Akan tetapi, berbakti kepada orang tua ada batasnya, yakni selama perbuatan bakti tersebut tidak melanggar ketentuan yang telah di gariskan allah SWT, baik yang telah dijelaskan dalam AL-QUR'AN dan hadist. Dalam merumuskan hasil penelitian skripsi ini, jenis penelitian yang ditempuh adalah "Library Research" (kepustakaan) yaitu dengan mengumpas secara konseptual dengan cara menulis, mengedit dan menyajikan data-data serta menganalisisnya. Dalam arti di semua sumber datanya berasal dari bahan-bahan tertulis yang telah berkaitan dengan topik yang telah dibahas dan adanya pengumpulan data ini bersumber dari data primer yaitu Tafsir Al-Azhar karya Prof.Dr. Hamka dan Tafsir An-Nur karya Hasbi Ash-Shiddieyq. Dalam metode analisis ini penulis menggunakan metode deskriptif yaitu cara penulisan dengan mengutamakan pengamatan terhadap gejala-gejala, peristiwa dan kondisi aktual di masa sekarang dan metode komparatif yaitu menafsirkan teks-teks ayat AL-QUR'AN atau surat tertentu dengan cara membandingkan ayat dengan ayat-ayat, dengan hadits atau pendapat para ulama tafsir dari segi perbedaan. Oleh karena itu telah mempunyai konteks pembicaraan yang berbeda-beda sehingga ada perbedaan dalam metode dan persamaan dalam menafsirkan.

Selasa, 18 Februari 2014

Korelasi Antara Motivasi Beragama dan Kecerdasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pada Santri

Seorang manusia memiliki motivasi yang berbeda untuk kebutuhan beragama dan memaknai kebutuhan beragama mereka. Dan perbedaan motivasi ini pula membuat tingkat motivasi beragama santri satu dengan santri yang lain berbeda. Sehingga motivasi yang berbeda ini yang membuat tingkat kecerdasan emosi dan spiritual mereka berbeda pula. Maka jelas bahwa motivasi mempunyai andil untuk mengembangkan kecerdasan emosi dan spiritual dalam diri seseorang. Oleh karena itu, penulis ingin melakukan penelitian tentang hubungan atau korelasi antara motivasi beragama dan kecerdasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pada Santri di pondok pesantren Salafiyah Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati. ESQ adalah ilmu pengetahuan yang menjabarkan tentang fenomena pada manusia, di sini bertujuan agar manusia memiliki mata hati yang mampu melihat kaca mata dunia. Sehingga manusia dapat hidup dengan perasaan aman, yang mana merupakan bagian di dalam ajaran Islam, yang berupa ajaran akhlak moral atau akal budi. Motivasi atau dorongan beragama ialah merupakan dorongan psikis yang mempunyai landasan ilmiah dalam watak kejadian manusia. Dalam relung jiwanya manusia merasakan adanya dorongan untuk mencari dan memikirkan sang penciptanya dan pencipta alam semesta, dorongan untuk menyembahnya, meminta pertolongan kepadanya setiap kali ia ditimpa malapetaka dan bencana. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan positif antara motivasi beragama dengan kecerdasan ESQ pada Santri di Pondok Pesantren Salafiyah Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah motivasi Beragama sedangkan kecerdasan ESQ sebagai variable terikat. Populasi dalam penelitian ini adalah para Santriwan dan Santriwati di pondok pesantren Salafiyah Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati yang keseluruhannya 272. 

Teknik pengambilan Sampel dalam penelitian ini menggunakan proporsional stratified radom sampling dengan sampel penelitian 38 responden. Uji hipotesis dengan menggunakan analisis product moment dengan bantuan komputer SPSS Windows version 14. Sebelum melakukan uji hipotesis, terlebih dahulu melakukan uji asumsi yaitu uji normalitas dan uji linieritas. Dan hasil uji hipotesis penelitian dari analisis product moment didapatkan r_hitung sebesar 0.670, dan mempunyai Nilai signifikansi sebesar 0.00 lebih kecil dari 0.05 sehingga motivasi beragama mempunyai hubungan yang sangat signifikansi dengan kecerdasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient). Sehingga kesimpulan penelitian yaitu ada korelasi atau hubungan antara motivasi beragama dengan kecerdasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pada Santri di pondok pesantren Salafiyah Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati.

Hukuman Mati Orang Murtad dalam Hadits (Aplikasi Hermeneutika Hadits Fazlur Rahman)

Murtad atau keluar dari agama Islam ke agama lain, sebagai suatu tindak pidana, secara konseptual masih banyak menimbulkan kontroversi, hal ini berkaitan dengan sanksi bagi pelakunya yaitu hukuman mati. Perihal hukuman mati orang murtad didasarkan pada hadits Nabi Saw yang berbunyi: Barangsiapa yang berpindah agama, maka bunuhlah dia . Berdasarkan hadits ini ulama fiqih klasik (empat imam mazhab) berpendapat bahwa hukuman yang pantas diberikan kepada orang murtad adalah pidana mati, yang sebelumnya telah diminta untuk bertaubat untuk kembali kepada agama Islam selama tiga hari. Hadits-hadits tentang murtad, apabila dipahami secara tekstual akan menimbulkan pemahaman bahwa seorang yang mengganti agamanya atau keluar dari agama Islam lalu masuk ke agama selain Islam, maka orang tersebut harus dibunuh. Kenyataan ini jelas menimbulkan keresahan jika dikaitkan dengan kehidupan berbangsa dan beragama. Apakah benar hukuman murtad seperti itu?. Agama Islam pada dasarnya menghormati agama lain dan juga tidak ada paksaan untuk memeluknya, sehingga sebagian kalangan menganggap bahwa hukuman mati orang murtad bertentangan terhadap prinsip dasar agama Islam. Penelitian ini bertujuan untuk reinterpretasi terhadap hadits-hadits tentang murtad, sehingga akan diperoleh pemahaman hadits yang kontekstual sesuai dengan perkembangan zaman kemudian dapat diaplikasikan dan diadaptasikan dalam latar sosiologis dewasa ini. 

Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dan bersifat deskriptif analitik dengan menggunakan metode pendekatan hermeneutika hadits Fazlur Rahman yakni memahami hadits harus mengetahui konteks pada saat hadits itu turun, baik mengenai asbab al-wurud-nya maupun kultur ataupun setting sosial, dan juga dipahami sesuai dengan semangat al-Qur an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadits-hadits yang berkaitan dengan murtad, nampak bahwa peristiwa riddah terjadi pada masa-masa perang dengan orang-orang kafir. Sering dijumpai, mereka itu mengadakan konspirasi dengan orang-orang kafir untuk memerangi orang Islam. Dengan demikian, sesungguhnya pemberlakuan hukuman mati itu lebih disebabkan karena konspirasinya dengan orang kafir, bukan semata-mata karena keluarnya dari agama Islam. Al-Qur an membahas hukuman orang-orang murtad dalam kerangka kebebasan yang bertanggung jawab. Hadits-hadits di atas juga harus dipahami dalam kerangka itu. Dalam kerangka kebebasan yang bertanggung jawab, hukuman memang harus ada bagi pelaku riddah. Namun demikian, bentuk hukuman harus disesuaikan dengan konteksnya. Hukuman mati hanya diberlakukan jika kemurtadan seorang tersebut menimbulkan bahaya yang besar bagi eksistensi agama Islam dan kaum muslimin yakni peperangan, merebaknya pengkhianatan, mata-mata, dan penyusupan. Dalam kondisi damai yang berlaku adalah hukuman perdata sebagai akibat wajar dari suatu tindakan yang menyalahi hukum, sebagaimana tindakan lain yang menyalahi hukum.

Ritual Dzikir Setelah Shalat Bagi Jamaah Asy-Syahadatain (Studi Kasus di

Peranan dzikir dan do a dalam kehidupan umat beragama Islam sangat penting. Berdzikir dan berdo a dimasudkan sebagai sarana berkomunikasi dengan Allah SWT. Berdzikir tidaklah melafalkan wirid-wirid. Demikian juga dengan berdo a, tidaklah sekedar mengaminkan do a yang dibaca oleh imam. Karena esensi dzikir dan do a adalah menghayati apa yang kita ucapkan dan apa yang kita hajati. Tehnik dzikir yang dilakukan oleh Jamaah Asy Syahadatain pada dasarnya merupakan bentuk ekspresi keberagamaan. Ekspresi tersebut mempunyai nilai filosofis yang menyertainya, karena ia merupakan bentuk komunikasi yang sempurna antara hamba dan Tuhan-Nya. Penulis dalam menyusun skripsi ini mencoba memaparkan bagimana makna dan nilai filosofis aqidah dari ritual dzikir bagi Jamaah Asy Syahadatain dan bagaimana pemikiranya yang berkaitan dengan tasawuf dan pemahaman lokal. Penelitian ini berusaha untuk mengetahui makna dan nilai filosofis aqidah dari ritual dzikir yang dilakukukan oleh Jamaah Asy-syahadatain, serta mengetahui formasi pemikiran yang menjadi rujukan dalam ritual yang dilakukan oleh jamaah Asy-syahadatain dengan pemahaman tasawuf dan pemahaman lokal. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengangkat judul skripsi tentang Ritual Dzikir Setelah Shalat Bagi Jamaah Asy Syahadatain (Studi Kasus di Desa Danawarih Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal). 

Penulis dalam membahas masalah ini menggunakan metode kualitatif dengan pedekatan deskriptif dan fenomenologis. Yakni metode yang digunakan untuk mendeskripsikan, menginterprestasikan apa yang ada, baik mengenai sejarah, kejadian atau peristiwa dalam situasi tertentu yang nampak. Secara umum ritual dan ekspresi dzikir dalam Islam dapat dibedakan menjadi dua, yaitu ritual yang mempunyai dalil yang tegas, eksplisit dalam A1-Qur an dan Sunnah, dan ritual yang tidak memiliki dalil, baik dalam Al-Qur an maupun dalam Sunnah. Salah satu contoh ritual bentuk pertama adalah shalat, sedangkan contoh ritual kedua adalah marhabaan (muludan) dan tahlil yang dilakukan keluarga ketika salah satu anggota keluarganya menunaikan ibadah haji atau meninggal dunia. Ritual dzikir tersebut tentunya memiliki makna yang positif dalam upaya meningkatkan kredibilitas dan kualitas bagi Jamaah Asy Syahadatain. Dengan membaca dzikir setelah shalat intinya adalah memohon do a dan pasrah terhadap segala kehendak Allah dengan disertai keyakinan bahwa Allah akan memberi ketenangan jiwa dan dapat menghindarkan mereka dari kegoncangan jiwa. Kaitanya dengan tasawuf adalah merupakan implementasi dari ajaran tasawuf salaf yang memiliki arah tujuan ma rifat billah. Dari sini timbul pemikiran dari peneliti, bahwa apabila dilihat dari aspek ibadah shalat tidak ada masalah dan bisa diikuti oleh seluruh umat islam.

Pengaruh Kehadiran Kyai Ma Sum Terhadap Pengalaman Spiritual Santri Putra pada Saat Membaca Nadhom Al-Asma Al-Husna

Salah satu dimensi pendidikan dalam agama islam adalah pengalaman spiritual (spiritual experience) sebagai akibat langsung dari keyakinanya akan yang gaib, yang disembahnya. Dalam ilmu tasawuf, pengalaman spiritual itu bisa didapat dengan melalui banyak cara, diantaranya berdzikir kepada Allah SWT, taqarrub pada Allah SWT dan ada juga melalui pembacaan nama-nama Allah SWT. Yang sering kita sebut dengan bacaan al-Asma al-Husna. Pada hakikatnya manusia diciptakan oleh Allah SWT, hanya untuk menyembah kepada-Nya, bukan untuk menyembah barang-barang bermerek, wanita-wanita cantik, rumah besar, mobil mewah, jabatan tinggi dan sebagainya. Menyembah Allah SWT, berarti merasa tunduk, takut, syukur, cinta dan taat kepada Allah SWT. Jenis penelitian ini yang digunakan adalah field research (penelitian lapangan) dan sifatnya Diskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang digunakan untuk memecahkan masalah atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi dengan ditempuh melalui langkah langkah pengumpulan data, klasifikasi dan analisis atau pengolahan data. 

Membuat kesimpulan dan laporan dengan tujuan utama untuk membuat penggambaran tentang suatu keadaan secara obyektif dari suatu diskripsi. Penelitian ini menggambarkan bagaimana pendapat santri tentang kyai Ma sum, pengalaman spiritual santri putra pada saat membaca nadhom al-Asma al-Husna dan peranan kehadiran kyai Ma sum dalam kegiatan pembacaan nadhom al-Asma al-Husna terhadap pengalaman spiritual santri putra tersebut dianalisis diskriptif. Penelitian diskriptif adalah suatu penelitian yang sekedar melukiskan atau menggambarkan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti. Dari hasil penelitian selama ini, banyak santri yang menjadi responden mengatakan, bahwasanya kyai Ma sum merupakan sosok kyai yang ramah-tamah, bersifat zuhud serta berkarismatik tinggi. Ada beberapa santri bisa merasakan pengalaman spiritual berupa, kenyamanan hati, ketenangan, keyakinan serta sampai meneteskan air mata waktu membaca nadhom al-Asma al-Husna. Itu semua bisa terjadi pada santri yang menjadi responden berjumalah 20 orang santri, dari 13 orang santri mengatakan kehadiran seorang kyai Ma sum bisa membimbing menuju serta kehadiranya bisa memengaruhi pada pengalaman spirtual santri putra, sedangkan yang 7 santri mengatakan, mereka bisa mengalami pengalaman spiritual bukan hanya karena kehadiran kyai Ma sum, melainkan pengaruh lafad-lafad yang dibaca waktu nadhoman, yaitu berupa lafad al-Asma al-Husna. Bisa ditarik kesimpulan bahwasanya kehadiran seorang kyai Ma sum memberi dampak yang siginifikan kepada santri yaitu bisa menjadikan santri menuju kepengalaman spiritual merasa (hening, nyaman, ketenangan, meneteskan air mata, kemantapan hati serta keyakinan yang kuat akan dzat Allah), meskipun ada sebagian santri yang mengalami pengalaman spiritual karena lafad al-Asma al-Husna. Sedangkan badal, meskipun posisi juga sebagai kyai, akan tetapi kurang memberi efek kepada santri menuju kepengalaman spiritual

The Concept Of Fitnah In sūrah Al-Baqarah Verse 191 And 217 (By Analysis Of Mohammed Arkoun s Semiotic)

This thesis explores the concept of fitnah which contained in sūrah al-Baqarah verse 191 and 217. Fitnah words in ordinary people interpreted as a falsehood or a false accusation. In Kamus Besar Bahasa Indonesia, fitnah means the words are meant to discredit someone (like tarnish the good name, honor harm others, and so on). Whereas the Arabic language to explain that the fitnah taken from the word fatana which originally meant burn gold to determine levels of quality . And in the Qur an, the word fitnah repeated no less than 30 times, and none of which contains the meaning of the kind described by the Kamus Besar Bahasa Indonesia. The purpose of this writing is to find the concept of fitnah which contained in Surah al-Baqarah verse 191 and 217, next is to determine the significance of this verse in social ethic dimension. This research which included in the category of data-based research or literature in the library so That this research which library research. Namely collect and analyzed data taken from Literatures; book, journal, newsletter, article, and the like. The writer Examined That Various Kinds of literature have relevance with fitnah which contained in sūrah al-Baqarah 191 and 217. To obtain the maximum results, the writer only focus the discussion on the meaning of fitnah contained in sūrah al-Baqarah verse 191 and 217 by using a semiotic analysis of Mohammed Arkoun.

From the research results can be seen that the fitnah contained in verse 191 الفتنة أشد من القتل it has the purpose or has meaning as, kufr, shirk to Allah, the persecution of Muslims, then from That fitnah which Greater danger of killings and expulsion was permitted by God . Because the torture inflicted more pain and it was terrible, and Because of this fitnah, God has allowed to fight, but if necessary, kill them, although in the Haram, In the second verse fitnah الفتنة أكبر من القتل has meaning as a test. Any act committed against the pagan Muslims (prevents people from Allah s way, blocking the entrance of the Grand Mosque, Hinder conduct of worship Such as Hajj and Umrah, disbelievers in Allah, to expel the Muslims from Mecca. All was done to test the faith of Muslims, in order to feel fear and doubt will come out of the religion of Islam so That Islam (apostate). Because of them that, it s fitnah to say a Greater sin than killings that has been done by Abdullah ibn Jahsyi in Haram month. And in terms of meaning fitnah based on the Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), and the public perception of Indonesia is not false, but it is true. Because of that understanding is one of the parole of fitnah.The significance of the both verse when studied in terms of aqidah is, God forbid apostasy, out of the religion of Islam and died in the disbelief. The second problem about infidelity, do not believe in Allah and His Messenger with deny or not deny. And the third is the problem of shirk is the belief in an object that has a particular strength or associating partners with Allah. And associated with the moral is, God forbid we do lies, envy, hasut, terror, persecution, and spread the word lie.

Kashef In Al-Qur an (Study Of Rashid Rida s Interpretation In Tafsīr Al-Manār)

Kashef in Sufism occupies a very central position; even it could be something distinctive. According to the Sufis, kashef is seeing the unseen and watching them firmly. Thus, they claim that if one is in the level of kashef, he may know the things in dark, hidden secrets and he is able to solve all the problems that are complicated. This is a high level or degree claimed by the Sufis. In practical, kashef has different experience. This is because kashef due to the method in gaining ma rifāt and getting the science of ladunni. That s why this method is still irrational and sometimes out of the common habit. Thus, this method is highly subjective and prone to be deflected from the appropriate direction of the Shari a. There are some differences among interpreters (mufassirūn) who interpret the God purpose in al-Qur an. One agreed with the concept of kashef, but some are rejected. One of the interpreters who rejected this concept is Muhammad Rashid Riḍā. The research questions in this thesis are how Rashid Riḍā interpreted the verses of kashef and the verses used as arguments by the Sufis in Tafsīr al-Manār as well as how the relevance of that interpretation in this era. This study basically figured the library research, it is all the sources are based on written material and deals with the problems the author discussed, and also the secondary data that support this research. From Rashid Riḍā s interpretation, it can be concluded that he has different views from Sufi scholars declared that kashef only be obtained by special people who close to God. Furthermore, Riḍā confirmed that kashef can also be obtained by anyone who makes an effort to get it. The difference between the Sufis and Rashid Riḍā is that according to the Sufi kashef is unveiling the heart, whereas according to Rashid Riḍā, kashef is the disclosure in mind. It can be searched its scientific causes and easily available for anyone who wants to have it. Not only a righteous man, non-Muslims can also have it.

Economic Justice In The Quran (A Study of Ḥassan Ḥanafi s Hermeneutical Method)

Since human applied his intelligence and labor to exploitation and utilization of natural sources which finally purposed to fulfill necessities in life, there was begun human economic activity. However, economic activity which is not in line with social welfare aim and prefers to individual interest will affect to inequity distribution of income, while, the Qur ān orders us to do justice in every field of human life including in economic. Unfortunately, we know that economic welfare is only in hand part of people while another part in suffering. Talking about economic justice is more interesting when we encounter to the figure of Ḥassan Ḥanafi. He is one of Islamic thinker who has a very serious concern to world civilization, especially Islamic civilization. Ḥanafi notes us that there are internal and external factors caused Muslim world getting backwardness. Stagnation in actualizing of Islamic inheritance is becoming internal factor, while, external factors are in the form of imperialism, Zionism, and capitalism. Muslim fronted to the threat of global imperialism, which he calls new crusade . In economic field, it is in the form of multi-national corporations. In cultural sector, it appears in the form of westernization. Those finally led him to produce a set of the Qur ān methodology that is closer to humanitarian problems such as poverty, oppression, and injustice. In this research, the writer tries to understand comprehensively Ḥanafi‟s interpretation about al-Māl in the Qur ān , in which the term is the most representative in talking economic problem. For analyzing Ḥanafi s interpretation, the writer uses descriptive-analytical method and reproductive hermeneutical method by considering to aspect of psychological empathy in which the writer stands to transposition himself into text creation process (works or ideas of the author) and author‟s feeling, and then describes full result of transposition. The result is a portrait of psychological condition in a certain historical context, and epistemological empathy in which the writer understands meaning of symbols generated by the author as close as possible dealing with the author‟s intense. The empathized here is mental world that underlying works, such as spirit of times, collective themes, and color of author‟s thought. All are aimed at actualization of historical texts to contemporary. Finally, the writer concludes that according Ḥassan Ḥanafi, economic justice can be realized through three steps, and they are: being of individual consciousness, being of social consciousness, and being of state consciousness.

Studi Kritis Hadist Larangan dan Kebolehan Perempuan Haid Memasuki Masjid

Dalam lintasan sejarah, menstruasi dianggap sebagai simbol yang sarat dengan makna dan mitos. Hampir setiap suku bangsa, agama, dan kepercayaan mempunyai konsep perlakuan khusus terhadapnya. Dalam tradisi Indonesia, menstruasi sering diistilahkan dengan datang bulan , sedang kotor , kedatangan tamu , bendera berkibar dan sebagainya. Istilah seperti ini juga dikenal dibelahan bumi yang lain. Bahkan masyarakat Amerika, Kanada dan Eropa pada umumnya masih menggunakan istilah yang berbau mistik, seperti: a crescen moon (bulan sabit), golden blood (darah emas), earth (tanah), snake (ular) dan sebagainya. Masyarakat Yahudi memandang menstruasi sebagai masalah yang prinsip, karena dalam ajaran Yahudi dan Kristen siklus menstruasi dianggap sebagai kutukan tuhan terhadap hawa yang dianggap menjadi penyebab terjadinya pelanggaran disurga. Sehingga, perempuan yahudi yang haid masakannya tidak dimakan dan tidak boleh berkumpul bersama keluarga di rumahnya. Ajaran islam tidak melarang melakukan kontak sosial dengan perempuan haid. Rasulullah menegaskan bahwa: segala sesuatu dibolehkan untuknya kecuali kemaluannya (farji), segala sesuatu boleh untuknya kecuali bersetubuh (jima ). Dapat dipahami bahwa islam berupaya mengikis tradisi dan masyarakat sebelumnya, yang memberikan beban berat terhadap perempuan haid. Meskipun islam telah menghapus semua mitos- mitos tentang haid, tapi perempuan menstruasi tetap mendapat perlakuan berbeda dengan perempuan normal . Dalam fiqh misalnya, perempuan menstruasi dilarang untuk melakukan beberapa ibadah yang mana telah dibakukan oleh ulama-ulama fiqh dalam berbagai kitab. Beberapa hal yang diharamkan bagi perempuan haid adalah shalat, sujud tilawah, menyentuh mushaf, memasuki masjid, thawaf, i tikāf, membaca alquran. Memasuki masjid adalah salah satu hal terlarang bagi perempuan haid yang menjadi ikhtilaf ulama. Dalam hal ini ulama terbagi menjadi tiga pendapat, pendapat pertama yang melarag perempuan haid memasuki masjid secara muthlak dan ini adalah pendapat madzab Maliki. Kedua, pendapat yang melarang melarang perempuan haid memasuki masjid dan membolehkan jika sekedar lewat, dan ini adalah pendapat Syafi i. Ketiga, pendapat yang membolehkan perempuan haid memasuki masjid dan ini adalah pendapat Zahiri. Kenyataan pelarangan atau pembolehan perempuan haid memasuki masjid tersebut menggunakan hadits sebagai dalil. Penting untuk kita melakukan penelitian yang berkaitan dengan hadits- hadits itu. Tahap pertama yang harus dilakukan adalah melakukan penelusuran atau pencarian pada kitab aslinya atau kitab induknya, dalam ilmu hadits disebut dengan takhrij hadits. Langkah selanjutnya adalah melakukan kritik sanad menggunakan acuan keṣaḥīḥ.an sanad yang disepakati oleh para ulama. Dalam menganalisis matan penulis menggunakan ilmu mukhtaliful hadits, karena hadits yang dikaji adalah matan- matan yang tampaknya bertentangan. Setelah melakukan penilitian, penulis menghimpun beberapa pendapat ulama dalam upaya menyelesaikan matan-matan hadits diatas yang tampaknya bertentangan, penulis berkesimpulan; 1. Hadits pertama yang menerangkan keharaman masjid bagi perempuan haid secara mutlak bekualitas ḍa īf, sehingga tidak bisa dipertentangkan dengan yang lain. Hadits kedua yang menerangkan tentang perintah agar perempuan haid menjauhi al mushalla bekualitas ṣaḥīḥ, hadits ketiga dan keempat adalah satu hadits yang tidak bisa dipisahkan. Matannya menjadi sedikit berbeda karena adanya periwayatan secara makna. 2. Makna al mushalla berbeda dengan masjid dan hukum-hukum yang berlaku bagi masjid tidak berlaku bagi al mushalla. Perintah agar perempuan haid menjauhi al mushalla(tempat shalat), berlaku ketika orang-orang muslim sedang melaksanakan shalat. Karena jika perempuan haid berada ditengah-tengah orang yang sedang melaksanakan shalat dan mereka tidak shalat, seolah-olah para perempuan haid itu tidak menghargai keadaan itu (orang-orang yang shalat). Jadi, selain waktu shalat perempuan haid tidak dilarang memasuki masjid. 3. Larangan perempuan haid memasuki masjid adalah untuk menghindari kekhawatiran menetesnya darah di masjid, jika kekhawatiran itu telah hilang secara umum perempuan haid tidak dilarang memasuki masjid

Pengaruh Budaya Konsumerisme Remaja Pekerja Pabrik Rokok Djarum Terhadap Kedisiplinan Shalat Fardhu

Masa remaja merupakan masa peralihan dan ketergantungan pada masa anak-anak ke masa dewasa, dan pada masa ini dituntut mandiri. Pendapat ini hampir sama dengan pernyataan Ottorank yang menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa perubahan yang drastis dari ketergantungan menjadi keadaan mandiri, bahkan masa remaja adalah masa di mana munculnya berbagai kebutuhan dan emosi serta tumbuhnya kekuatan dan kemampuan fisik yang lebih jelas dan daya fikir yang matang. Keberadaan remaja sekarang sudah masuk kecenderungan memiliki budaya konsumtif. Sehingga terpengaruh permainan pasar yang kemudian menjadi life style remaja. Life style seperti ini berakibat pada kacaunya manajemen terhadap kebutuhan, sehingga terjadinya konsumsi yang tidak wajar (melebihi kapasitas) dari kebutuhan. Konsumerisme perlu dibedakan dari konsumsi . Sejarah manusia menunjukan dengan sejarah konsumsinya (dan produksi). Seperti dari tangan telanjang dan menggunakan sendok garpu dalam mengonsumsi makanan. Konsumsi berkaitan dengan pemakaian barang/jasa untuk hidup layak berdasarkan konteks sosio-ekonomis-kultural tertentu. Ia menyangkut kelayakan yang survive. Sedangkan konsumerisme lebih merupakan sebagai sebuah ideologi global baru. Konsumerisme merupakan paham atau aliran atau ideologi di mana seseorang atau pun kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan. Karakter lain dari kehidupan masyarakat modernisasi dan global adalah juga ditandai dengan proses estetisasi kehidupan, yakni menguatnya kecenderungan hidup sebagai proses seni sehingga mengimplikasikan aktivitas konsumsi atas sebuah produk bukan lagi berorientasi pada fungsi, tetapi simbol yang berkaitan dengan identitas dan status. Keadaan seperti inilah yang menjadikan remaja sekarang inkonsisten dengan melalaikan kebutuhan spiritualnya, agama diremehkan dan keyakinan kepada Allah berkurang. Kebutuhan akan Allah kadang tidak terasa apabila jiwa mereka merasa dalam keadaan aman, tenteram dan tenang tetapi sebaliknya Allah sangat dibutuhkan apabila mereka dalam keadaan kegelisahan, karena menghadapi bahaya mengancam ketika ia takut gagal atau mungkin juga karena merasa berdosa. Setidaknya budaya konsumerisme telah menggerogoti jiwa penerus bangsa Indonesia. Dengan tatanan moral yang mengkhawatirkan atas dampak dari budaya konsumerisme. Moral atas rasa candu pada kebutuhan manipulatif gaya hidup. Sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam agama islam terutama dalam ibadah wajib (salat Maktubah) kurang menjadi daya tarik. Bahkan dalam penelitian ini banyak ditemukan para remaja pekerja pabrik rokok yang menyepelekan kewajiban sebagai pemeluk agama islam. Jika nasib penerus bangsa seperti ini dibiar maka kerusakan jiwa pada remaja sedikit demi sedikit akan mengakibatkan meningkatnya ketidaksejahteraan lahir dan batin

Pengaruh Perarakan Lilin dalam Ekaristi Bunda Maria Terhadap Umat Islam Desa

Setiap agama pasti mempunyai misi untuk menyebarkan agamanya masing-masing, dalam agama Islam penyebaran agamanya disebut dakwah atau Islamisasi sedangkan dalam agama Kristen disebut Misionaris. Perarakan Lilin merupakan tindakan atau prilaku atau upaya-upaya yang dilakukan pribadi atau kelompok dalam situasi sosial keagamaan yang mana perbuatan atau tindakan tersebut mempunyai tujuan untuk mengadakan perubahan atau bisa juga diartikan sebagai aspek prilaku manusia yang dapat diperhitungkan dari sudut keagamaan. Desa Panjang adalah salah satu Desa yang ada di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah yang mempunayi keberagaman. Setiap agama pasti mempuyai kegiatan (aksi) tersendiri. Dalam Agama Kristen Katolik dalam rangka Perarakan Lilin, aksi ini juga dapat dijadikan pendorong bagi umat muslim untuk dapat mengadakan aksi sosial seperti yang dilakukan gereja. Dengan adanya aksi tersebut di samping untuk penyebaran agama juga diharapkan agar kehidupan beragama dapat berjalan secara harmonis, akan tumbuh perasaan saling menghargai orang yang tidak seiman dan jauh dari hal-hal yang tidak diinginkan. Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana upaya-upaya atau metode yang di gunakan misionaris atau pihak gereja dalam penyebaran agamanya dan bagaimana respon masyarakat muslim dengan adanya Perarakan serta bagaimana dampak Perarakan terhadap masyarakat muslim. 

Metode dalam pembahasan skripsi ini adalah metode kualitatif, yaitu dengan metode pengumpulan data: observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode ini digunakan untuk mendapatkan informasi dari tokoh gereja yang ada di Desa Panjang Kecamatan Ambarawa untuk mengetahui pelaksanaan aksi tersebut, serta dari para tokoh muslim, masyarakat desa, aparat pemerintahan untuk mendapatkan respon masyarakat muslim. Sedangkan metode deskriptif menggunakan metode analisis data yaitu untuk menguraikan penelitian dan menggambarkan secara lengkap hasil dari penelitian tersebut. Hasil dari penelitian ini mendapatkan gambaran bahwa Perarakan lilin yang ada di kecamatan Ambarawa dilakukan dengan beberapa metode yaitu dengan aksi-aksi yang bersifat rutin dan melalui bantuan yang bersifat insidental. Sedangkan respon masyarakat muslim terhadap adanya Perarakan lili, rata-rata berpendapat bahwa upaya-upaya Perarakan lilin yang di lakukan terbilang bagus karena dengan adanya aksi tersebut bisa menambah hubungan yang baik antar penduduk meskipun berbeda agama, tetapi juga ada sebagian masyarakat yang merasa risih karena dengan adanya aksi tersebut akan mengurangi keyakinan umat muslim

The Circle Of Ideal Human Life In Al-Qur'an (Analitic Studies Of Al-Qur'an Surah Al-Isrā : 23-39)

The discourse on human and social environment surrounding them is never finished to be discussed. Human life that changes from age to age makes people become very large objects to be discussed from various aspects. That is why, God is in control of human behavior strictly and clearly in His book, Al-Qur'an. Al-Quran as a guidance for human beings did not escape from various mysteries that always should be assessed. Good knowledge about al-Qur'an is not only able to read it properly, but have to learn to understand the content of the verses of al-Quran well, too. With a good knowledge to purpose of al-Qur'an, human beings are expected to be able to live their lives well in this world until they died later. In order to achieve happiness, human beings must have to be guided by al-Qur'an. So, the questions addressed in this thesis are: (1). How does Surah Al-Isra : 23-39 give clues to the circle of ideal life? (2). How does the circle of ideal life make super society? To answer these two questions, the researcher uses library research. It means collecting data from the library then it is analyzed by the method of tafsīr taḥlīlī. Study of taḥlīlī in tafsīr taḥlīlī has two aspects. First, aspects of the beginner or general study, it contains the following aspects: the name of surah and the reason of naming surah, the number of verses, asbāb al-nuzūl, place and time of coming verses, munāsabāt (compatibility) between surah with another surah, or between verse with other verses, the virtue of surah, the purpose and other matters related to the surah. Second, aspects of the analysis, it is the basis in the tafsīr taḥlīlī. The aspects used by a researcher in his interpretation to al-Qur'an such as: linguistic, balaghah, literature, nahwu, aqidah, fiqh, morality, philosophy, historicity, missionary, scholarly, and other aspects that according to scholars, deserve to be studied and learned in the study of al-Qur'an. The results of this study are the existence of a circle to get an ideal life that is good relationship between human with his God. It means before doing anything should be based on faith and piety to God. After that, it is followed by good relationship between human with his neighbor. The closest is within the scope of the family, because the family is the first place for someone to learn something. If the relationship in the family is good, then it is continued with the good relations between human with the people surrounding him. After all these relationships nurtured properly, human beings should submit all things back to God in order to realize an ideal life, so that his life is always happy physically and spiritually. To create a strong community, it should be preceded by the strong relationships within each family. However, families must be supported by strong family members as well. Therefore, each individual is responsible for themselves to develop a good personality in their life so they can create a beautiful harmony in their community.

The Attitude Of Zuhud According To Hamka In Tafsir Al-Azhar

Every human wants to be happy in this world. Wants to feel safe, peaceful, and quiet. So many various things they do to achieve that happiness. However, their hard work to achieve it in vain because of their lack of knowing. Whereas, the key of the happiness is Zuhud. Many people has violate the meaning of Zuhud word. Because of their mindset that has been contaminated by a bitter history of Islam in the past. Thus they interpret Zuhud is an attitude that distance themselves from worldly things. Because according to them the world and its contents only as a barrier to them to draw closer to God. Actually not so. Here Hamka shows his interpratation that Zuhud is manifastation of faith. So, every body can be zāhid eventhougt he was a rich man. So that this research will focus on analyzing how Hamka‟s thought about Zuhud. Thus, the problem of this research, what is the meaning of Zuhud according to Tafsir Al-Azhār which was written by Hamka, and what is the attitude which appear to person who did Zuhud in Tafsir Al-Azhār. This research under the title The Attitude of Zuhud According to Hamka in Tafsir Al-Azhār is library research, by qualitative method, the researcher collect the data from several source which written by Hamka by thematic method which shows the verses of Zuhud, then analyze it by descriftive analitic of mysticism becouse Zuhud connected by mysticism. The conclution of this research is Zuhud according to Hamka is manifestation of faith. So that the richman can called by zāhid as long as his heart doesn‟t bound with the luxury of world. By this matter zāhid will not exessive in luxury of world, Qana‟ah, patient and Tawakkal in what have Allāh given him.

Ummatan Wasathan In The Light Of Qurān (Thematic Study)

Today we often listen or see many conflicts in our country, political conflict, and religion conflict or dominance struggle. The most sensitive thing that becomes trigger is religious factor. There were a lot of conflict was happen because its factor, and one thing that pitiful enough is fact that each of them who mixed up with conflict is same as Islamic people. Because of internal conflict in Islam and this situation continuous point less, arise image Islam as religion of violence, bar-bar and other negative view that absolutely contradictive with reality of Islam as religion of peace and blessing for all nature (Rahmatan lil Alamīn). In faces various kind of group and school and conflict that arise because of fanaticism to certain group, definitely we have to look back over Al-Qurān and Hadith as that modeled by first generation of Muslim while Prophet is still a live among them. Al-Qurān taught us to be the fairest society, or in al-Qurān terminology called by ummatan wasathan. The question to be answered in this research is What are the characteristics of Ummatan Wasathan . To answer that question, this study fully utilizes literature (library research) using thematic methods by collecting the verses in the Qurān which are talking about Ummatan Wasathan, and then arranges them as the order of chronology. From the research results can be seen that ummah wasath is moderate society that it position is in middle to be seen by all parties from all angle and became as witness and model and example to another and in same time they make Prophet Muhammad pbuh. as patron, model and witness and justification of their activity.

Maka Topo Wudo Ratu Kalinyamat dalam Tradisi Lisan Masyarakat Jepara

Keberadaan Islam telah membawa satu perubahan begitu dominan di masyarakat, dalam bidang teologi maupun bidang sosial dan kebudayaan. Penyebaran agama Islam tidak serta merta berkembang dengan sendirinya tanpa di dukung oleh tokoh-tokoh Islam yang begitu gigih dalam menyiarkan Islam. Sehingga Islam dikenal oleh masyarakat baik di perkotaan, pesisir, maupun di pedesaan. Kota Jepara adalah salah satu kerajaan yang mempunyai pelabuhan dengan teluk yang aman sehingga kota ini di jadikan jalan alternatif para penyiar agama Islam seperti para Walisongo untuk menyebarluaskan ajaran Islam di pulau jawa termasuk kota jepara. Banyak masalah yang muncul meliputi asal usul dan perkembangan awal Islam di kawasan ini. Masalah-masalah itu muncul tidak hanya karena perbedaan tentang apa yang dimaksud dengan Islam itu sendiri, tetapi yang lebih penting karena sedikitnya data yang memungkinkan kita merekonstruksi suatu sejarah yang bisa dipercaya. Islamisasi nusantara merupakan suatu proses yang bersifat evolusioner manakala Islam segera memperoleh konversi banyak penguasa pribumi, Islam kemudian berkembang ditingkat rakyat bawah, Islamisasi pelbagai kelompok etnis yang hidup di pelbagai wilayah yang berbeda benar-benar bukan merupakan bentuk konversi tunggal dan seragam, melainkan suatu proses panjang menuju kompromi yang lebih besar terhadap ekslusivitas Islam. Pemerintahan Ratu Kalinyamat adalah sejarah kepahlawanan seorang putri sebagai tokoh wanita abad ke-16 yang pernah memiliki armada laut yang luar biasa besarnya maka tak heran jika masa pemerintahannya daerah pesisir utara berada dalam kekuasaannya. Dalam konteks Topo Wudo merupakan bentuk ikhtiar untuk mewujudkan dendam Ratu Kalinyamat. Namun disisi lain dalam konteks sebagai seorang Ratu, tentu setiap perbuatan dalam kehidupannya memiliki makna yang tidak biasa. Topo wudo Ratu Kalinyamat merupakan kejujuran seorang hamba kepada Tuhannya tentang harapan dan permohonan. Telanjang berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Kuasa. Tentunya kalau wudo atau telanjang kita artikan secara wujud dhohir tanpa ada pakaian yang menempel di badan sedikitpun, tapi kalau dalam arti hakiki bisa saja seperti di atas adalah sebuah kejujuran sebagai manusia yang tidak ada daya apa-apa kecuali pemberian Sang Pencipta. Jadi penyerahan diri yang dilakukan Ratu Kalinyamat adalah sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan.